Feature

Masjid Tak Sekadar Megah: 4S Penyebab Takmir Gagal Memakmurkan

80
×

Masjid Tak Sekadar Megah: 4S Penyebab Takmir Gagal Memakmurkan

Sebarkan artikel ini
Dari seloroh “takmir S4” hingga dorongan memberi ruang anak muda, Kajian Ahad Subuh di Masjid Ar-Royyan Buduran menjadi alarm keras agar masjid dikelola profesional dan berdampak nyata bagi umat.
Sarapan pagi bersama penuh keakraban di halaman Masjid Ar-Royyan, 25 Januari 2026 (Tagar.co/Rozak Akbar)

Dari seloroh “takmir S4” hingga dorongan memberi ruang anak muda, Kajian Ahad Subuh di Masjid Ar-Royyan Buduran menjadi alarm keras agar masjid dikelola profesional dan berdampak nyata bagi umat.

Tagar.co — Suasana subuh di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran terasa berbeda pada Ahad (25/1/2026). Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, derap langkah jemaah sudah mengisi halaman masjid yang diterangi lampu kuning temaram. Ada semangat yang menyala—semangat menimba ilmu dan menata kembali peran masjid di tengah masyarakat.

Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran menggelar Kajian Ahad Subuh inspiratif dengan menghadirkan Ustaz Kusnadi Ikhwani, Ketua Takmir Masjid Al-Falah Sragen, Jawa Tengah.

Baca juga: Remaja Masjid Al-Muttaqin Sedatigede Studi Tiru ke Arroyan Youth Squad, Bahas Masjid Darurat Anak Muda

Mengusung tema “Strategi Manajemen Masjid Modern: Makmur dan Memakmurkan”, kajian ini diikuti para takmir masjid Muhammadiyah se-Sidoarjo yang tergabung dalam Badan Koordinasi Masjid Muhammadiyah Sidoarjo, warga Muhammadiyah, serta jemaah Masjid Ar Royyan.

Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur drh. Zainul Mulimin, Wakil Ketua dan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo Dr. P. K. Prabowo, Misbach, M.Pd., Burhanudin, M.Pd., serta para pimpinan BKMMS.

Baca Juga:  Hilangnya Budaya Malu di Tengah Kewajiban Puasa

Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Ridwan Manan, membuka kajian dengan ajakan yang lugas. Ia meminta Ustaz Kusnadi berbagi pengalaman sekaligus “memprovokasi” para takmir agar berani berubah.

“Takmir masjid harus bangun dari tidurnya. Yang sudah bangun segera bekerja, yang sudah bekerja harus istikamah dan meningkatkan kualitasnya dalam memakmurkan masjid,” ujarnya.

Anak muda Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah bersama Ustaz Kusnadi Ikhwani (tengah), (Tagar.co/Rozak Akbar) 

Mengubah Cara Berpikir Takmir

Dalam pemaparannya, Ustaz Kusnadi menegaskan bahwa masjid tidak cukup berdiri megah secara fisik. Ia harus dikelola secara profesional agar benar-benar hidup dan memberi dampak nyata. Masjid yang makmur, katanya, ditandai ramainya jemaah dan aktifnya ibadah.

Sementara masjid yang memakmurkan ialah masjid yang mampu menghadirkan solusi sosial, pendidikan, dan ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Dengan gaya ceramah yang komunikatif, dai sekaligus pengusaha ini membagikan pengalamannya mendampingi masjid-masjid agar bertumbuh. “Tanda masjid tidak makmur itu ketika pengurusnya sudah ‘S4’—sepuh, sangat sepuh sekali,” selorohnya, disambut tawa jemaah.

Ia menekankan pentingnya mengubah cara berpikir takmir ke arah yang lebih profesional: manajemen terencana, transparan, dan berbasis pelayanan jemaah. Pengelolaan program dakwah, administrasi keuangan, hingga pemanfaatan teknologi digital perlu digarap dengan semangat amanah dan kolaborasi.

Baca Juga:  Tauhid dan Ilusi Keamanan Global

“Berikan kesempatan kepada anak muda untuk mengelola masjid. Di tangan mereka, dakwah di era digital akan berkembang. Buat kegiatan inovatif, saldo harus nol, dan masjid buka 24 jam,” tegasnya.

Khidmat, Akrab, dan Menguatkan Komitmen

Kajian berlangsung khidmat namun interaktif. Tema yang diangkat terasa relevan dengan tantangan pengelolaan masjid masa kini. Momentum ini menguatkan komitmen pengurus dan jemaah Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran untuk terus menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pembinaan, pemberdayaan, sekaligus pusat peradaban umat.

Menjelang penutupan, dilakukan pembagian sembako secara simbolis dari Lazismu Sidoarjo bersama Komunitas Peduli Sesama Gedangan. Kajian ditutup doa oleh Ustaz Misbah dari PDM Sidoarjo, lalu dilanjutkan sarapan pagi lesehan di halaman masjid—menghangatkan kebersamaan dan menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bersama. (#)

Jurnalis Ridwan Manan Penyunting Mohammad Nurfatoni