
Dalam Musda Ke-3 JSIT Gresik–Lamongan, Kadisdik Gresik menegaskan bahwa masa depan generasi bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi oleh kekuatan etika, akhlak, dan karakter siswa.
Tagar.co – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Dr. S. Hariyanto, S.Pd., M.M., menyampaikan pesan mendalam tentang makna pendidikan sejati di hadapan ratusan guru Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Gresik–Lamongan dalam Musyawarah Daerah (Musda) Ke-3 JSIT, yang digelar di Aula SMPIT Al Ibrah GKB, Gresik, Ahad (11/1/2026).
Dalam suasana yang hangat, Hariyanto membuka sambutannya dengan apresiasi atas terselenggaranya musda tersebut. Ia berharap sekolah-sekolah di bawah naungan JSIT terus memberi kontribusi terbaik bagi kemajuan pendidikan, tidak hanya di Gresik dan Lamongan, tetapi juga bagi dunia pendidikan nasional.
Baca juga: Sekolah Muhammadiyah Harus Menjadi Pilihan Utama Masyarakat
“Semoga sekolah-sekolah di bawah naungan JSIT Indonesia mampu memberikan kontribusi terbaiknya bagi perkembangan dunia pendidikan di mana pun berada,” tuturnya.
Hariyanto mengungkapkan bahwa hubungan emosionalnya dengan JSIT telah terjalin sejak lama. Ia mengenang masa ketika menjadi pengawas sekolah di wilayah SMPIT Al-Ibrah, bahkan terlibat langsung dalam proses akreditasi sekolah tersebut.
“Dan satu-satunya sekolah di Gresik yang memperoleh nilai A saat itu hanya SMPIT Al-Ibrah,” kenangnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya mengikuti program studi tiru ke Malaysia bersama TKIT Al-Ummah, salah satu sekolah di bawah naungan JSIT, yang kemudian menginspirasi pendirian Taman Kanak-kanak internasional di kawasan Pondok Permata Suci (PPS) Gresik.
Atas kontribusi itu semua, Hariyanto menyampaikan terima kasih kepada para pengurus yayasan, kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan JSIT yang telah berperan besar dalam membangun kualitas pendidikan di Kabupaten Gresik.
“Sumber daya yang dimiliki JSIT adalah modal luar biasa untuk menggerakkan pendidikan agar siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Esensi Pendidikan
Dalam kesempatan tersebut, Hariyanto mengutip Surah Ali Imran ayat 104 sebagai fondasi nilai pendidikan, bahwa esensi kehidupan adalah menjadi pribadi yang mengajak kepada kebaikan, menegakkan yang makruf, dan mencegah yang mungkar.
“Itulah esensi kehidupan kita bersama agar kita menjadi yang terbaik, menjadi role model, menjadi teladan dalam kehidupan ini,” tegasnya.
Ia pun memberikan pujian khusus kepada para guru JSIT. “Guru-guru JSIT ini luar biasa—prestasinya, akidahnya, etikanya. Mereka layak menjadi contoh bagi guru-guru lainnya.”
Menurut Hariyanto, keberhasilan siswa di masa depan tidak lagi cukup ditopang oleh kecerdasan intelektual semata. Yang paling menentukan justru etika dan akhlak.
“Kecerdasan intelektual berada di nomor kesekian. Yang menjadikan anak-anak sukses ke depan adalah anak-anak yang memiliki skill etika dan akhlakul karimah,” tandasnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membangun karakter manusia seutuhnya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












