Feature

Kartu Ajaib untuk Menembus Pemahaman Kata Konotasi

56
×

Kartu Ajaib untuk Menembus Pemahaman Kata Konotasi

Sebarkan artikel ini
Kisah inspiratif Zahra Salsabila, Guru Pembimbing Khusus yang menciptakan media flash card inovatif berbasis storytelling untuk membantu siswi berkebutuhan khusus memahami makna konotasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Siswa mencoba menjelaskan makna kata konotasi dari kartu yang ia tunjuk. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kisah inspiratif Zahra Salsabila, Guru Pembimbing Khusus yang menciptakan media flash card inovatif berbasis story telling untuk membantu siswa memahami makna konotasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Tagar.co — Langkah kaki Zahra Salsabila terdengar mantap menyusuri koridor SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik pada Kamis, 29 Januari 2026. Di pundak mahasiswa semester 10 Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini ada tanggung jawab besar sebagai Guru Pembimbing Khusus (GPK). Ia menjadi jembatan bagi Chindaga Lalitta Dhanastri, siswi kelas V yang akrab dengan sapaan Oi, untuk memahami dunia yang sering kali terasa abstrak.

Bagi anak berkebutuhan khusus seperti Oi, memahami pelajaran Bahasa Indonesia, terutama materi kata konotasi atau kiasan, bukanlah perkara mudah. Otaknya bekerja secara literal; apa yang ia baca, itulah yang ia bayangkan. Tantangan ini memicu kreativitas Salsa. Ia tidak ingin Oi terjebak dalam kebingungan saat berhadapan dengan diksi-diksi yang bermakna ganda.

“Saya mencari cara yang spesial agar Oi paham,” ujar Salsa dengan nada penuh semangat.

Strateginya adalah menciptakan media ajar berbentuk flash card yang dipadukan dengan teknik storytelling. Di sela-sela waktu istirahat atau saat mendampingi Oi, jemari Salsa lincah menari di atas layar gawai. Ia menggunakan aplikasi Canva untuk merampungkan desain 12 animasi yang merepresentasikan berbagai kata kiasan sesuai modul ajar.

Baca Juga:  Mugeb Primary School Jadi Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan KKA

Salsa sadar betul, anak dengan kebutuhan khusus sering kali mengalami hambatan visualisasi. Ketika Oi pertama kali mendengar istilah “kambing hitam,” imajinasinya langsung mencari sosok hewan ternak berwarna gelap. “Mana kambing hitamnya? Kenapa namanya kambing hitam?” tanya Oi dengan raut wajah bingung. Di sinilah Salsa masuk dengan narasi yang menggugah emosi.

Baca Juga: Mugeb Primary School Sambut Hangat Menu Makan Bergizi Gratis

Kisah inspiratif Zahra Salsabila, Guru Pendidik Khusus yang menciptakan media flash card inovatif berbasis storytelling untuk membantu siswi berkebutuhan khusus memahami makna konotasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Flash card yang Salsa bikin untuk membantu Oi memahami makna kata konotasi. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Logika Gambar yang Menghidupkan Kata

Salsa kemudian menunjukkan sebuah kartu bergambar orang yang tampak sedih karena ditunjuk secara sepihak. Ia mulai bercerita. “Bayangkan ada temanmu kehilangan uang Rp100 ribu. Jumlahnya banyak, kan? Lalu ada orang mencurigai si X dan menuduhnya mengambil uang itu, padahal dia tidak melakukannya. Itulah yang namanya kambing hitam; orang yang tidak bersalah tetapi dituduh bersalah,” jelas Salsa dengan lembut.

Seketika, binar mata Oi berubah. Ia langsung menangkap emosi dari gambar tersebut. Melalui pendekatan naratif ini, Oi tidak lagi mencari kambing secara fisik, melainkan memahami konsep ketidakadilan. Namun, tidak semua kata kiasan mudah Salsa ajarkan. Istilah “angkat topi” menjadi tantangan terberat karena perbedaan budaya.

Baca Juga:  Dari Jalan Sehat hingga Bekam Gratis, Dakwah Sosial PRM Tritunggal Menguatkan Umat

“Ada teman tampil di atas panggung. Penonton kagum lalu mengangkat topi sebagai bentuk penghormatan,” terang Salsa kepada Oi. Sayangnya, Oi malah memberikan respons yang menggelitik. “Kenapa dilepas topinya? Tidak boleh pakai topi? Gerah, ya?” tanya Oi polos. Salsa menyadari bahwa budaya menghormati dengan mengangkat topi memang jarang ditemukan dalam keseharian masyarakat Indonesia, sehingga Oi memerlukan waktu lebih lama untuk mencernanya.

Interaksi dinamis ini terus berlanjut pada istilah-istilah lain. Saat membahas “panjang tangan,” Salsa menunjukkan kartu bergambar seseorang berbaju garis hitam putih yang membawa barang secara sembunyi-sembunyi. “Ini gambar apa?” tanya Salsa.

Oi dengan sigap menjawab, “Pencuri.” Salsa kemudian mengonfirmasi, “Ya, ia tangannya panjang karena suka mengambil barang orang lain. Itulah arti panjang tangan.”

Baca Juga: Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

Kisah inspiratif Zahra Salsabila, Guru Pembimbing Khusus yang menciptakan media flash card inovatif berbasis storytelling untuk membantu siswi berkebutuhan khusus memahami makna konotasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Zahra Salsabila mengajak Oi menebak kartu berdasarkan kata konotasi yang ia sebutkan. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Senyum Oi dan Buah Manis Kesabaran

Metode flash card buatan Salsa ini terbukti efektif mengurai kekakuan bahasa. Ketika membahas “keras kepala,” Oi sempat memegang kepalanya sendiri sambil bergumam bahwa kepalanya memang keras.

Salsa segera meluruskan, maknanya adalah seseorang yang sulit menerima nasihat. Begitu pula dengan “gelap mata,” yang berarti bertindak tergesa-gesa tanpa berpikir panjang hingga berujung penyesalan, bukan berarti kehilangan penglihatan secara fisik.

Baca Juga:  Desir Pesisir Bandar Grisse Antar Siswa Spemdalas Ukir Prestasi Nasional

Ujian kecil Salsa berikan saat menanyakan makna “kutu buku.” Dengan cekatan, Oi menunjuk kartu yang tepat.

“Artinya apa?” tanya Salsa lagi. “Suka membaca buku,” jawab Oi penuh percaya diri.

Keberhasilan ini menjadi oase bagi Salsa yang telah berjuang menyusun media tersebut secara mandiri. Perpaduan antara teknologi digital Canva dan ketulusan hati seorang pendidik membuahkan hasil yang nyata.

Kini, setiap sesi belajar Bahasa Indonesia menjadi momen yang Oi tunggu-tunggu. Kehadiran visual yang jenaka dan cerita yang relevan dengan dunianya membuat materi yang rumit menjadi lebih sederhana. “Alhamdulillah, Oi sekarang sudah mulai hafal dan paham,” imbuh Salsa dengan senyum lega.

Semangat Oi pun kian membara. Saat ditanya mengenai perasaannya belajar menggunakan kartu buatan Salsa, siswi kelas V ini menjawab dengan ceria, “Suka karena ada gambarnya!”

Bagi Salsa, kebahagiaan Oi adalah validasi terbaik atas inovasi yang ia kembangkan. Ia membuktikan, keterbatasan komunikasi bukan penghalang bagi ilmu pengetahuan, asalkan ada kreativitas dan kasih sayang yang mendampinginya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni