Rileks

Plaza 7 Ulu, Ruang Publik Penuh Warna di Jantung Sungai Musi

98
×

Plaza 7 Ulu, Ruang Publik Penuh Warna di Jantung Sungai Musi

Sebarkan artikel ini
Penulis bersama suami Kemas Asrozi saat berada di area Plaza 7 Ulu Palembang, Selasa (23/12/2025). (Tagar.co/Nyimas Rodiyah)

Plaza 7 Ulu tak sekadar ruang publik di tepi Sungai Musi. Ia adalah pertemuan antara warna, aliran kehidupan, dan kebersamaan keluarga—sebuah perjalanan sore yang menyimpan cerita hangat tentang Palembang dan manusia-manusia di dalamnya.

Tagar.co — Palembang selalu menyimpan cara khas untuk menyambut setiap langkah perjalanan. Selasa, 23 Desember 2025, menjadi salah satu hari yang menghadirkan warna tersendiri dalam rangkaian perjalanan kami di kota ini.

Setelah menikmati atmosfer Kampung Koyek dan kawasan sekitarnya, langkah kami berlanjut menuju Plaza 7 Ulu—ruang publik di tepi Sungai Musi yang kini kian dikenal sebagai destinasi estetik dan ramah pengunjung.

Baca juga: Mi Celor, Cita Rasa Khas Palembang yang Menghangatkan Kenangan

Bersama suami tercinta, Kemas Asrozi, serta adik Nyimas Rodiyah beserta keluarga, kami menyusuri kawasan ini di bawah langit sore yang hangat. Begitu tiba, mata langsung tertarik pada jembatan pejalan kaki beratap warna-warni yang membentang anggun di tepi sungai.

Panel-panel transparan berwarna merah, kuning, hijau, dan biru tersusun rapi di atas kepala, memantulkan cahaya matahari yang menembus di sela-selanya. Permainan cahaya dan warna itu menghadirkan nuansa ceria sekaligus modern—sebuah pemandangan yang membuat siapa pun spontan ingin mengabadikannya dalam bingkai kamera.

Baca Juga:  Saat Doorprize Menghidupkan Suasana Rapat Pimpinan PCA Krian

Kami melangkah perlahan menyusuri jembatan itu. Dari atas, Sungai Musi tampak mengalir tenang, sesekali dilintasi perahu kecil dan kapal penyeberangan yang hilir mudik membawa penumpang. Riak air berpadu dengan suara mesin perahu dan percakapan pengunjung, menciptakan harmoni khas tepian sungai—denyut kehidupan Palembang yang sejak dulu berpaut erat dengan aliran Musi.

Di sepanjang jalur pedestrian, suasana sore terasa begitu hidup. Anak-anak berlarian riang, orang-orang dewasa duduk berbincang santai, sementara sebagian lainnya sibuk berfoto dengan latar jembatan warna-warni dan panorama sungai.

Dari kanan: Penulis bersama suami Kemas Asrozi dan adik Nyimas Rodiyah beserta keponakan Muhammad Aslam Ibrahim saat berada di salah satu jembatan warna sungai Musi Palembang, Selasa (23/12/2025). (Tagar.co/Kusnadi)

Kehadiran kios kecil dan pedagang kaki lima di sekitar kawasan semakin melengkapi suasana, menawarkan minuman segar dan jajanan ringan yang menggoda untuk dinikmati sembari bersantai.

Bagi kami, berjalan di bawah kanopi warna-warni itu terasa istimewa bukan semata karena keindahan visualnya, melainkan karena kebersamaan yang tercipta. Setiap langkah diiringi obrolan ringan, tawa, dan rasa syukur dapat menikmati waktu bersama di tengah kesibukan masing-masing. Di momen-momen sederhana seperti inilah perjalanan menemukan maknanya.

Menjelang senja, cahaya matahari perlahan meredup. Warna-warna di atas jembatan tampak semakin lembut, sementara Sungai Musi berubah menjadi siluet yang menenangkan. Kami berhenti sejenak, memandangi aliran air yang tak pernah berhenti—seolah mengingatkan bahwa hidup pun terus bergerak, membawa cerita dan kenangan baru dalam setiap perjalanannya.

Baca Juga:  Menjaga Relevansi Islam melalui Ijtihad

Kunjungan ke Plaza 7 Ulu pun menjadi penutup yang indah bagi hari itu. Di tempat ini, kami menemukan perpaduan harmonis antara keindahan alam, kreativitas ruang publik, dan hangatnya kebersamaan keluarga—sebuah pengalaman sederhana namun penuh makna, yang akan selalu kami kenang sebagai bagian dari perjalanan menyusuri Palembang. (#)

Penulis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni