Rileks

Menikmati Kuliner Jadul, Menjelajah Rasa di Lorong Waktu Giri Biyen

135
×

Menikmati Kuliner Jadul, Menjelajah Rasa di Lorong Waktu Giri Biyen

Sebarkan artikel ini
Gerbang Pasar Panganan Giri Biyen sebagai upaya membangkitkan kenangan kuliner jadul, Ahad (14/12/2025) (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Pasar Panganan Giri Biyen adalah lorong waktu. Di sana, koin gobog, kebaya, dan jajanan jadul mengajak pengunjung menyusuri kembali rasa dan suasana masa lalu.

Tagar.co – Aroma gula merah, santan hangat, dan daun pisang seakan menyambut setiap langkah pengunjung yang memasuki Pasar Panganan Giri Biyen di Kampung Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Ahad (14/12/2025).

Di tempat ini, kuliner jadul bukan sekadar makanan, melainkan pintu masuk menuju kenangan—sebuah perjalanan rasa yang membawa siapa pun menyeberang ke masa lalu.

Baca juga: Museum Sunan Giri dan WGK Jadi Kelas Sejarah Terbuka bagi Siswa SD Almadany

Sejak pukul 06.30 WIB, ratusan pengunjung tampak memadati area pasar. Mereka menelusuri satu per satu stan yang berjajar rapi, seolah sedang bernostalgia di pasar tradisional tempo dulu.

Suasana vintage begitu terasa. Lapak-lapak terbuat dari kayu sederhana, alas dan wadah makanan menggunakan tanah liat, sementara para penjual mengenakan kebaya lengkap dengan kudung kurosi, busana khas Giri.

Baca Juga:  Asesmen Bahasa Indonesia Uji Keterampilan Literasi Siswa SD Almadany
Uang logam gobog yang digunakan sebagai alat pembayaran Pasar Panganan Giri Biyen sebagai upaya membangkitkan kenangan bertransaksi di pasar tradisional masa lalu, Ahad (14/12/2025) (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Transaski dengan Uang Logam Berlubang

Pengalaman berbelanja di Pasar Panganan Giri Biyen juga dibuat berbeda. Transaksi tidak dilakukan dengan uang rupiah. Pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang di konter khusus untuk mendapatkan koin logam berlubang di tengah—replika mata uang gobog yang dikenal pada masa Kerajaan Majapahit. Dengan koin inilah proses jual beli berlangsung, menghadirkan sensasi berbelanja ala masa silam.

Ketua Panitia, Hj. Nurul Dhuha, menjelaskan bahwa pasar ini secara khusus mengangkat budaya kuliner tradisional yang telah hidup sejak zaman nenek moyang.

“Pasar ini mengangkat kuliner tradisional sebagai produk utama, khususnya panganan yang sejak dahulu tumbuh dan berkembang di Kampung Kajen,” ujarnya.

Aneka jajanan dan makanan jadul tersaji lengkap. Mulai dari sego karak, godo tempe, sego pecel, sego dodo, lontong room, kowi, hingga kudapan manis seperti jongkong, pontir, jemblem, bantol, tetel, srawut, sumpil, awok sagu, ketan lamaran, ketan pleret, nogosari, bongko kacang hijau, kupat ketek, dan kue kentang.

Ada pula glali kemplong, glali ulur, serta kacang noga. Ragam minuman tradisional pun tak kalah menggoda, seperti es sinom, es temulawak, es trancam, es cao, pokak, es dawet, es bubur gempol, es serut, hingga es lilin. Tak ketinggalan, stan dolanan jadul yang menghidupkan kembali permainan masa kecil.

Baca Juga:  Malam yang Menyalakan Mimpi: Cara Mabit SD Muri Membentuk “Kapten Masa Depan”

Kegiatan ini diprakarsai oleh Komunitas Giri Simbo sebagai upaya pelestarian kuliner tradisional sekaligus penguatan budaya lokal. Warisan rasa Giri yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal dirawat melalui pengalaman langsung yang menyentuh ingatan kolektif masyarakat.

Promosi kegiatan yang masif melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube membuat Pasar Panganan Giri Biyen cepat dikenal. Dalam hitungan jam sejak dibuka, banyak panganan jadul ludes diserbu pengunjung yang datang tidak hanya dari Gresik, tetapi juga daerah sekitar.

Salah satu pedagang Pasar Panganan Giri Biyen dengan pakaian khas giri dan alat masak berbahan tanah liat sebagai upaya membangkitkan kenangan kuliner jadul, Ahad (14/12/2025) (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Tak Sekadar Wisata

Kepala Bidang Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Budaya, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gresik, Mudi Rahayu, S.Sos., M.Si., menilai kegiatan ini memiliki nilai lebih dari sekadar agenda wisata.

“Jajanan pasar semacam ini dulu harganya murah, kini justru bernilai nostalgia,” ujarnya.

Menurutnya, panganan tradisional yang dahulu kerap dianggap makanan rakyat jelata kini mampu tampil kembali sebagai bintang dalam festival kuliner dan konten digital. Di tengah gempuran menu modern, kuliner jadul tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Baca Juga:  Bekal Menyambut Ramadan: Pesan Guru Besar UINSA

“Salah satu daya tariknya adalah tekstur kue yang lembut dengan isian padat, rasanya manis dan legit, sangat sesuai dengan lidah orang Indonesia,” tambahnya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan penuh distraksi, kuliner jadul Indonesia menawarkan rasa pulang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Karena dalam setiap suapan panganan jadul, tersimpan lebih dari sekadar rasa: ada cinta, kenangan, sejarah, dan warisan budaya yang tak ternilai harganya. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni