Cerpen

Retakan Pertama di Lingkaran Busuk

26
×

Retakan Pertama di Lingkaran Busuk

Sebarkan artikel ini

Seorang pegawai jujur dikorbankan sistem korup, namun laporan rahasianya yang bocor memecah lingkaran busuk yang selama ini tak tersentuh.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sebuah negeri yang tampak berjalan seperti biasa, kenyataan justru berputar di balik panggung kekuasaan. Mereka yang mestinya mengawasi justru memiliki tangan-tangan yang sama kotornya.

Di tengah ironi yang dianggap lumrah itu, seorang pegawai kecil bernama Ranu mencoba tetap jujur, meski setiap langkahnya menjadikannya ancaman bagi mereka yang telah lama membangun lingkaran busuk.

Baca ceroeb lainnya: Api yang Tak Padam: Kisah Penyelamat di Gang Sempit

Hari ketika kabar penangkapan seorang pejabat besar pecah, Ranu hanya tersenyum pahit. Di televisi, wajah-wajah sok tegang para penegak hukum tampil seolah baru saja menangkap raja setan yang lama bersembunyi.

Di media sosial, orang-orang ribut membahasnya seakan itu kejutan besar. Padahal, bagi Ranu, semuanya terlalu familier—adegan yang sudah puluhan kali diputar ulang.

Ia menatap langit-langit kamar kosnya. “Serupa tapi beda merek,” gumamnya lirih. Sama saja. Pelaku berganti wajah, permainan tetap sama.

Pagi itu ia tetap berangkat ke kantor: instansi pengawasan keuangan negara, tempat yang ironisnya menjadi gong dari banyak sandiwara. Di lobi, poster besar bertuliskan BERSIH TANPA KORUPSI terpampang gagah. Ranu tahu, bahkan orang yang memasang poster itu menggunakan anggaran fiktif.

Ia membawa map hasil audit yang tengah ia teliti. Temuannya jelas: ada penyimpangan besar, jaringan panjang yang melibatkan beberapa nama yang ia kenal. Ia juga tahu risiko ketika laporan itu diserahkan. Di sini, laporan jujur bukan dihargai, melainkan dicurigai.

Baca Juga:  Ayat-Ayat di Ujung Senja

Namun hari itu, ia mengambil keputusan. Sudah cukup lama ia diam. Kali ini, ia ingin menyerahkan laporan itu secara resmi, tanpa memotong atau mengaburkan apa pun.

“Serius, Nu?” bisik Naya, rekan kerjanya yang paling ia percaya.

“Ya. Kalau terus diam, sama saja aku bagian dari mereka.”

Naya menatapnya lama, dengan campuran kagum dan takut. “Hati-hati. Orang jujur di sini biasanya enggak naik pangkat… tapi bisa pindah dunia.”

Ranu tertawa kecil, meski dadanya berat.

Di ruangan kepala divisi, aroma parfum mahal bercampur bau rokok menyambutnya.

“Silakan duduk, Ranu,” ucap Pak Sarman, dengan senyum yang tidak pernah sampai ke mata.

Ranu menyerahkan laporan itu. Sarman membalik lembar demi lembar, wajahnya mengeras. Perubahan kecil, tetapi cukup membuat tengkuk Ranu dingin.

“Ini… cukup berani,” kata Sarman akhirnya. “Tapi kita lihat nanti, ya. Kita proses.”

Ranu mengangguk. Ia tahu “diproses” bisa berarti banyak hal, tak semuanya baik.

Hari-hari berikutnya terasa aneh. Tatapan orang berubah. Ada yang seakan mengaguminya, tapi lebih banyak yang menjauh. Di kantor yang penuh pengawas korupsi, menjadi orang jujur adalah cara tercepat untuk terasing.

Dua pekan kemudian, Ranu dipanggil ke lantai tujuh—lantai yang jarang ia datangi. Ada rapat internal khusus.

Di ruangan itu, beberapa petinggi sudah duduk melingkar. Ranu diminta duduk di tengah.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

“Kami ingin membicarakan laporanmu,” ucap seorang pejabat senior. “Setelah penelaahan internal, laporanmu dianggap terlalu berlebihan.”

“Berlebihan bagaimana, Pak? Data yang saya masukkan riil dan dapat diverifikasi.”

“Kamu masih muda,” sela pejabat lain. “Tidak semua hal harus dilihat hitam putih. Ada konteks politik, strategi, dan… keseimbangan.”

Jeda panjang. Topeng-topeng itu menatapnya.

“Jadi… saya harus menarik laporan itu?”

“Kami tidak bilang begitu,” jawab Sarman sambil tersenyum. “Kami hanya meminta kamu menyesuaikannya. Agar tidak menimbulkan kegaduhan.”

“Saya tidak bisa mengubah kenyataan, Pak.”

Ruangan hening. Rapat ditutup tanpa kesimpulan. Ranu keluar dengan dada sesak. Ia tahu ia baru saja menandai dirinya sendiri sebagai ancaman.

Malam itu, pesan singkat masuk tanpa nama: Kalau mau selamat, jangan terlalu bersih. Semua orang di sini cuma beda merek. Jaga dirimu.

Ranu menatap lama, lalu mematikan ponsel.

Beberapa hari kemudian, negeri kembali heboh. Bukan karena pejabat ditangkap—itu biasa. Tapi karena seorang pegawai muda instansi pengawasan tertangkap melakukan pemerasan dalam audit sebuah perusahaan.

Nama itu terpampang jelas: Ranu Prasetyo.

Foto-fotonya tersebar. Diborgol. Menunduk. Disorot kamera.

Netizen mencaci: “Lihat? Pengawas keuangan pun sama busuknya.”

Di kantor, orang-orang membicarakan betapa liciknya Ranu, yang selama ini tampak bersih. Naya menangis diam-diam.

Di konferensi pers, para pejabat tampil tegas. Sarman berbicara dengan mimik sendu:

“Kami sangat kecewa dengan perilaku Ranu. Ini bukti kami tegas bahkan terhadap pegawai kami sendiri. Tidak ada kompromi terhadap korupsi.”

Baca Juga:  Hukum Menunda Qada Puasa Ramadan

Ia bicara seolah pahlawan moral.

Tak ada satu pun yang tahu bahwa beberapa jam sebelum ditangkap, Ranu dipanggil ke ruangan kosong. Hanya dua orang di sana: pejabat-pejabat yang namanya tercantum dalam laporan auditnya.

“Tarik laporanmu, dan semuanya selesai,” kata salah satu.

“Kalau tidak, kamu tahu risikonya.”

Ranu tersenyum tipis. “Kalau saya menarik laporan itu, apa bedanya saya dengan kalian?”

Tatapan datar. Ancaman yang tak perlu diucapkan.

Malam itu, bukti palsu disiapkan. Alur cerita dirancang rapi. Ia diborgol tepat sesuai naskah.

Ranu tidak melawan. Tidak menyangkal. Ia hanya menatap lampu-lampu kota dari balik mobil tahanan. Hidupnya boleh selesai—tapi setidaknya ia tidak berbohong.

Dan justru pada detik itulah retakan pertama muncul.

Keesokan harinya, sebuah dokumen anonim bocor ke publik: laporan asli Ranu, lengkap dengan daftar nama pejabat korup yang selama ini terlindungi.

Negeri itu gempar.

Yang paling mengejutkan bukan isi laporannya, tetapi sebuah catatan kecil di halaman terakhir:

“Jika laporan ini kalian baca sekarang, berarti saya sudah dikorbankan. Jangan percaya pada drama mereka. Serupa tapi beda merek hanya akan berhenti kalau ada yang berani patah, meski harus patah sendirian.”

Untuk kali pertama, publik melihat bukan sekadar kasus korupsi, tetapi lingkaran yang selama ini tak pernah retak.

Dan kini, retakan itu mulai terlihat—berkat seorang pegawai muda yang memilih jujur sampai akhir. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni