
Dunia hanyalah perhiasan sementara. Temukan bagaimana kesadaran akan kematian dan persiapan amal saleh bisa menjadi cahaya dan bekal abadi untuk setiap langkah hidup kita.
Oleh Ansorul Hakim, Guru PAI SMA Negeri 1 Bojonegoro
Tagar.co – Seringkali kita lupa bahwa hidup ini sangat singkat. Banyak dari kita masih berangan-angan panjang: membayangkan masa depan yang cerah, merancang rencana besar, dan mengejar mimpi setinggi langit.
Kita begitu fokus pada dunia, hingga persiapan menghadapi akhirat terlupakan. Padahal, kehidupan tidak pernah memberi jaminan bahwa kita akan sempat menikmati semua rencana yang telah dibuat.
Di sekitar kita, banyak orang yang sama. Mereka masih bermimpi, merancang masa depan, merasa punya banyak waktu—lalu tiba-tiba ajal menjemput. Tanpa tanda, tanpa jeda, tanpa kata pamit. Kubur menunggu setiap usia.
Kematian tidak harus menunggu tua, tidak harus sakit, dan tidak harus berada di tempat tertentu. Ia datang sesuai kehendak Allah, tepat pada waktunya, tanpa pernah terlambat atau terlalu cepat.
Allah mengingatkan kita dalam Al-Kahfi ayat 46: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan saleh yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
Segala harta, jabatan, popularitas, dan pencapaian hanyalah perhiasan sementara. Mereka bisa memikat, tetapi tidak bisa menjadi bekal abadi. Sebaliknya, amal saleh adalah harta yang kekal. Ia tidak hilang saat kita meninggal, bahkan menjadi cahaya dan teman di alam kubur.
Allah juga menegaskan dalam Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”
“Hari esok” yang dimaksud adalah hari akhirat, kehidupan yang kekal. Ayat ini mengajak kita untuk menilai diri, melihat apa yang telah kita siapkan sebagai bekal. Bukan tabungan materi, tetapi tabungan amal yang akan menemani kita setelah dunia berakhir.
Rasulullah Saw pun menegaskan: “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati. Dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (Tirmizi)
Dalam kehidupan sehari-hari, cerdas sering dikaitkan dengan sukses, harta banyak, atau populer. Namun menurut Rasulullah Saw, orang cerdas adalah yang menyadari hidup ini singkat dan menggunakan waktunya untuk menyiapkan bekal akhirat.
Pesan untuk Generasi Z
Para ulama menekankan hal serupa. Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, lenyaplah sebagian dari diri kalian.”
Setiap detik yang kita jalani membawa kita lebih dekat pada kematian. Waktu terus bergerak, siang dan malam, menemui tua dan muda, laki-laki dan perempuan, tanpa pandang bulu. Kematian seperti bayangan yang mengejar, tanpa lelah, tanpa berhenti.
Menyadari hal ini, kita tidak boleh menunda amal saleh. Selagi masih ada kesempatan, mari kumpulkan bekal untuk akhirat. Taubat jangan ditunda. Shalat jangan diringankan. Kebaikan jangan ditangguhkan. Waktu yang Allah beri bukan untuk disia-siakan, tetapi untuk diisi dengan makna.
Bagi generasi Z yang hidup di era digital, kesadaran ini semakin penting. Dunia maya dan hiburan sering membuat hidup terasa panjang, padahal waktu tetap berjalan. Dunia boleh dikejar, tetapi akhirat harus dipersiapkan. Dunia tempat beramal, akhirat tempat menuai hasil.
Hidup terlalu singkat untuk dilalui dengan kelalaian. Akhir bisa datang kapan saja. Jadikan setiap hari kesempatan memperbaiki diri, setiap detik peluang menambah bekal untuk kehidupan abadi. Semoga Allah memberi kita taufik untuk selalu ingat mati, memperbaiki amal, dan meraih husnul khatimah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












