
Talbiah mengalun di atas rel kereta cepat, mengiringi langkah para musafir dari Bir Ali menuju Masjidilharam. Teknologi melesat, tetapi hati justru diperlambat untuk berserah menuju rumah Allah.
Catatan seri ke-5 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Tagar.co — Hari kelima Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya, Sabtu (17/1/2025), ditutup dengan ritual klasik para musafir: berkemas di malam hari.
Koper-koper tersusun rapi di sudut kamar, tas kecil siap di dekat pintu. Ada jeda sunyi yang terasa khidmat—bukan sekadar bersiap pindah kota, melainkan berpindah rasa: dari Madinah menuju Makkah.
Baca juga: Menziarahi Masjid-Masjid Bersejarah di Madinah
Usai salat Subuh dan sarapan pagi, rombongan bergerak menuju Masjid Bir Ali, mikat makani bagi jemaah Indonesia. Bangunannya sederhana, namun maknanya mendalam. Salat sunah dilaksanakan dengan tenang dan tertib. Tak ada yang tergesa, seolah waktu sengaja diperlambat agar niat menemukan ruangnya.
Di dalam bus, niat umrah dipimpin mutawif M. Rusman Fajar dengan suara yang menenangkan. Kalimat niat mengalir, disusul talbiah yang dilantunkan bersama—lembut, berirama, menyatu dengan deru mesin yang membawa rombongan menuju stasiun. Hening mendadak turun; haru menggantung di antara degup jantung dan rindu yang tak terucap.
Sekitar pukul 09.20, rombongan tiba di Stasiun Madinah. Kereta berangkat pukul 10.30. Waktu menunggu diisi dengan beragam laku kecil yang bermakna: talbiah yang tak putus, halaman panduan umrah yang dibuka kembali, dan tatapan takjub pada megahnya stasiun di kawasan Knowledge Economic City—sekitar tujuh kilometer dari Masjid Nabawi.

Pukul 10.00, ajakan bersiap terdengar. Rombongan menaiki Haramain High Speed Railway (HHR), kereta cepat kebanggaan Arab Saudi yang menghubungkan Madinah–Makkah–Jeddah hingga Bandara King Abdul Aziz. Dengan kecepatan hingga 300 km/jam, perjalanan darat yang biasanya memakan waktu 6–8 jam diringkas menjadi sekitar dua jam.
Kereta melaju nyaris tanpa getar. Dari balik jendela, gurun terbentang seperti permadani pasir yang tak bertepi. Gunung-gunung merah kecokelatan berdiri gagah dan sunyi. Sesekali kereta menembus terowongan, lalu keluar menyapa kebun-kebun kurma yang hijau—kontras, indah, meneduhkan. Pemandangan berganti cepat, namun hati justru melambat, menikmati tiap detik menuju rumah Allah.
Pukul 12.40 waktu setempat, kereta berhenti di Stasiun Makkah. Rombongan turun dengan tertib. Dalam langkah menuju bus, Aninun Najib, Kepala MI Muhammadiyah 23 Surabaya, melontarkan kalimat spontan yang sarat syukur.
“Kereta cepat di Indonesia saja belum kita rasakan, hari ini Allah mengizinkan kita merasakannya langsung.” Senyum lebar saya—yang berjalan bersebelahan—menjadi jawab yang tak perlu kata.

Sekitar 30 menit kemudian, bus mendekat ke Masjidilharam. Saat menara mulai terlihat, rasa takjub menyeruak. Bagi yang pertama kali, dada terasa penuh oleh syukur. Menara Zamzam (Abraj Al Bait) berdiri gagah, seakan menjadi saksi jutaan doa yang tak pernah berhenti.
Masjidilharam siang itu padat oleh laku ibadah. Rombongan melaksanakan salat Zuhur berjemaah, dipimpin Amang Muazam, Ketua K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya. Ibadah berlanjut tanpa jeda makna: tawaf, salat Asar, sai, hingga tahalul.
Tepat pukul 17.35 waktu Makkah, seluruh rangkaian umrah selesai. Lelah hadir di tubuh, tetapi hati terasa ringan—lega, lapang, dan bersyukur.
Alhamdulillah. Perjalanan ini bukan semata tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang iman yang dipercepat—menuju Allah. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












