Opini

Akhlak Bermuhammadiyah: Berani Dikritik, Teguh Menjaga Adab

96
×

Akhlak Bermuhammadiyah: Berani Dikritik, Teguh Menjaga Adab

Sebarkan artikel ini
Aksi kemanusiaan dan keberanian bersikap seharusnya tidak dipertentangkan. Menolong korban adalah kewajiban. Menyuarakan kebenaran struktural yang melahirkan korban adalah keberanian.
Qosdus Sabil

Bermuhammadiyah bukan sekadar loyalitas organisasi, melainkan keberanian moral: menerima kritik dengan lapang dada, bersikap keras pada substansi, dan santun dalam cara. Di sinilah akhlak menjadi ukuran sejati kepemimpinan.

Oleh Qosdus Sabil

Tagar.co – Bermuhammadiyah bukan sekadar berorganisasi, melainkan proses panjang pembentukan karakter pejuang dakwah: tangguh dalam prinsip, militan dalam nilai, dan kreatif dalam menghadapi medan dakwah yang majemuk dan terus berubah.

Muhammadiyah sejak awal tidak dilahirkan untuk memukul, melainkan merangkul. Dakwahnya tidak bertumpu pada kekerasan simbolik maupun fisik, tetapi pada keteladanan, kecerdasan, dan kesabaran historis. Karena itu, sikap egaliter dan membumi bukan sekadar etika sosial, melainkan watak ideologis gerakan.

Baca juga: Saat IMM Menjadi Cermin Retak Muhammadiyah

Dalam Muhammadiyah, tidak ada taklid. Yang ada adalah ikhtiar intelektual yang terus diperbarui melalui semangat tajdid. Pemikiran boleh diperdebatkan, dalil boleh diuji, bahkan guru boleh dikritik—selama adab tetap dijaga.

Perbedaan pendapat bukan ancaman, melainkan energi pembaruan. Yang ditolak adalah taklid buta, bukan otoritas keilmuan.

Kritik merupakan bagian inheren dari akhlak bermuhammadiyah. Namun, kritik harus diletakkan secara proporsional. Jika menyangkut urusan pribadi, adabnya adalah disampaikan secara tertutup.

Baca Juga:  Tambang dan Etika Keberpihakan: Kritik Ekologi Politik atas Sikap Muhammadiyah

Tetapi jika menyangkut kebijakan publik, apalagi kebijakan organisasi, koreksi harus disampaikan secara terbuka. Pemimpin bukan sosok suci yang kebal kritik. Justru pemimpin sejati adalah mereka yang siap dikoreksi dan berlapang dada.

Kritik sekeras apa pun tidak boleh kehilangan bingkai moral: bilhikmah, walmauizatil hasanah, wa jādilhum billati hiya ahsan. Keras dalam substansi, santun dalam cara.

Sering dikutip nasihat Imam Syafi‘i bahwa menasihati di muka umum sama dengan mempermalukan. Nasihat ini lebih tepat ditujukan untuk masyarakat awam, tetapi tidak sepenuhnya berlaku bagi pemimpin publik.

Pemimpin adalah teladan. Ketika ia keliru, koreksi terbuka justru diperlukan agar umat tidak mencontoh kesalahan, apalagi membenarkannya secara membabi buta. Menutup kesalahan pemimpin sama dengan membuka jalan bagi kerusakan yang lebih besar.

Jika seseorang tidak siap dikritik di ruang publik, jangan coba-coba menjadi pemimpin. Kepemimpinan adalah amanah berat, bukan panggung kehormatan. Seorang pemimpin seharusnya bersyukur ketika dikritik, sebab kritik adalah bentuk cinta dan perhatian umat yang justru meringankan hisabnya di yaumulqiyamah.

Kerelaan menerima kritik—bahkan hujatan—dengan sabar dan lapang dada adalah ladang pahala. Kesabaran melayani keluhan umat dapat menggugurkan dosa-dosa kepemimpinan. Dalam perspektif akhlak Islam, kritik bukan ancaman, melainkan anugerah yang menyelamatkan.

Baca Juga:  Seekor Nyamuk dan Kroninya

Islam juga mengajarkan etika memberi pujian. Pujian dianjurkan, tetapi harus proporsional. Pujian berlebihan justru berbahaya: melahirkan kesombongan, membunuh kejujuran, dan membuka ruang penjilatan yang sarat kepentingan. Nabi mengingatkan, “taburkan pasir kepada orang yang memujimu,” sebagai peringatan agar kita waspada terhadap pujian yang tidak tulus.

Akhlak Muhammadiyah menempatkan pujian secara cukup dan jujur, sebagaimana sunah Nabi: menguatkan tanpa memabukkan.

Kisah Thaif adalah teladan agung. Nabi Muhammad Saw. tidak membalas kekerasan dengan kehancuran, meski Jibril menawarkannya. Beliau justru berdoa: Allāhummahdī qaumī fa innahum lā ya‘lamūn.

Hari ini mereka mungkin durhaka, tetapi dari anak keturunannya kelak semoga lahir para pembela agama ini. Inilah puncak akhlak profetik: kesabaran yang visioner.

K.H. Ahmad Dahlan meneladankan akhlak ini secara nyata. Ancaman, caci maki, bahkan teror pembunuhan tidak menghentikan dakwahnya. Ia melayani umat dengan sabar, bukan karena lemah, tetapi karena yakin pada kebenaran jalan yang ditempuh.

Demikian pula K.H. Ahmad Badawi, Kasman Singodimedjo, dan Buya Hamka—mereka memberi teladan bagaimana bersikap kritis terhadap kekuasaan yang mulai menyimpang, tanpa kehilangan martabat dan kehalusan budi.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah, Kelas Menengah, dan Krisis Keberpihakan

Dalil umat harus samikna waatakna (mendengar dan taat) kepada ulil amri atau pemimpin sering kali dijadikan dalih untuk membungkan daya kritis umat. Jelas itu adalah sebuah pembodohan terstruktur.

Saya jadi teringat pesan Pak Djazman. Dalam menghadapi kelompok yang gemar main kayu di tubuh persyarikatan, kita harus bersikap tegas, tidak abu-abu. Kekerasan—dalam bentuk apa pun—tidak boleh diberi ruang, apalagi ditoleransi atas nama harmoni semu.

Kelemahan mendasar sebagian kader otentik justru terletak pada sikap mudah terbuai oleh seruan samikna waatakna terhadap pimpinan, sembari memilih jalan diam demi menjaga keutuhan organisasi. Padahal, sikap diam yang mematikan daya kritis bukanlah tanda kedewasaan berorganisasi, melainkan gejala awal aḍ‘aful īmān—selemah-lemahnya iman.

Harmoni yang dibangun di atas pembungkaman nurani kritis bukanlah kekuatan, melainkan kerapuhan yang menunggu runtuh.

Inilah akhlak bermuhammadiyah: berani tanpa kasar, kritis tanpa kehilangan adab, teguh tanpa menjadi beku, dan setia pada kebenaran, meski harus berjalan sendirian. Wallāhualambisawab. (#_

Ciputat, 3 Syakban 1447: Hujan deras penuh berkah

Penyunting Mohammad Nufatoni