Telaah

Luka Asuh dalam Keluarga: Dosa atau Ujian?

34
×

Luka Asuh dalam Keluarga: Dosa atau Ujian?

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Banyak anak tumbuh dengan luka yang tak pernah mereka pilih. Tanpa disadari, orang tualah yang kerap menanamkan duri itu melalui pola asuh keliru yang dianggap “biasa”. Islam mengingatkan, amanah mendidik anak bukan ruang untuk lalai.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka dengan kasih sayang serta sesuai ajaran Islam.

Ketika orang tua melakukan pola asuh yang keliru—seperti kekerasan verbal (membentak, menghina), pengabaian kebutuhan emosional, atau sikap pilih kasih—tindakan itu dapat termasuk dosa atau bentuk kelalaian dalam menunaikan amanah.

Rasulullah saw. bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah dosa bagi seseorang ketika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”
(Abu Dawud dan An-Nasai)

Karena itu, hendaknya orang tua menasihati anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ketegasan terkadang diperlukan sebagai bentuk cinta sejati, namun harus proporsional dan bertujuan mendidik, bukan melukai.

Baca Juga:  Saat Pagi Menyapa: Memulai Hari dengan Energi Syukur

Baca juga: Menyingkap Rahasia Wudu

Demikian itu merupakan bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak anak merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanat yang Allah karuniakan. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa 58:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”

Banyak orang tua tidak menyadari bahwa dirinyalah yang sering menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka pada anak—bukan karena anak yang “bandel”, tetapi karena pola asuh yang salah.

Penyebab Luka Asuh

Di antara penyebab luka asuh dalam keluarga adalah:

1. Orang Tua Bersikap Kasar

Kekerasan fisik, pelecehan, serta tidak memberi ruang dialog dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. Rasulullah saw. bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ…

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia. Dan Allah membenci orang yang kata-katanya kotor dan kasar.”
(Tirmizi, hasan sahih)

Hadis tersebut menegaskan bahwa untuk menjadi orang tua berakhlak mulia, seseorang harus menjaga lisannya dan menjauhi sikap keras. Kekasaran orang tua akan terekam dalam jiwa anak hingga dewasa dan meninggalkan luka batin yang mendalam.

Baca Juga:  Serambi Madinah dan Proklamatornya: Nani Wartabone dalam Sejarah Gorontalo

2. Memanjakan Anak secara Berlebihan

Memenuhi seluruh keinginan anak, mengerjakan semua kewajibannya, dan tidak memberikan konsekuensi atas kesalahan dapat membentuk anak yang egois, tidak bertanggung jawab, dan tidak siap menghadapi masalah. Nabi saw. bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (Al-Hakim)

Orang tua perlu melibatkan anak dalam proses meraih sesuatu, misalnya ketika ingin membeli gawai, anak perlu belajar menabung. Pola asuh memanjakan berlebihan akan membentuk mental “tahunya beres” dan membuat anak tidak mandiri.

3. Membela Anak Ketika Berbuat Kesalahan

Sebagian orang tua tidak mengajarkan anak untuk bertanggung jawab. Kesalahan anak ditutupi, bahkan dibela. Hal ini membuat anak merasa selalu benar dan sulit memaafkan orang lain. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Ajakan ini mengisyaratkan pentingnya mendidik anak dengan nilai tanggung jawab, sikap pemaaf, dan kelapangan dada.

Baca Juga:  Jangan Intervensi Allah Dia Sibuk Mengurusi Hajat MakhlukNya      

Kesimpulan

Luka asuh atau trauma emosional akibat pola asuh keluarga—baik yang terjadi karena kesengajaan maupun kelalaian—adalah dosa bagi orang tua dan ujian bagi anak.

Karena itu, orang tua harus senantiasa mengevaluasi diri dan berupaya memperbaiki cara mendidik demi tumbuhnya generasi yang sehat, berakhlak mulia, dan kuat secara spiritual maupun emosional. Wallaahualambisawab. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni