
Ia datang ke sekolah dengan tangan gemetar dan mata yang selalu mencari tempat bersembunyi. Sebuah balon merah muda meledak di pangkuannya—dan sejak saat itu, pelan-pelan, Nafasya belajar bahwa runtuh bukan akhir dari segalanya.
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handayani, Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co — Nafasya, gadis kecil itu, memegang erat tangan ibunya, seolah tidak ingin melepaskannya walau hanya sebentar. Langkahnya pelan, sudut bibirnya melengkung ke bawah, hidungnya kembang-kempis, dan wajah mungilnya berkerut menahan tangis.
Saya mendekatinya, menyejajarkan tubuh saya dengan tubuhnya, lalu tersenyum.
“Siapa nama anak cantik ini?” tanya saya, berusaha mencairkan suasana.
“Nafasya, Bunda,” jawab Nuri, ibu Nafasya.
Saat saya mengulurkan tangan, Nafasya sempat menyambutnya, tetapi segera kembali bersembunyi di balik tubuh ibunya. Begitulah awal kehadiran Nafasya di sekolah ini. Hatinya dipenuhi rasa takut, seperti anak rusa yang tersesat di rimba.
Baca cerpen lainnya: Tempat Baris Zaquan
Ia sering menggenggam ujung bajunya sendiri, seolah takut bajunya akan terbang jika dilepaskan. Matanya besar dan bening, tetapi hampir selalu menunduk, jarang berani menatap wajah orang lain terlalu lama.
Setiap pagi, Nafasya memilih duduk di sudut kelas. Ia tidak pernah berebut mainan, tidak pernah mengangkat tangan saat saya bertanya, tidak mau bermain bersama teman-temannya, dan selalu menunggu hingga semua anak keluar kelas lebih dulu saat jam pulang.
Jika ada suara keras—benda terjatuh, pintu tertutup terlalu cepat, atau tawa teman-temannya yang terlalu ramai—bahu Nafasya langsung mengerut dan matanya berkaca-kaca.
Jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya, ia menangis dengan suara sangat keras, melengking, dan tak mau berhenti. Senyum kecil di wajahnya runtuh begitu cepat, seperti menara balok yang tersenggol sedikit saja.
Suatu hari, saya mengajak anak-anak bermain balon warna-warni di dalam kelas.
“Nafasya, mau ikut bermain?” tanya saya.
Nafasya mengangguk pelan, tetapi kakinya tetap diam.
Saya melempar balon-balon itu ke udara. Anak-anak lain berebut menangkapnya, berlari sambil tertawa riang. Saya menyerahkan satu balon merah muda kepada Nafasya.
“Pegang saja dulu,” pinta saya.
Nafasya menerima balon itu dengan tangan gemetar. Ia memeluknya erat, seolah balon itu akan pecah jika disentuh terlalu keras. Tiba-tiba seorang teman berlari dan tak sengaja menyenggol balon Nafasya.
Duar!
Balon itu meletus.
Tubuh kecil Nafasya membeku. Bibirnya bergetar, dan air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya. Isak tangisnya pecah, menumpahkan perasaan yang tak mampu ia ucapkan.
Saya segera berlutut di hadapannya.
“Tidak apa-apa, Nafasya,” bisik saya. “Balonnya memang pecah, tapi Nafasya tidak rusak.”
Nafasya menatap saya dengan mata basah. Ia belum sepenuhnya mengerti kata-kata itu, tetapi suara saya terasa hangat baginya—seperti selimut di pagi yang dingin. Perlahan, tangisnya mereda.
##
Hari-hari berlalu. Nafasya masih penakut. Ia masih mudah runtuh saat sesuatu tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Namun saya selalu ada—mengajaknya bicara pelan, memberinya waktu, memuji setiap hal kecil yang berhasil ia lakukan.
Suatu hari, ketika bermain balok, bangunan yang ia susun tersenggol teman dan roboh. Semua anak terdiam, menunggu ia menangis seperti biasanya. Nafasya menunduk. Napasnya cepat. Matanya berkaca-kaca.
Namun kali ini, ia tidak langsung menangis.
Seperti mengingat sesuatu, Nafasya mengambil satu balok. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Ia mulai menyusun ulang. Bangunannya memang tidak setinggi sebelumnya, tetapi berdiri kembali.
Saya tersenyum dari kejauhan. Teman-teman Nafasya ikut tersenyum menyaksikan perubahan kecil itu.
Nafasya memang masih penakut. Ia masih mudah runtuh. Tetapi kini ia mulai belajar satu hal penting: meski runtuh, ia bisa bangkit kembali. Pelan-pelan. Dengan caranya sendiri.
Ia mungkin belum menjadi anak yang berani, tetapi ia telah menjadi anak yang percaya bahwa dirinya cukup kuat untuk mencoba lagi.
Dan di kelas kecil itu, seorang anak penakut sedang tumbuh—menjadi anak yang berani mencoba kembali.
Dan itu sudah lebih dari cukup. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












