Feature

Gempa Bumi Rusak Puluhan Rumah di Pacitan, Satu Warga Meninggal

95
×

Gempa Bumi Rusak Puluhan Rumah di Pacitan, Satu Warga Meninggal

Sebarkan artikel ini
Kondisi rumah warga terdampak gempa bumi atas nama B. Madijanto di RT 01 RW 03, Dusun Tenggar, Desa Plumbungan, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Rumah mengalami kerusakan akibat guncangan gempa tektonik.

Gempa bumi tektonik magnitudo 6,2 yang mengguncang Pacitan Jumat dini hari menyebabkan puluhan rumah warga rusak dan satu orang meninggal dunia. BPBD masih melakukan asesmen dampak di sejumlah kecamatan.

Tagar.co — Pacitan. Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2/2026) dini hari. Gempa terjadi saat sebagian besar warga tengah terlelap, sehingga guncangan kuat yang datang mendadak memicu kepanikan. Warga pun berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa terjadi pada pukul 01.06.10 WIB. Berdasarkan hasil analisis terkini, episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,98 derajat Lintang Selatan dan 111,18 derajat Bujur Timur, atau sekitar 89 kilometer tenggara Kota Pacitan.

Baca juga: Gempa di Pacitan Terasa hingga Yogyakarta

Gempa tersebut memiliki kedalaman hiposenter 58 kilometer. Dengan karakteristik itu, BMKG mengategorikan peristiwa ini sebagai gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng di zona selatan Pulau Jawa, kawasan yang dikenal aktif secara seismik.

Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bertipe pergerakan naik (thrust fault). Mekanisme ini lazim terjadi pada pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa.

Baca Juga:  AI Melaju Cepat, Literasi Terseok: Risiko Baru di Era Digital

BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hasil pemodelan menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan pada kolom air laut yang dapat memicu gelombang tsunami ke wilayah pesisir.

Guncangan gempa dirasakan di sejumlah daerah dengan intensitas berbeda-beda. Di Pacitan, Bantul, dan Sleman, intensitas mencapai skala IV MMI, yang berarti gempa dirasakan banyak orang di dalam rumah dan menyebabkan benda-benda bergoyang cukup kuat.

Sementara itu, wilayah Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, dan Madiun merasakan guncangan pada skala III MMI.

Adapun di Tuban dan Jepara, gempa dirasakan pada skala II MMI. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh sebagian orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang.

Hingga pukul 01.35 WIB, pemantauan BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan yang signifikan. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan bermagnitudo lebih kecil.

Di sisi penanganan darurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan segera melakukan asesmen cepat pascagempa. Pendataan awal mencatat puluhan rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat guncangan.

Baca Juga:  Teras Roboh, Solidaritas Tumbuh: MDMC dan Lazismu Bangun Kembali Rumah Warga Pacitan

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan kerusakan tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain Pacitan, Pringkuku, Kebonagung, Arjosari, Nawangan, Ngadirojo, dan Bandar. Selain rumah warga, satu bangunan sekolah juga dilaporkan terdampak.

“Kami telah menerima laporan kerusakan rumah warga di berbagai desa dan kelurahan. Tim BPBD bersama aparat desa masih terus melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan tingkat kerusakan secara detail,” ujar Erwin saat dikonfirmasi, Jumat pagi.

BPBD mencatat sejumlah rumah mengalami retak pada dinding, runtuhnya sebagian plester, serta pergeseran genteng. Di Kecamatan Sudimoro, bangunan SMP Negeri 4 Sembowo dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian dinding dan atap.

Selain kerusakan bangunan, gempa ini juga mengakibatkan satu warga meninggal dunia. Korban diketahui bernama Joko Santoso (53), warga Dusun Krajan Kidul, Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo.

Erwin menjelaskan, korban sempat berada di luar rumah usai gempa dan berbincang dengan tetangganya. “Menurut keterangan saksi, korban tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri. Korban kemudian dibawa ke puskesmas terdekat, namun dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

BPBD belum dapat memastikan penyebab medis pasti meninggalnya korban karena riwayat penyakit sebelumnya tidak diketahui. Meski demikian, peristiwa tersebut tetap dicatat sebagai dampak tidak langsung dari kejadian gempa bumi.

Baca Juga:  Gempa Guncang Pacitan, Magnitudo 6,4

Untuk penanganan pascagempa, BPBD Pacitan telah menginventarisasi sejumlah kebutuhan mendesak, di antaranya bahan pangan, terpal, genset, kasur lipat, lampu portabel, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan selimut.

“Fokus kami saat ini adalah memastikan keselamatan warga, membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta mencegah risiko lanjutan apabila terjadi gempa susulan,” ujar Erwin.

BPBD juga mengimbau warga yang rumahnya mengalami kerusakan agar sementara waktu menghindari bangunan yang dinilai tidak aman. Masyarakat diminta segera melapor kepada aparat desa atau petugas BPBD jika menemukan kerusakan baru.

Selain itu, warga diingatkan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Erwin menegaskan, informasi resmi terkait gempa hanya bersumber dari BMKG dan instansi pemerintah yang berwenang.

Hingga Jumat siang, proses pendataan dan penanganan dampak gempa di Kabupaten Pacitan masih terus berlangsung. BPBD memastikan akan memberikan pembaruan informasi secara berkala seiring perkembangan situasi dan hasil asesmen lanjutan di lapangan. (#)

Jurnalis Edi Susanto | Penyuting Mohammad Nurfatoni