Opini

Kader dan Karyawan Muhammadiyah

54
×

Kader dan Karyawan Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Kader adalah penggerak kegiatan organisasi yang sudah paham tujuan gerakan Muhammadiyah. Di kalangan mereka ada yang menjadi karyawan di amal usaha. Sayangnya, ada karyawan yang niatnya cuma bekerja, abai dengan misi dakwah.
Ilustrasi kader Muhammadiyah

Kader adalah penggerak kegiatan organisasi yang sudah paham tujuan gerakan Muhammadiyah. Di kalangan mereka ada yang menjadi karyawan di amal usaha. Sayangnya, ada karyawan yang niatnya cuma bekerja, abai dengan misi dakwah.

Oleh Eko Budi Agus Priatna, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sidoarjo.

Tagar.co – Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. (K.H. Ahmad Dahlan)

Kalimat itu sangat populer di kalangan warga Muhammadiyah. Sering juga diceramahkan. Namun dalam praktik tak semua orang bisa melaksanakan.

Pada 18 November 2025 nanti, Muhammadiyah berusia 113 tahun. Usia yang panjang bagi organisasi Islam tertua di Indonesia yang memegang misi dakwah amar makruf nahi munkar.

Usia yang matang ini tentu tidak datang begitu saja. Ia lahir dari semangat perjuangan, keikhlasan, dan cita-cita besar untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan.

Namun, di tengah kebanggaan itu, terselip kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Yaitu krisis kader.

Kaderisasi adalah urat nadi bagi keberlangsungan sebuah gerakan. Tanpa kader yang tangguh dan berjiwa dakwah, semangat Muhammadiyah akan kehilangan tenaga penggerak.

Selama ini berbagai upaya sudah ditempuh: mulai dari kegiatan formal Darul Arqam dan Baitul Arqam, hingga kajian di tingkat Ranting sampai Wilayah.

Tak sedikit pula pengkaderan dilakukan melalui organisasi otonom, amal usaha, dan bahkan lewat lingkungan keluarga Muhammadiyah.

Namun, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Di lapangan, gerakan dakwah di tingkat akar rumput masih didominasi oleh mereka yang telah berusia lanjut.

Karyawan Muhammadiyah

Fenomena ini tampak jelas ketika pengajian di tingkat ranting berlangsung. Panitia dan jemaahnya didominasi para sesepuh yang setia menjaga kegiatan dakwah.

Sementara generasi muda jarang terlihat. Ironisnya, warga yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah sebagai dosen di perguruan tinggi Muhammadiyah, guru di sekolah Muhammadiyah, atau pegawai di rumah sakit Muhammadiyah, kehadirannya dalam kegiatan dakwah masyarakat amat jarang.

Baca Juga:  AUM dan Tantangan Menjaga Roh Kaderisasi Muhammadiyah

Dakwah dianggap urusan kader dan pimpinan, bukan bagian dari tanggung jawab karyawan amal usaha.

Lebih memprihatinkan lagi, dalam proses seleksi pegawai di amal usaha Muhammadiyah mengabaikan kualitas keagamaan.

Pernah ditemukan fakta bahwa sebagian pegawai yang telah mengabdi bertahun-tahun belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, belum memahami tata cara wudu yang benar, bahkan masih keliru dalam gerakan salat.

Ini bukan sekadar kelemahan pribadi, melainkan tanda kaburnya ruh keislaman yang menjadi dasar berdirinya Muhammadiyah. Krisis kader telah menjelma menjadi krisis identitas.

Generasi muda Muhammadiyah kini banyak disibukkan oleh pekerjaan dan aktivitas pribadi. Fokus mereka beralih pada dunia profesional dan kehidupan pragmatis, sementara kegiatan dakwah di ranting tidak lagi menjadi prioritas.

Akibatnya, organisasi kehilangan tenaga muda yang seharusnya menjadi penggerak utama di lapangan.

Padahal, keterbatasan sumber daya yang dialami ranting—baik tenaga, dana, maupun fasilitas—bisa ditopang oleh mereka yang bekerja di amal usaha, jika kesadaran berorganisasi dan berdakwah masih hidup.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kurangnya pemahaman tentang makna dan peran Muhammadiyah.

Generasi muda yang lahir dan tumbuh di lingkungan persyarikatan, tidak memahami nilai-nilai yang melandasi gerakan ini.

Muhammadiyah mereka kenal hanya sebagai tempat bekerja atau bersekolah, bukan sebagai gerakan dakwah dan pencerahan.

Kesadaran Ideologis

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali proses pengkaderan yang bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh kesadaran ideologis.

Pengkaderan perlu didefinisikan ulang. Bukan sekadar pelatihan formal, melainkan proses menumbuhkan kesadaran, rasa memiliki, dan tanggung jawab terhadap gerakan.

Baca Juga:  Peran Strategis Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk membangkitkan kembali semangat kader muda Muhammadiyah.

Pertama, Muhammadiyah perlu menciptakan program yang menarik dan relevan bagi generasi muda.

Dunia mereka berbeda dari generasi sebelumnya; mereka tumbuh dalam era digital yang dinamis dan terbuka. Karena itu, pendekatan kaderisasi juga perlu menyesuaikan.

Program seperti Muhammadiyah Youth Camp, Entrepreneur Challenge, Social Movement, hingga Creative Festival dapat menjadi wadah yang menyenangkan sekaligus mendidik.

Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda belajar kepemimpinan, kerja sama, serta nilai-nilai dakwah yang kontekstual.

Kedua, membangun kesadaran tentang pentingnya peran Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat.

Sosialisasi dan pendidikan kader perlu menekankan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi amal, tetapi gerakan Islam berkemajuan yang membawa misi kemanusiaan dan keadaban.

Ketika generasi muda memahami hal ini, mereka akan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ketiga, memanfaatkan teknologi untuk menghidupkan dakwah dan kaderisasi.

Di era digital, ruang dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim.

Media sosial, platform daring, dan aplikasi interaktif bisa menjadi alat yang efektif untuk mengajak, menginspirasi, dan membentuk jejaring kader muda Muhammadiyah yang luas dan inklusif.

Keempat, memperkuat kerja sama dengan komunitas lokal. Muhammadiyah tidak boleh berjalan sendiri.

Dengan menggandeng organisasi dan komunitas lain, gerakan ini bisa menunjukkan bahwa Islam berkemajuan bukan sekadar gagasan, tetapi nyata dalam kerja sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.

Melalui kegiatan kolaboratif, kader muda akan belajar bahwa dakwah bukan hanya berbicara, melainkan berbuat.

Baca Juga:  AUM dan Tantangan Menjaga Roh Kaderisasi Muhammadiyah

Menjaga Api Perjuangan

Berbagai program itu sering kali gagal meninggalkan bekas karena tidak berkelanjutan. Banyak kegiatan berhenti setelah acara selesai.

Tidak ada kesinambungan yang menjaga semangat peserta tetap hidup. Selain itu, anak muda sering kali hanya dijadikan peserta, bukan pelaku utama.

Padahal, mereka akan merasa memiliki jika dilibatkan sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan. Pengkaderan yang berhasil bukan yang banyak peserta, tapi yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keterikatan.

Karena itu, penting membangun sistem kaderisasi yang berkesinambungan dan partisipatif. Setiap program perlu memiliki tahapan yang jelas, dari pengenalan, pembinaan, hingga pelibatan aktif.

Bentuklah komunitas kader muda yang hidup, tempat mereka saling bertukar gagasan, memperkuat iman, dan berkreasi bersama.

Dengan begitu, semangat dakwah tidak berhenti di ruang formal, tetapi meresap dalam keseharian.

Pada akhirnya, kaderisasi di Muhammadiyah bukan sekadar upaya menyiapkan penerus organisasi, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk menyalakan kembali api keikhlasan dalam berjuang di jalan dakwah.

Setiap kader muda perlu disadarkan bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan soal status keanggotaan, tetapi panggilan nurani untuk terus berbuat bagi kemajuan umat.

Jika para pendahulu berjuang dengan keterbatasan, maka generasi kini semestinya berjuang dengan kelebihan yang dimilikinya. Bisa ilmu, waktu, atau teknologi.

Muhammadiyah tidak menuntut semua menjadi penceramah atau pengurus, tetapi berharap setiap warganya menjadi pelaku dakwah di bidangnya masing-masing.

Ketika semangat itu tumbuh di hati setiap kader muda, maka usia 113 tahun bukan sekadar angka tua, melainkan tanda bahwa api perjuangan itu masih menyala. Terus hidup dalam denyut zaman yang berubah.(#)

Penyunting Sugeng Purwanto