Feature

Sembuh melalui Iman: Terapi Islam Menjaga Kesehatan Mental

63
×

Sembuh melalui Iman: Terapi Islam Menjaga Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini
Wali Murid Mugeb menemukan ruang aman untuk sehat mental melalui pendekatan spiritualitas Islam, memperkuat tauhid, ibadah bermakna, serta membangun harmoni sosial yang menenangkan jiwa.
Jayaning Sila Astuti, M.Psi. menjelaskan pendekatan spiritualitas Islam untuk kesehatan mental. (Tagar.co/Nur Hakiky)

Wali Murid Mugeb menemukan ruang aman untuk sehat mental melalui pendekatan spiritualitas Islam, memperkuat tauhid, ibadah bermakna, serta membangun harmoni sosial yang menenangkan jiwa.

Tagar.co — Sejumlah wali siswa duduk lesehan beralaskan karpet merah di Averroes Hall SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), Selasa pagi, 20 Januari 2026. Acara bertajuk Halaqah Ummah ini merupakan inisiasi SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik bersama Ikatan Wali Murid (Ikwam).

Di ruangan itu, para ibu tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban hadir. Mereka datang merangkul beban pikiran masing-masing, mencari jawaban atas keresahan batin yang sering kali tersembunyi di balik senyum keseharian.

Proses penyembuhan atau healing sering kali orang anggap sebagai perjalanan mahal ke tempat wisata. Namun, di forum ini, para ibu menyadari, pulih justru bermula dari kebersamaan yang sederhana. Mereka saling mendengar, menciptakan sebuah ekosistem pendukung yang kuat bagi kesehatan mental perempuan di tengah gempuran stres modern.

Jayaning Sila Astuti, M.Psi., seorang psikolog yang menjadi narasumber utama, membuka diskusi dengan nada menyejukkan. Ia menegaskan, dalam Islam, kesehatan jiwa bukan sekadar ketiadaan gangguan mental, melainkan integrasi harmonis antara spiritualitas, hubungan sosial, dan kondisi biologis yang terjaga.

“Kesehatan jiwa dalam Islam mencakup sisi spiritualitas yang kuat. Hal ini terlihat dari adanya keimanan kepada Allah, konsistensi dalam beribadah, dan kemampuan menerima takdir yang telah Dia gariskan,” ujar Jay, sapaan akrabnya, di hadapan para peserta yang menyimak dengan saksama.

Membangun Fondasi Spiritual

Jay menjelaskan, indikasi jiwa yang sehat bermula dari kedekatan makhluk dengan Sang Pencipta. “Seorang individu yang sehat mentalnya akan selalu merasakan pengawasan Allah dalam setiap langkah. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal dan menghiasi lisan mereka dengan zikir yang menenangkan hati,” ujar Dosen Universitas Trunodjoyo Madura itu.

Namun, kata Jay, Islam tidak berhenti pada hubungan vertikal semata. Sisi sosial memegang peranan vital dalam menjaga kewarasan. Jay menekankan bahwa cinta kepada orang tua, anak, dan pasangan adalah manifestasi dari jiwa yang stabil. Orang yang sehat jiwanya akan suka membantu sesama dan memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran.

“Seseorang yang memiliki jiwa sehat pasti menjauhi perilaku yang menyakiti manusia lain. Mereka menghindari bohong, menipu, mencuri, hingga fitnah dan iri dengki. Mereka jujur, suka bekerja, dan mampu memikul tanggung jawab sosial dengan baik,” tambah Jay. Hal ini menunjukkan, etika sosial cermin dari kejernihan batin seseorang.

Selain spiritual dan sosial, kata Jay, Islam juga memperhatikan sisi biologis. Tubuh yang terhindar dari penyakit dan cacat fisik menjadi modal penting. “Namun, yang lebih utama adalah kesadaran individu untuk menjaga kesehatan tubuh tersebut. Islam melarang seseorang membebani diri dengan tugas yang melampaui batas kemampuannya,” ungkap Alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tersebut.

Baca Juga:  Enam Guru Mugeb Lolos Wardah Inspiring Teacher Gen 8

Lebih lanjut ia menekankan, konsep Islam mampu merealisasikan kesehatan jiwa karena ditunjang oleh tiga metode utama. Metode pertama adalah memperkuat sisi spiritualitas dengan menanamkan iman dan tauhid. Orang yang benar-benar beriman tidak akan merasa sendirian. Mereka yakin bahwa Allah selalu bersama mereka, sehingga rasa cemas yang berlebihan terhadap masa depan dapat terminimalisasi.

Wali Murid Mugeb menemukan ruang aman untuk sehat mental melalui pendekatan spiritualitas Islam, memperkuat tauhid, ibadah bermakna, serta membangun harmoni sosial yang menenangkan jiwa.
Jayaning Sila Astuti, M.Psi. menjelaskan pendekatan spiritualitas Islam untuk kesehatan mental. (Tagar.co/Nur Hakiky)

Keseimbangan Motivasi dan Kendali Emosi

Masuk ke metode kedua, Jay membahas tentang penguasaan kebutuhan fisik. Islam mengajarkan umatnya untuk mengendalikan motivasi dan emosi yang berkaitan dengan urusan duniawi. Penyeimbangan menjadi kata kunci utama di sini. Manusia boleh mengejar keinginan fisik, namun harus tetap berada dalam koridor yang benar.

