
Kunjungan siswa kelas 5 Sekolah Kreatif Baratajaya ke Pabrik Brem Tongkat Mas Madiun membuka wawasan tentang proses pembuatan makanan tradisional sekaligus nilai ketekunan dan pelestarian budaya lokal.
Tagar.co – Selasa (4/11/2025) menjadi hari penuh semangat bagi siswa kelas 5 Sekolah Kreatif Baratajaya alias SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Pagi itu, mereka berangkat pukul 07.00 WIB dari Stasiun Gubeng Baru dengan Kereta Sancaka menuju Madiun.
Dua jam kemudian, rombongan tiba di Stasiun Kota Madiun dan langsung disambut hangat oleh pasukan Paskhas TNI Angkatan Udara yang siap mengantar menuju lokasi pertama Outbound Learning: pabrik brem legendaris Tongkat Mas.
Baca berita terkait: Dari Stasiun Gubeng ke Lanud Iswahjudi: Outbound Seru Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya
Suasana penuh antusias terasa sejak di perjalanan. Anak-anak menyiapkan alat tulis, bersiap mencatat setiap proses pembuatan brem—makanan tradisional khas Madiun yang sudah turun-temurun menjadi kebanggaan warga.
“Hari ini anak-anak belajar langsung dari pelaku UMKM tradisional tentang proses pembuatan brem, dari bahan hingga pemasaran,” ujar Ustaz Abdul Razak, S.Pd., guru pendamping kelas 5.
Sesampainya di pabrik Tongkat Mas, para siswa disambut hangat oleh pemiliknya, Joko Waluyo, generasi kedua penerus usaha keluarga. Dengan gaya bicara yang akrab dan komunikatif, ia memaparkan tahapan pembuatan brem mulai dari pemilihan beras ketan, penggodokan, fermentasi dengan ragi, hingga proses pencetakan.
“Pabrik ini sudah diwariskan turun-temurun. Tantangan terbesarnya sekarang adalah mempertahankan cita rasa tradisional di tengah modernisasi,” tutur Joko Waluyo.

Melihat Dapur Produksi
Setelah mendengarkan penjelasan, para siswa dipersilakan melihat langsung dapur produksi. Mereka menyaksikan bagaimana beras ketan diolah menjadi sari brem, didinginkan, diberi ragi, lalu dicetak menjadi lembaran padat yang siap dipotong dan dikemas.
Tak hanya menyimak, anak-anak juga berkesempatan mencoba proses sederhana, seperti mencetak dan mengemas brem.
Kegembiraan mereka memuncak saat mencicipi brem hasil olahan sendiri. “Ternyata rasanya tidak seperti yang aku bayangkan. Enak, manis, dan ada rasa ‘nyes’ di mulut,” kata Rafid Athaya Zahfran Ofshihanda Putra Shafar, siswa kelas 5 Banu Musa, sambil tersenyum puas.
Kunjungan edukatif ke pabrik brem menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk mengenal industri pangan lokal sekaligus menghargai nilai-nilai kerja keras dan pelestarian budaya.
Dari pabrik brem legendaris ini, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju destinasi belajar berikutnya: Benteng Van den Bosch di Ngawi. (#)
Jurnalis Agus Mulyadi | Penyunting Mohammad Nurfatoni












