Feature

Pengajian Embun Pagi Jetis Ponorogo, Ruang Teduh Menjaga Iman di Akhir Zaman

51
×

Pengajian Embun Pagi Jetis Ponorogo, Ruang Teduh Menjaga Iman di Akhir Zaman

Sebarkan artikel ini
Suasana Pengajian Embun Pagi Jetis Ponorogo, Jawa Timur, Ahad 7 Desember 2025 (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Di tengah derasnya arus informasi dan kegelisahan generasi muda, Pengajian Embun Pagi Jetis, Ponorogo, kembali menjadi ruang menenangkan untuk memperkuat iman. Tausiah Ustaz Adi menyoroti tantangan berat pemuda akhir zaman.

Tagar.co – Ahad pagi, 7 Desember 2025, Jetis terasa sejuk ketika jemaah mulai berdatangan menuju lapangan SMA Muhammadiyah 3 Jetis, Ponorogo, Jawa Timur.

Sejak pukul 06.00 WIB, Pengajian Embun Pagi Jetis Ponorogo kembali digelar—sebuah rutinitas yang telah berlangsung lebih dari 25 tahun dan menjadi ruang teduh bagi masyarakat untuk menimba ilmu, memperbaiki diri, sekaligus menjaga hati.

Baca juga: Bukan Hijabnya yang Salah, tapi Cara Kita Menilai

Pengajian kali ini mengangkat tema “Masuk Surga dengan Cara yang Telah Allah Tentukan, Bukan dengan Cara Manusia”, dengan penceramah Septian Adi Nugroho, S.Kom., atau yang akrab disapa Ustaz Adi. Jemaah hadir dari berbagai kalangan, mulai remaja SMP hingga orang tua yang setia menghidupkan pagi dengan ilmu dan zikir.

Hal Sederhana yang kian Terasa Mahal

Dalam ceramahnya, Ustaz Adi mengingatkan bahwa di tengah hiruk pikuk dunia, ada satu hal yang kini semakin mahal: keyakinan bahwa “Aku punya Allah”.

Baca Juga:  Diingat Guru setelah Sewindu: Kehormatan yang Tak Tertulis

“Sering kali kita tertipu dengan dunia, karena harapan kita diletakkan kepada selain Allah,” tuturnya.

Di era serbacepat ini, manusia kerap kecewa bukan karena harapannya gagal, tetapi karena harapan itu dititipkan pada tempat yang salah—pada manusia, pada dunia, pada sesuatu yang fana.

Pemuda Akhir Zaman dan Budaya FOMO

Ustaz Adi juga menyinggung kondisi pemuda masa kini. “Pemuda akhir zaman adalah seburuk-buruknya pemuda,” ujarnya.

Bukan untuk merendahkan, tetapi sebagai pengingat bahwa tantangan spiritual generasi sekarang jauh lebih berat. Informasi, hiburan, dan tren terbuka seluas-luasnya, hanya sejauh sentuhan jari.

Akibatnya, banyak anak muda terperangkap budaya fear of missing Out (FOMO)—mengikuti apa pun yang viral tanpa mempertimbangkan nilai dan dampaknya.

Di sebuah sekolah SMP, misalnya, seluruh siswa laki-laki terbiasa merokok. Ironisnya, anak yang tidak merokok dianggap aneh, dijauhi, bahkan di-bully. Kebenaran tampak janggal, sementara keburukan menjadi standar kewajaran. Sebuah tanda betapa jauhnya manusia bergeser dari nilai yang telah Allah tetapkan.

Lingkungan dan Pertemanan

Dalam pengajian tersebut, Ustaz Adi menekankan pentingnya memilih pergaulan. Ia mengibaratkan teman sebagai penjual minyak wangi yang memberikan keharuman, atau pande besi yang membuat seseorang terkena kotoran dan percikan api.

Baca Juga:  Anak Muda di Ambang Ramadan: Antara Tren Digital dan Panggilan Spiritual

Pesannya sederhana: jangan khawatir memiliki sedikit teman, sebab yang sedikit namun baik jauh lebih berharga dibanding banyak tetapi menjerumuskan.

Orang tua pun diajak lebih peka terhadap lingkar pertemanan anak. Di era keterbukaan informasi dan kebebasan sosial, penjagaan terhadap anak bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.

Semua Orang Punya Dosa

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan perbedaan cara pandang. Karena itu, Ustaz Adi mengingatkan agar tidak sibuk menilai orang lain.

“Sering kali seseorang merasa mampu menipu, memanipulasi, atau membangun citra di hadapan manusia. Padahal, ia justru sedang menipu dirinya sendiri,” ujarnya sambil mengutip Al-Baqarah: 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”

Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh ustaz Adi, dan berakhir pukul 07.00 WIB. Matahari yang mulai naik seolah menjadi metafora: ilmu yang ditaburkan pagi itu meresap perlahan, menghadirkan keteduhan, menyinari hati, dan sekaligus membangkitkan kesadaran. (#)

Baca Juga:  Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammmad Nurfatoni