“Islam menyerukan kita untuk memenuhi motivasi dan emosi dengan jalan yang halal dan syari. Selain itu, kita tidak boleh berlebihan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Keseimbangan inilah yang menjaga jiwa tetap stabil dan tidak mudah terguncang oleh nafsu,” jelas Jay dengan tegas.

Metode ketiga melibatkan pembelajaran atas kebiasaan-kebiasaan penting yang mewujudkan kesehatan jiwa. Dengan jiwa yang sehat, seseorang akan mencapai kematangan emosi dan sosial. “Hal ini membentuk kepribadian yang kokoh, membuat individu siap mengemban tanggung jawab hidup tanpa harus merasa terbebani secara berlebihan,” tutur penulis buku Sebuah Pengantar Mengenai Psikologi Siber ini.

Kepribadian yang tangguh ini mencakup banyak aspek. Ia menguraikan, mulai dari rasa aman dalam jiwa hingga kemandirian. Individu yang sehat mental tidak akan bergantung pada orang lain secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi namun tetap rendah hati di hadapan Tuhan.

Selain itu, kebebasan berpendapat tanpa taklid buta atau mengikuti tanpa berpikir juga menjadi ciri kesehatan jiwa, kata Jay. Sifat-sifat seperti qanaah (merasa cukup), sabar, dan kesadaran akan kesehatan tubuh menjadi pelengkap sempurna bagi seseorang yang ingin mencapai tingkat kesejahteraan mental yang optimal dalam perspektif Islami.

Baca Juga: Siswa Mugeb Sulap Galon Bekas Jadi Pot Kangkung Organik

Terapi Keimanan Obat Perilaku

Jay kemudian memaparkan, terapi mental Islami pada hakikatnya adalah terapi keimanan. Konsep ini bersandar pada keyakinan yang kokoh di dalam jiwa. “Keimanan tersebut mampu menghadirkan rasa aman, tenang, dan rida terhadap segala ketetapan Allah. Inilah yang menjadi benteng utama dari serangan depresi atau kecemasan,” ujarnya.

Tak hanya itu, katanya, terapi ini juga menyentuh aspek perilaku. Islam mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, terapi perilaku dalam Islam menggunakan metode suri teladan yang baik. Konsep janji pahala dan ancaman hukuman berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku seseorang menjadi lebih positif dan terarah.

“Terapi mental Islam itu sangat realistis karena berlandaskan kaidah dasar yang Allah tetapkan. Allah Maha Mengetahui segala hal tentang makhluk-Nya, maka solusi yang Dia tawarkan pasti sesuai dengan kebutuhan jiwa kita,” ungkap Jay. Terapi ini sangat menghormati kemuliaan manusia sebagai makhluk paling sempurna.

Baca Juga:  Refleksi Materi Fikih PKDA, Siswa Spemdalas Ikuti Quiz Digital

Penyimpangan perilaku sering kali berakar dari permasalahan kehidupan yang menumpuk. Guncangan jiwa dan penyakit fisik maupun kejiwaan saling berkaitan erat. Jay menegaskan, Islam menjaga hal ini dengan selalu menekankan kemuliaan manusia dan memberikan solusi yang menyeluruh bagi semua kepribadian di setiap fase kehidupan.

Sifat aplikatif dari terapi ini membuatnya mudah orang terapkan. Islam memberikan solusi logis yang bisa dilakukan setiap individu. Terapi ini berlandaskan pada semangat saling menolong dan toleransi. Dengan memberikan bantuan dan sugesti positif kepada sesama, beban mental yang seseorang rasakan akan terasa lebih ringan.

Wali Murid Mugeb menemukan ruang aman untuk sehat mental melalui pendekatan spiritualitas Islam, memperkuat tauhid, ibadah bermakna, serta membangun harmoni sosial yang menenangkan jiwa.
Jayaning Sila Astuti, M.Psi. menjelaskan pendekatan spiritualitas Islam untuk kesehatan mental. (Tagar.co/Nur Hakiky)

Salat: Jembatan Ketenangan Spiritual

Salah satu instrumen terapi mental paling efektif dalam Islam adalah ibadah, terutama shalat. Shalat menunjukkan adanya ikatan yang sangat kuat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Saat melakukan shalat, seorang hamba seolah-olah berdiri tepat di hadapan Sang Pencipta untuk mengadukan segala lara.

“Perasaan ini memunculkan kejernihan spiritualitas dan ketenangan hati. Saat seseorang mengerahkan semua emosi dan anggota tubuhnya untuk menghadap Allah, ia meninggalkan semua kesibukan dunia. Itulah saat di mana akal menemukan waktu rehatnya yang paling berkualitas,” tutur Jay.

Secara psikologis, shalat berperan besar dalam menekan depresi yang timbul akibat tekanan hidup sehari-hari. Khusyuk dalam shalat memberikan jeda bagi otak dari kebisingan masalah. Selain shalat pribadi, shalat berjamaah di masjid juga memiliki pengaruh sosial dan kejiwaan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang muslim.

Dengan rutin ke masjid, kata Jay, seorang muslim dapat mengenal tetangga dan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini membangun rasa optimisme dan memperkuat tali persaudaraan yang penuh kasih sayang. Hubungan sosial yang sehat seperti ini adalah obat alami bagi rasa kesepian dan keterasingan yang sering memicu masalah mental.

Bahkan, sebelum shalat pun, Islam sudah menyiapkan proses pembersihan melalui wudu. Jay mengungkapkan bagaimana Wudu bukan sekadar membasuh air ke anggota tubuh, melainkan simbol pembersihan diri dari kotoran hati. Kesucian fisik yang terjaga lewat wudu memberikan dampak psikologis berupa perasaan segar dan siap untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Baca Juga: Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

Zakat dan Sedekah untuk Membunuh Ego

Selain shalat, kata Jay, terapi mental Islam juga mengalir melalui ibadah maliah atau harta, yakni zakat dan sedekah. Allah mewajibkan zakat dan menganjurkan sedekah bukan tanpa alasan psikologis yang mendalam. Mengeluarkan sebagian harta untuk fakir miskin adalah latihan bagi jiwa agar senantiasa bersikap baik.

“Zakat dan sedekah memperkuat persatuan sosial. Hal ini memunculkan tanggung jawab untuk membantu mereka yang kekurangan. Melalui sedekah, seorang muslim belajar mencintai sesamanya dan secara perlahan melepaskan sifat egois, tamak, serta kikir,” jelas Jay kepada audiens yang tampak manggut-manggut setuju.

Baca Juga:  Tauhid, Roh di Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Sifat membangga-banggakan diri sering kali menjadi sumber konflik batin dan sosial. Dengan rutin bersedekah, individu melatih otot empati mereka. Zakat membersihkan dan menyucikan jiwa, meningkatkan posisi seseorang karena keberkahan hartanya. Jiwa yang dermawan cenderung lebih tenang karena tidak terikat secara berlebihan pada materi.

Keseimbangan antara memberi dan menerima menciptakan kepuasan batin yang luar biasa. Orang yang terbiasa memberi akan merasakan kebahagiaan saat melihat orang lain terbantu. Hormon kebahagiaan yang muncul dari aktivitas menolong orang lain ini secara medis terbukti mampu memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Zakat juga berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang mengurangi kecemburuan. Ketika kecemburuan sosial berkurang, harmoni masyarakat tercipta. Individu yang hidup dalam lingkungan yang harmonis dan saling mendukung tentu akan memiliki tingkat stres yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang hidup dalam kompetisi yang tidak sehat.

Puasa dan Haji: Madrasah Pengendalian Diri

Ibadah puasa juga memegang peran kunci sebagai terapi penyakit kejiwaan dan fisik. Jay mengutip Surat Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa agar menjadi orang yang bertakwa. Dalam Tafsir Jalalain, puasa disebut dapat meredakan keinginan syahwat langsung dari akarnya, yang menjadi sumber banyak masalah mental.

“Puasa adalah didikan bagi jiwa. Dengan menahan lapar dan haus, kita belajar mengendalikan keinginan yang meledak-ledak. Ini adalah latihan manajemen diri yang sangat luar biasa,” kata Jay. Pengendalian diri adalah kunci utama dari kesehatan mental, karena seseorang yang mampu menguasai dirinya tidak akan mudah hancur oleh keadaan luar.

Terakhir, haji sebagai rukun Islam kelima menjadi pusat pelatihan total. Niat haji saja sudah mampu membuat perasaan seorang muslim bergemuruh dalam rasa aman dan bahagia. Selama pelaksanaan haji, seorang muslim melatih dirinya memikul beban fisik dan lelah, namun tetap menjaga lisan dan hati agar tetap bersih.

Di tanah suci, semua orang melepaskan pakaian kebesarannya dan mengenakan kain ihram yang sederhana. Tidak ada perbedaan tingkatan sosial di sana. Kerendahhatian ini menghancurkan kesombongan yang sering menjadi akar gangguan jiwa. Haji melatih individu mengendalikan hawa nafsu dengan aturan ketat, seperti larangan bertengkar atau menggauli istri.

Semua metode ini, jika dipraktikkan dengan benar, akan membawa seseorang pada kondisi mental yang prima. Islam tidak hanya memberikan teori tentang ketenangan, tetapi juga menyediakan perangkat ibadah yang aplikatif sebagai sarana penyembuhan.

Di akhir sesi, para wali siswa di Averroes Hall pulang dengan wajah yang lebih cerah, membawa bekal iman untuk menjaga kewarasan di rumah masing-masing. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni