
Bukan sekadar pawai, becak listrik di Kota Probolinggo menjadi media edukasi yang menghidupkan semangat menyambut Ramadan.
Tagar.co – Di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Ramadan disambut dengan cara yang tak biasa. Puluhan becak listrik beriringan membawa murid TK Aisyiyah I dan Kelompok Bermain Qur’ani Aisyiyah (KBQA) I berkeliling kota dalam kegiatan Tarhib Ramadan 1447, Jumat (13/2/2026)—menghadirkan perpaduan edukasi, tradisi, dan keceriaan anak-anak.
Bukan sekadar pawai biasa, deretan becak listrik yang berjejer di halaman sekolah pagi itu menjadi pusat perhatian—sekaligus menyimpan cerita di balik kemeriahan menyambut bulan suci.
Baca juga: Berbagi Takjil di Jalan Raya: Antara Niat Baik dan Tanggung Jawab Sosial
Sebanyak 35 becak listrik disiapkan panitia untuk mengajak sekitar 200 murid berkeliling kota. Pilihan menggunakan becak listrik bukan tanpa alasan.
Selain menghadirkan pengalaman baru yang menyenangkan, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai media edukasi bagi anak-anak untuk mengenal transportasi tradisional yang telah beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa hidup. Anak-anak mengenakan busana putih bernuansa Ramadan, wajah mereka memancarkan antusiasme. Karena keterbatasan armada, kegiatan dibagi menjadi dua sesi.
Murid Kelompok A berangkat lebih dahulu, sementara peserta lain menunggu dengan mengisi salat duha berjemaah—sebuah kombinasi antara keceriaan dan pembiasaan ibadah.
Rute perjalanan dirancang menyusuri sejumlah ruas jalan utama Kota Probolinggo dan melintasi Alun-alun kota.

Sepanjang perjalanan, becak-becak listrik itu menjadi iring-iringan kecil yang mencuri perhatian warga. Tawa, nyanyian, dan celoteh anak-anak mengalun dari atas becak, menambah semarak pagi yang semula mendung.
Bagi para murid, pengalaman ini terasa istimewa. Muhammad Edsel Yuri Alvaro tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat ditanya gurunya.
“Seru sekali, Bu. Bisa jalan-jalan naik becak listrik. Rasanya pengin naik lagi,” ujarnya polos.
Di balik keceriaan itu, para guru berharap pesan Ramadan dapat tertanam sejak dini: menyambut bulan suci dengan hati gembira sekaligus kesiapan beribadah.
Apresiasi juga datang dari wali murid, Winda Fitrianingsih. Ia menilai konsep Tarhib Ramadan kali ini kreatif dan berkesan.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menyenangkan, tetapi juga edukatif karena anak-anak diajak mengenal becak sebagai transportasi tradisional yang dimodifikasi secara modern. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengantar emosional bagi anak-anak bahwa Ramadan adalah bulan mulia yang layak disambut dengan suka cita.
Kegiatan mungkin telah usai, tetapi jejak “becak Ramadan” itu masih tertinggal—bukan hanya di jalanan Kota Probolinggo, melainkan juga di ingatan anak-anak yang belajar bahwa menyambut Ramadan bisa dilakukan dengan cara yang hangat, kreatif, dan bermakna. (#)
Jurnalis Wike Widiawati | Penyunting Mohammad Nurfatoni












