Feature

MDMC Jatim di Aceh Tamiang, Sinergi Medis dan Psikososial Pulihkan Desa Sunting

90
×

MDMC Jatim di Aceh Tamiang, Sinergi Medis dan Psikososial Pulihkan Desa Sunting

Sebarkan artikel ini
MDMC Jatim di Aceh Tamiang, sinergi medis dan psikososial pulihkan Desa Sunting. Desa Sunting ditetapkan sebagai pusat pelayanan utama karena merupakan daerah yang mengalami kerusakan paling berat
MDMC Jatim di Aceh Tamiang, sinergi medis dan psikososial pulihkan Desa Sunting. Tim medis dari RS Siti Khodijah Sepanjang, dr. Tomy Wijaya Kurniawan (kiri) saat layanan kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang (Tagar.co/Istimewa)

MDMC Jatim di Aceh Tamiang, sinergi medis dan psikososial pulihkan Desa Sunting. Desa Sunting ditetapkan sebagai pusat pelayanan utama karena merupakan daerah yang mengalami kerusakan paling berat

Tagar.co – Di tengah tantangan akses yang sulit, tim relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur terus bergerak memberikan bantuan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga 16 Januari 2026 , para relawan fokus memberikan pelayanan di wilayah-wilayah terpencil agar bantuan kesehatan dan dukungan mental dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang paling membutuhkan.

MDMC Jawa Timur menempatkan para relawannya di wilayah yang paling pelosok, yakni Kecamatan Bandar Pusaka . Tim disebar di beberapa desa yang mengalami dampak banjir cukup parah, di antaranya:
• Desa Sunting
• Desa Serba Dalam
• Desa Serba Luar
• Desa Alur Hitam

Dari desa-desa tersebut, Desa Sunting ditetapkan sebagai pusat pelayanan utama karena merupakan daerah yang mengalami kerusakan paling berat. Di desa inilah para relawan mendirikan Posko Layanan (Posyan) untuk memudahkan koordinasi bantuan ke desa-desa di sekitarnya.

Baca Juga:  Workshop Fundraiser Lazismu Sepanjang, Upaya Tingkatkan Profesionalisme Filantropi
Ibu Sariyah (70 tahun) yang menderita stroke mendapatkan perhatian khusus dari tim medis MDMC Jatim (Tagar.co/Istimewa)

Layanan Kesehatan 24 Jam

Tim medis dari RS Siti Khodijah Sepanjang yang dikomandani oleh dr. Tomy Wijaya Kurniawan bersama para perawat ahli, memberikan pelayanan kesehatan tanpa henti. Hingga saat ini, tercatat sekitar 150 warga telah tertangani dengan keluhan utama infeksi saluran pernapasan akibat cuaca ekstrem.

“Sampai saat ini, rata-rata harian pasien yang kami tangani berkisar antara 30 sampai 50 orang. Jika dihitung sejak awal bertugas, total sudah sekitar 150 pasien yang kami rawat. Kebanyakan mengeluhkan infeksi saluran pernapasan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu pascabanjir,” ujar dr. Tomy.

Salah satu perhatian khusus diberikan kepada Ibu Sariyah (70 tahun) yang menderita stroke dan luka dekubitus. Tim medis secara rutin melakukan kunjungan langsung untuk memastikan kondisi kesehatan lansia tersebut tetap terpantau di tengah keterbatasan sarana.

Ruang Ramah Anak mengajak anak-anak untuk bermain, menggambar, dan mendongeng (Tagar.co/Istimewa)

Ruang Ramah Anak untuk Trauma Healing

Di sisi lain, trauma akibat bencana sering kali tersembunyi di balik mata bening anak-anak. Guna memulihkan luka batin tersebut, MDMC Jawa Timur menghadirkan Program Trauma Healing yang dikemas dalam konsep Ruang Ramah Anak.

Baca Juga:  TBIG Perluas Bantuan Banjir di 25 Titik di Sumatra dengan 10.000 Penerima Manfaat

Dalam program ini, Fatchul Mubarok, S.Th.I., M.Pd., dari Kantor Layanan (KL) Lazismu PCM Sepanjang mengajak anak-anak untuk bermain, menggambar, dan mendongeng. Aktivitas ini merupakan teknik untuk mengalirkan emosi negatif dan mengembalikan rasa aman mereka. Para relawan memastikan bahwa meskipun lingkungan sedang berduka, keceriaan masa kecil tetap terjaga.

Keberhasilan penanganan di Aceh Tamiang ini sangat bergantung pada integrasi antara tim medis dan tim psikososial. Sering kali ditemukan anak yang sakit secara fisik karena stres atau trauma. Di sinilah sinergi terjadi, tim medis menyembuhkan fisiknya, sementara tim sosial melalui Ruang Ramah Anak membangkitkan kembali semangatnya.

Sinergi ini membuktikan bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan secara terpisah. Dedikasi para relawan ini adalah bukti nyata bahwa di tengah dinginnya air banjir, kehangatan kemanusiaan tetap mampu menyalakan api harapan bagi masa depan masyarakat Aceh Tamiang. (#)

Jurnalis Olivia Putri Adita. Penyunting Sugiran.