Feature

Belajar Bermasyarakat sejak Dini: Pesan Mendikdasmen untuk Anak Indonesia Hebat

66
×

Belajar Bermasyarakat sejak Dini: Pesan Mendikdasmen untuk Anak Indonesia Hebat

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti bersama beberapa siswa yang diajak berdialog di panggung dalam kegiatan Bootcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak sejak Usia Dini di Jakarta, Senin (15/12/25).

Nilai bermasyarakat dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ditegaskan Mendikdasmen Abdul Mu’ti melalui ajakan membangun pertemanan sehat dan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak.

Tagar.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya pertemanan yang sehat dan lingkungan sosial yang positif dalam membentuk karakter peserta didik.

Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Bootcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak sejak Usia Dini di Jakarta, Senin (15/12/25).

Dalam kesempatan itu, Abdu Mu’ti mengulas nilai keenam dari tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), yakni bermasyarakat. Nilai ini menekankan kemampuan anak untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan tumbuh bersama lingkungan sosialnya secara konstruktif.

Baca juga: #RukunSamaTeman: Inisiatif Baru Kemendikdasmen Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman

“Generasi hebat dan berkarakter lahir dari seseorang yang terus melakukan dan menanamkan sebuah kebiasaan yang baik. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memiliki program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang bertujuan menjadikan generasi muda Indonesia memiliki karakter yang kuat dan berdaya saing global,” ungkapnya saat membuka acara.

Baca Juga:  Hardiknas 2026: Abdul Mu’ti Tegaskan Pendidikan untuk Mencerdaskan dan Membentuk Karakter Bangsa

Menurutnya, pertemanan yang baik berperan penting dalam menumbuhkan rasa aman dan percaya diri murid, sekaligus membantu mereka berkembang secara sosial. Ia juga menyoroti peran teman sebaya sebagai ruang komunikasi yang sehat di tengah dominasi gawai pada era saat ini.

“Di samping peran teman sebaya, terdapat peran orang tua dan guru yang diharapkan menjadi pendengar dari segala masalah dan teladan yang baik bagi para murid. Oleh karena itu, proses karakter anak sangat ditentukan dengan siapa mereka berinteraksi, pengembangan potensi, dan aktivitas yang membangun kreativitas,” ujar Menteri Mu’ti.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti didampingu beberapa pejabat dan siswa secara resmi membuka Bootcamp Anak Indonesia Hebat dan Semiloka Pengasuhan Anak sejak Usia Dini di Jakarta, Senin (15/12/25).

Interaksi Hangat dan Pembelajaran Keberanian

Suasana kegiatan Bootcamp Anak Indonesia Hebat kian hidup ketika Mendikdasmen menyelingi sambutannya dengan interaksi langsung bersama peserta didik. Perhatiannya tertuju pada barisan siswa sekolah dasar.

Ia memanggil seorang siswa kelas IV SDN 05 Lubang Buaya, Jakarta Timur, bernama Radit. Dengan lugas, Radit menceritakan kegemarannya pada pelajaran IPA dan cita-citanya untuk melanjutkan studi di Universitas Airlangga (Unair), Jurusan Informatika dan Teknologi.

Baca Juga:  Pesan Tarawih Abdul Mu’ti di Bali: Muslim Minoritas Harus Kuat dan Solid

Interaksi berlanjut ketika Menteri Mu’ti mengajak anak-anak membuat pantun bertema buah-buahan. Seorang siswa bernama Denas maju ke mimbar diiringi tepuk tangan peserta. Dengan penuh semangat, Denas memulai pantunnya.

“Beli buah ke pasar… Tidak lupa menemui Radit.”

Namun, Denas sejenak terdiam untuk mencari rima lanjutan yang tepat. Radit yang disebut dalam pantun tersebut adalah teman sekelasnya, sosok yang berani maju ke depan karena bercita-cita menjadi profesor dan dosen.

Melihat Denas kesulitan, Menteri Mu’ti segera mencairkan suasana. “Siapa temannya Denas yang bisa bantu? Kita bikin pantun kolaborasi!” serunya.

Ajakan itu disambut seorang siswa SMA bernama Waldan yang maju dari barisan belakang. Dengan tenang, Waldan melengkapi pantun Denas dengan rima yang ringan dan relevan. “Beli buah ke pasar, jangan lupa bertemu Radit. Rajinlah kita belajar, kalau besar dapat duit,” tuturnya.

Pantun kolaborasi antara siswa SD dan SMA tersebut langsung disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah. Suasana yang semula tegang berubah hangat, sekaligus menyampaikan pesan sederhana tentang pentingnya belajar sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Baca Juga:  Ceramah Nuzululqur’an, Menteri Abdul Mu’ti Jelaskan Sejarah Turunnya Al-Qur’an dan Makna Tilawah

Terinspirasi oleh keberanian, kreativitas, dan kolaborasi ketiga siswa itu, Mendikdasmen memberikan apresiasi langsung kepada Denas, Radit, dan Waldan. Apresiasi tersebut menjadi simbol penghargaan atas keberanian tampil, kecerdasan spontan, serta semangat kebersamaan lintas jenjang pendidikan.

Melalui momen sederhana namun bermakna ini, Mendikdasmen kembali menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya tumbuh dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pertemanan, dan lingkungan positif yang memberi ruang bagi anak untuk berani mencoba dan bekerja sama. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni