Cerpen

Cahaya dari Senyum Abah

75
×

Cahaya dari Senyum Abah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi oleh Mohemmad Nurfatoni/AI

Senyum kecil Abah ternyata menyimpan pelajaran besar tentang hidup, kesabaran, dan cara pulang ke rumah hati.

Cerpen oleh Qosdus Sabil

Tagar.co – Ada sore yang begitu hening hingga suara jarum jam terdengar seperti langkah kaki dari masa lalu. Di sela rutinitas yang melelahkan bersama deadline dan rapat-rapat yang tak pernah selesai, ponselku bergetar pelan.

Sebuah foto masuk.

Dari Kak Hans — pemilik Pool Bus Malam Pucuk rute Jakarta–Bandung.

Di layar kecil itu, Abah berdiri dengan batik kenangan yang kukenal sejak kecil. Abah terlihat tenang dan penuh wibawa di depan mikrofon, menyampaikan mauizah hasanah pada akad ijab kabul pernikahan Kak Hans.

Yang paling mencuri perhatianku bukan sikap tangannya yang terlipat sopan, bukan pula suasana acara yang terlihat penuh khidmat, melainkan seutas senyumnya—senyum yang seolah menyala dari dalam, seperti bulan yang menerangi kegelapan malam tanpa pernah berteriak bahwa ia sedang memberi cahaya.

Saat melihat foto itu, dadaku menghangat. Ada getaran pelan, semacam rindu yang selama ini bersembunyi seperti debu di sudut lemari—diam, tapi ada.

Rindu itu tiba-tiba menjadi hidup.

Abah menjadi guru bagi banyak orang. Walaupun tidak ada gelar panjang di depan namanya, bagiku setiap langkahnya adalah pelajaran, setiap diamnya adalah tafsir panjang tentang kesabaran.

Selebihnya, hidup yang berbicara.

Jika aku terlalu keras kepala, Abah hanya menatap—bukan marah, bukan menggerutu—cukup dengan tatapan teduh dan senyum tipis itu. Anehnya, aku justru lebih malu oleh diamnya daripada seribu kemarahan dari orang lain.

Baca cerpen lainnya: Air Putih Pak Umar

abah mengajariku bahwa orang baik tidak akan sibuk memperlihatkan kebaikannya—ia hanya melakukannya, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Ada satu fase dalam hidupku yang sampai hari ini masih terasa jelas: perjalanan malam hari di atas sepeda motor bebek kesayangan keluarga kami. Dari satu masjid ke masjid lain, dari dusun ke kecamatan, dari surau kecil hingga ke pendopo.

Baca Juga:  Tiket Terakhir Menuju Pulang

Abah tidak pernah melatihku berceramah. Aku hanya diminta untuk mengantarkannya. Saat Abah memberikan ceramah, kadang aku mengantuk, kadang merasa lemas karena menahan lapar.

Tapi kini, ketika semuanya telah hilang menjadi kenangan, aku justru rindu suara gigi motor berkedut saat dihidupkan, rindu bau pecinya yang selalu wangi, rindu langkah pelannya saat masuk masjid yang selalu disertai senyum hormat pada siapapun yang berada di dalam.

Tanpa kata-kata, tanpa ijazah khusus, tanpa menunjuk hidungku sambil berkata: “Kamu harus jadi ini atau itu.”

Tak pernah ada nasihat berpanjang lebar. Beliau lebih banyak tersenyum–senyum yang kadang menjadi restu, kadang menjadi peringatan.

Beliau hanya menuntunku sampai di batas yang bisa dia jangkau, lalu membiarkanku mencari jalanku sendiri.

Sesekali menoleh, sekadar memastikan agar aku tidak tersesat.

Jika aku pulang dari rantau, beliau tidak bertanya panjang lebar. Hanya sebuah kalimat singkat:

“Libur berapa lama di rumah?”

Seolah beliau ingin memastikan berapa lama aku ingin waktu bersama keluarga di rumah. Agar aku bisa memanfaatkan kesempatan liburan untuk sejenak melepas kepenatanku.

Beliau mungkin sudah tahu bahwa aktivis mahasiswa sepertiku tidak sedang menjalani hidup yang nyaman. Mungkin terlihat dari badanku yang kurus, dan rambutku yang tidak lagi rapi.

Apalagi Abah tentu sangat tahu bahwa diriku adalah seorang demonstran. Seolah aku telah mewarisi semangatnya dalam melawan status quo dan kemapanan.

Aku masih ingat: Dalam hidupnya yang panjang, hanya sesekali Abah menuliskan memo pendek disertai kiriman makanan kecil pengobat rindu buatan Umiku.

Abah hanya dua kali meneleponku.

Pertama — saat Umik mengalami kecelakaan lalu lintas. Lengan kanan patah, tulang panggul retak.
Suara Abahku pelan, nyaris datar. Abah memintaku segera pulang.
Tidak ada kepanikan, hanya kepasrahan yang kokoh.

Baca Juga:  Komandan Mirdasy dan Kebangkitan Kokam di Pusaran Reformasi

Kedua — menjelang ujian tesis S2-ku.
Abah tak banyak bertanya tentang persiapan ujianku. Dia hanya bilang:
“Kak Lis dapat beasiswa S3. Kamu juga pasti bisa.”

Lalu Abah tertawa — tawa kecil yang menunggu jawabanku bukan dalam kata, tetapi dalam tindakan.

Selebihnya?
Diam.
Dan senyum.

Itulah telepon pertama dan terakhir dari Abah.

Jumat terakhir itu bukan hari yang asing. Peristiwa itu masih melekat kuat di kepalaku. Tidak ada firasat. Tidak ada mimpi. Tidak ada tanda-tanda.

Setelah akikah Afra—anak keduaku—Abah menyerahkan tugas khatib dan imam salat Jum’at kepadaku.

Aku heran.
Karena selama ini, walau aku yang khotbah, Abah akan tetap bertindak sebagai imam.

Namun hari itu — Abah justru menyuruhku sekaligus jadi imam, dan dia berdiri di belakangku.

Pada rakaat pertama usai Fatihah, aku membaca Sabbihisma rabbikal a’la.

Di rakaat kedua, tanpa terencana, lisanku membaca ayat-ayat terakhir Surah ‘Abasa’:

“Faiza jaa’atish shakhkhah. Yauma yafirrul mar’u min akhihi. Wa ummihi wa abihi. Wa shaahibatihi wa banihi…”

Suara bacaan itu tersendat.
Tangisku pecah, bergulir bersama suara yang bergetar.

Dari belakang, kudengar suara isak pelan.
Abah menangis.
Dan Pak Musta’in—sahabat sekaligus guru kami—ikut tenggelam dalam haru yang tak bisa dijelaskan oleh kata.

Belakangan aku mengerti:
Bukan aku yang memilih ayat itu.
Ayat itu yang memilihku.

Karena itu adalah Jumat terakhir kami dalam satu jemaah.

22 Agustus 2007. Hujan mengguyur Jakarta tanpa henti saat kabar itu datang.

Pesawat yang membawaku pulang terasa tidak berjalan, tapi melayang di antara rasa tidak percaya dan keyakinan bahwa setiap jiwa memang memiliki jadwal pulangnya sendiri.

Baca Juga:  Sepeda Ontel dan Jalan Sabar Buk Jam

Abah wafat setelah wudu, sebelum Zuhur.
Tenang.
Seolah Abah pulang dengan cara yang paling indah yang bisa diminta oleh seorang hamba.

Di pemakaman, banyak yang berkata:

“Mas… Alhamdulillah… Kami ingin diwafatkan seperti Abah…”

Aku hanya bisa mengangguk. Kata-kata itu terasa berat karena aku tahu, kematian Abah bukan sekadar akhir, tapi puncak dari hidup yang telah dijalani dengan benar.

Aku tidak mampu menjawab.
Bagaimana aku bisa?

Sebab ketika seseorang hidup dengan jujur, sederhana, dan tidak ingin dipuji—Allah sendiri yang akan memuliakannya.

Malam semakin larut ketika para tamu mulai pulang. Beberapa keluarga jauh bahkan ada yang masih berdatangan.

Menjelang Subuh, Pak Musta’in menghampiriku. Dia baru selesai Tahajud. Dengan suara gemetar, Pak Mustain bercerita tentang percakapan terakhirnya pagi itu bersama Abah.

Aku mendengarkan tanpa menyela–karena aku tahu, itu bukan sekadar cerita, tapi ucapan penuh pesan.

Sebulan kemudian, Pak Musta’in menyusul Abah berpulang.
Seakan dia tidak mau terlalu lama hidup tanpa sahabatnya, bahkan hingga ke alam keabadian.

Kini, setiap kali mengenang Abah, aku merasa seperti sedang menatap bulan: mungkin jauh, mungkin tak bisa kugapai, tapi cahayanya tetap sampai—menerangi bagian diriku yang hampir lupa caranya pulang.

Karena ternyata ada pelajaran yang tidak diajarkan dengan ceramah, bukan dengan diktat, bukan pula dengan gelar.

Pelajaran itu diajarkan dengan kehidupan.

Dan kadang—cukup dengan senyum.

Jika suatu hari anak-anakku bertanya:

“Ayah dulu belajar dari siapa?”

Aku akan menjawab:

“Aku tidak belajar dari buku.
Aku belajar dari cahaya senyum kakekmu.”

Dan semoga, seperti cahaya matahari dan bulan yang tidak pernah padam, kebaikan itu terus hidup melalui hidup kami.

Amin! (#)

Ciputat, 6 Jumadil Akhir 1447/27 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni