FeatureUtama

Pidato Lengkap Haedar Nashir di Pembukaan Tanwir Muhammadiyah

41
×

Pidato Lengkap Haedar Nashir di Pembukaan Tanwir Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Kupang, NTT, Rabu (4/12/24) (Tagar.co/Adam)

Tagar.co – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pidato dalam Pembukaan Tanwir dan Milad Ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/12/24).

Berikut naskah pidato lengkap Haedar Nashir:

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ المُرْسَلِينَ، وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

  • Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Kehormatan) (Purn) Bapak Prabowo Subianto.
  • Yang kami hormati Ketua MPR-RI, Ketua DPR-RI, Ketua DPD-RI, YM Ketua MA, Menteri Kabinet Indonesia Merah Putih; Panglima TNI, Kapolri, Ketua KY, Gubernur NTT, dan para Pejabat Negara lainnya.
  • Yang Mulia para Duta Besar dan perwakilan Negara Sahabat.
  • Yang kami hormati Anggota PP Muhammadiyah, Ketua Umum dan Anggota PP Aisyiyah, Prof Din Syamsuddin dan istri, Seluruh Anggota & Peserta Tanwir, Ketua dan anggota PWM-PW NTT, Rektor UMK, serta seluruh pimpinan dan anggota Persyarikatan lainnya.
  • Yang kami hormati para tamu undangan khusus: Bapak Hashim Djojohadikusumo, Bapak Yendra Fahmi & istri, Bapak Jeffrie Geovanie, Bapak Gunawan Lim, Bapak Keny Nanik, dan tamu lainnya yang tidak dapat kami sapa satu persatu.
  • Para tamu undangan dan hadirin yang kami hormati!

Kami atas nama Pimpinan Pusat dan keluarga Persyarikatan Muhammadiyah secara khusus menyampaikan terima kasih atas perkenan kehadiran Presiden RI Bapak Prabowo Subianto pada pembukaan Tanwir dan Milad 112 di Universitas Muhammadiyah Kupang hari ini. Di Tengah padatnya acara kenegaraan setelah kunjungan dan acara resmi di luar negeri, beliau menyempatkan hadir di acara ini.

Kami juga berterima kasih kepada Bapak Presiden RI atas kepercayaan kepada para kader kami untuk mengemban amanat pada Kabinet Indonesia Merah Putih di berbagai posisi, yang menunjukkan kepercayaan dan penghargaan tinggi terhadap Muhammadiyah.

Secara khusus kami memohon kesediaan Bapak Presiden pada waktunya nanti untuk membuka dan menyampaikan amanat dalam Pembukaan Tanwir dan Milad 112 Muhammadiyah ini.

Sekaligus dimohon perkenan melakukan groundbreaking secara virtual Pembangunan RS Akademik UMK, serta menyaksikan MoU Program Makan Bergizi antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan Muhammadiyah.

Yth Bapak Presiden dan Hadirin yang kami hormati!

Alhamdulillah Tanwir Muhammadiyah periode 2022-2027 sekaligus Milad ke-112 dapat terlaksana di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK). Tanwir sebagai permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar tahun ini akan berlangsung dua hari sampai 6 Desember 2024.

Pemilihan Kupang NTT sebagai tempat Tanwir dan Milad atas pertimbangan memberi apresiasi dan dukungan penuh atas pengkhidmatan dan kemajuan Muhammadiyah NTT, khususnya Universitas Muhammadiyah Kupang, yang telah dan terus berkiprah memajukan daerah dan masyarakat NTT. Kami ingin terus menggalang kerjasama dengan semua pihak untuk gerakan kemakmuran di NTT dan memperluas amal usaha Muhammadiyah di seluruh tanah air.

UMK dan amal usaha lain di NTT telah dirasakan kehadirannya oleh masyarakat luas. Mayoritas mahasiswa UMK adalah saudara-saudara kami yang beragama Kristen-Katolik, sehingga UMK sering disebut “Universitas Muhammadiyah Kristen”. Para simpatisan Muhammadiyah di sini secara sosiologis sering disebut “Krismuha”, Kristen Muhammadiyah. Semua itu membuktikan kehadiran “Muhammadiyah untuk Semua”. Muhammadiyah tidaklah untuk dirinya, tetapi untuk Bangsa dan kemanusiaan semesta.

Karenanya kami bersyukur kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada seluruh pihak karena Muhammadiyah dapat bertahan, bertumbuhkembang, dan bergerak berkesinambungan untuk terus menebar amal usaha yang bermanfaat untuk orang banyak sejalan dengan misi Islam “Rahmatan lil-‘Alamin”.

Kami juga berterima kasih kepada masyarakat luas atas apresiasi dan kepercayaan yang tinggi terhadap kiprah Muhammadiyah. Liputan Kompas menyatakan: “Berdiri lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah berkembang menjadi salah satu organisasi keagamaan besar di Indonesia. Memasuki usia 112 tahun, publik menitipkan harapan akan kontribusi organisasi ini terhadap langkah Indonesia ke depan.

Baca Juga:  Masjid 'Ramah Musafir' Ar-Royyan Muhammadiyah Diresmikan Haedar Nashir

Apresiasi dan harapan masyarakat kepada Muhammadiyah ini terekam dalam jajak pendapat Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 21-23 Oktober 2024. Hasil jajak pendapat menunjukkan mayoritas responden (91 persen) memandang positif citra persyarikatan ini” (Kompas, 18/11/2024).

Apresiasi publik yang positif tentu tidak membuat lengah Muhammadiyah. Muhammadiyah akan terus berkiprah memajukan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan semesta sebagaimana inspirasi lahirnya Gerakan Islam ini oleh K.H. Ahmad Dahlan 112 tahun yang lalu:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 104).

Yth Bapak Presiden dan Hadirin yang kami hormati!

Tema Milad dan Tanwir tahun ini ialah “Menghadirkan Kemakmuran Untuk Semua”. Kemakmuran suatu negeri merupakan kondisi kehidupan yang tanahnya subur dan penduduknya berkembang pesat, aman, damai, serta sejahtera lahir dan batin. Itulah Indonesia makmur “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Islam menyebutnya “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur”.

Indonesia makmur merupakan salah satu tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945. Kemakmuran sering dikaitkan dengan keadilan sejalan Sila Kelima Pancasila, “Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kemakmuran harus merata dan tidak boleh ada kesenjangan sosial-ekonomi yang tajam. Soekarno dalam Pidato 1 Juni 1945 dengan tegas menyatakan, “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu”.

Kemakmuran Indonesia yang adil-merata sejalan pasal 33 UUD 1945, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Menurut Bung Hatta, pasal 33 adalah “sendi utama bagi politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia”.

Landasannya asas kekeluargaan. Pasal tersebut menurut Hatta menentang segala bentuk “individualisme dan kapitalisme secara fundamental”. Inilah “politik kemakmuran yang sehat” bagi seluruh rakyat Indonesia, sekaligus pokok dari pelaksanaan kesejahteraan sosial.

Sistem ekonomi yang ditanam dalam UUD 1945 itu menurut Bung Hatta ialah ekonomi terpimpin. Dalam sistem ekonomi terpimpin pemerintah harus bertindak, supaya tercapai suatu penghidupan sosial yang lebih baik. Penghidupan sosial itu harus berlandaskan keadilan sosial.

Dalam masa penjajahan semuanya itu sukar dicapai karena semuanya bergantung kepada si penjajah. Tetapi setelah merdeka Indonesia dengan berdasarkan kedaulatan rakyat, semua itu dapat dilaksanakan secara berangsur-angsur dengan langkah yang tegap dan tekad kuat untuk melaksanakannya.

Peranan pemerintah dan politik kemakmuran sangatlah penting bagi usaha menghadirkan Indonesia berkemakmuran. Pak Prabowo Subianto dalam buku “Paradoks Indonesia dan Solusinya” tahun 2022, dengan tegas menyatakan, “Dalam membangun ekonomi, menyelamatkan negara, membangun kemakmuran, dan mengurangi kemiskinan, pemerintah harus menjadi pelopor.

Pemerintah tidak boleh hanya menjadi wasit. Ini bedanya paham neoliberal dan paham ekonomi konstitusi”. Pak Prabowo yang kini menjadi Presiden Indonesia terpilih, bahkan sudah lama mengingatkan, “Penyakit yang paling mendesak dari tubuh ekonomi Indonesia saat ini adalah mengalir keluarnya kekayaan nasional dari wilayah Indonesia. Terlalu besar hasil dari ekonomi Indonesia yang disimpan dan dimanfaatkan di luar negeri”.

Karena itu betapa penting “political will” pemerintah dalam mengembalikan asas dan kebijakan politik ekonomi untuk “sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Agar perekonomian Indonesia benar-benar diperuntukkan bagi kemakmuran untuk semua.

Kami percaya dengan spirit ekonomi kerakyatan berbasis kekeluargaan, gotong royong, keadilan sosial, dan Persatuan Indonesia, maka golongan ekonomi kuat dan mayoritas rakyat kecil di Republik ini dapat dipersatukan untuk membangun kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kuncinya pada para pemimpin bangsa berjiwa negarawan dan pemersatu Indonesia!

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

Yth Bapak Presiden dan Hadirin yang kami hormati!

Negeri yang makmur selaras dengan pandangan Islam tentang negara ideal, “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur” sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Saba ayat ke-15:

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ ١٥

Artinya: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun” (Q.S. Saba: 15).

Kaum Saba menetap di sebelah selatan negeri Yaman, daerahnya sangat subur. Hidup mereka makmur dan telah mencapai kemajuan tinggi. Mereka berhasil membangun “Bendungan Ma’rib” atau “Bendungan Al-Arim”, yang bekas arkeologinya ditemukan oleh peneliti Perancis tahun 1843.

Setelah itu para peneliti lain menemukan beberapa batu tulis di antara reruntuhan Bendungan itu. Fakta sejarah itu membuktikan, dahulu kala di sebelah Selatan Yaman telah berdiri sebuah kerajaan yang maju, makmur, serta tinggi kebudayaannya. Namun karena ingkar kepada Tuhan akhirnya negeri Saba hancur dan jatuh peradabannya.

Kemakmuran sebagai dasar peradaban menurut Ibnu Khaldun disebut “al-Umran”. “Al-Umran” dalam konsep Ibnu Khaldun ialah wujud peradaban berkemajuan yang disebut “al-Hadlarah”.

Dalam peradaban Umran manusia hidup menetap dan makmur. Mereka hidup dalam peradaban kota (al-madinah), yang berbeda dari kehidupan Badawah yaitu masyarakat Badawi Arab yang berbasis komunitas dusun dan hidup tertinggal. Kunci meraih peradaban maju “Umran” dan “Hadlarah” menurut Bapak Sosiologi Klasik tersebut tergantung pada manusianya.

Muhammadiyah menuju negeri “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur” menempuhnya dengan dakwah membangun “Khaira Ummah”, yakni masyarakat yang terbaik. Di antara ciri Khaira Ummah ialah “Ummatan Wasatha litakunu Syuhadaa ala al-Nas”, umat tengahan atau moderat yang menjadi saksi sejarah dalam membangun kehidupan berkemajuan.

Masyarakat terbaik menurut Muhammadiyah adalah Masyarakat Utama yang adil-makmur dan diridai Allah, yang dalam tujuan Muhammadiyah disebut “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Adapun ciri Masyarakat Islam yang utama ialah: Berketuhanan dan beragama, Berpersaudaraan, Berakhlak dan beradab, Berhukum syar’i, Berkesejahteraan, Bermusyawarah, Berihsan, Berkemajuan, Berkepemimpinan, dan Berketertiban (Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta).

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam merupakan “Role Model” atau “Eksemplar” dari Masyarakat Utama itu. Muhammadiyah dalam seluruh usahanya sejak berdiri terus berkhidmat untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta untuk menebar segala kebaikan yang utama melalui berbagai amal usaha pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta gerakan dakwah pencerahan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan.

Muhammadiyah melalui seluruh amal usaha dan gerakannya mengaktualisasikan Islam sebagai “Din Al-Hadlarah”, yakni Agama yang membangun peradaban berkemajuan. Gerakan berkemajuan antara lain melahirkan orientasi memakmurkan kehidupan sebagaimana fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi.

Kemakmuran itu merupakan salah satu pilar dari peradaban berkemajuan. Demikian halnya melalui gerakan perempuan Aisyiyah sebagai role model “Perempuan Berkemajuan” sejatinya Muhammadiyah dan Aisyiyah menghadirkan gerak berkemajuan untuk memakmurkan kehidupan milik bersama.

Negeri yang makmur dalam pandangan Muhammadiyah penduduknya niscaya beriman-bertakwa, cerdas berilmu, dan beramal saleh untuk kemaslahatan hidup bersama yang rahmatan lil ’alamin. Penduduknya beribadah dan menjalankan fungsi kekhalifahan untuk memakmurkan bumi di semesta raya.

Majelis Tarjih dan Tajdid melalui Tafsir At-Tanwir menyebut pandangan dunia berbasis risalah Islam yang demikian sebagai “Kosmologi Al-Quran” dan “Pandangan Dunia yang Afirmatif” atau “Pandangan Afirmatif terhadap Dunia”. Suatu pandangan dunia yang prokehidupan dengan jalan membangun (ishlah) tanpa merusak (fasad fil-ardl) untuk kemakmuran hidup bersama yang dirahmati Tuhan.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Muhammadiyah memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan kemakmuran untuk semua sebagai bagian dari kiprah kebangsaannya sejak berdiri. Dalam poin kelima Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) tahun 1969 ditegaskan, “Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil makmur yang diridai Allah Subhanahu wata`ala: “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur” (PP Muhammadiyah, 2005).

Gerakan “kemakmuran untuk semua” menuju “Indonesia berkemakmuran” paralel dengan “Perkhidmatan Kebangsaan” dari Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48 tahun 2022 di Surakarta. Muhammadiyah mengajak dan melibatkan setiap warga negara untuk berkhidmat dalam membangun bangsa dan negara. Agendanya ialah pemajuan demokrasi, peningkatan ekonomi, pengembangan hukum, dan pembangunan kebudayaan (PP Muhammadiyah, 2023).

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam Berkemajuan menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan. Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan, dan kebudayaan umat manusia di muka bumi.

Muhammadiyah dalam ikhtiar mewujudkan “Indonesia Berkemakmuran” dalam satu kesatuan dengan “Indonesia Berkemajuan” meniscayakan rekonstruksi kehidupan kebangsaan yang bermakna (reconstruction with meaning). Rekonstruksi yang meniscayakan aktualisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan dimensi lainnya dalam perikehidupan kebangsaan. Dalam rekonstruksi kehidupan kebangsaan yang bermakna tersebut diperlukan nilai dan faktor strategis yang penting yaitu Agama sebagai sumber nilai kemajuan, Pendidikan yang mencerahkan, Institusi-institusi yang progresif, Keadaban publik, Sumber daya manusia yang unggul, serta Kepemimpinan profetik di seluruh tingkatan dan lini pemerintahan maupun kehidupan kebangsaan secara keseluruhan.

Implementasi gerakan “Indonesia berkemakmuran” diwujudkan dalam Praksis Al-Ma’un untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan dhuafa-mustad’afin, kaum yang lemah dan dilemahkan. Gerakannya terintegrasi dengan seluruh usaha dan amal usaha yang selama ini telah dilakukan Muhammadiyah. Gerakan praksis kemakmuran tersebut meniscayakan kolaborasi dengan berbagai institusi pemerintah, swasta, dan komponen bangsa lainnya guna “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”. Muhammadiyah melalui praksis Al-Ma’un dan seluruh amal usahanya terus berjuang membangun kemajuan masyarakat di berbagai kawasan hingga ke daerah terdepan, terjauh, dan tertinggal.

Muhammadiyah termasuk Aisyiyah dan seluruh komponennya memiliki potensi dan modal sangat besar untuk memakmurkan dan memajukan Indonesia. Kini yang diperlukan ialah menyatukan dan mengembangkan seluruh potensi, kekuatan, dan akses untuk mendinamisasikan gerakan secara menyeluruh yang melibatkan berbagai komponen dan institusi organisasi. Para penggeraknya gigih berjuang memakmurkan bangsa dengan spirit keikhlasan, pengabdian, kesungguhan, kesabaran, dan jiwa ihsan dalam mewujudkan kemakmuran bangsa secara tersistem melalui gerak organisasi yang berkemajuan.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan perlindungan, petunjuk, dan rida-Nya untuk seluruh warga maupun pemimpin umat dan bangsa menuju tercapainya kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Sejalan dengan komitmen Risalah Islam Berkemajuan dalam melakukan pengkhidmatan kebangsaan untuk membangun “Indonesia Berkemakmuran” dan “Indonesia Berkemajuan” yang “Gemah Ripah Loh Jinawi” serta “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”.

Nashrun min Allah wa Fathun Qarib. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuhu! (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni