OpiniUtama

Warisan Lawrence dan Proyek Pecah-belah Zionis di Dunia Islam

45
×

Warisan Lawrence dan Proyek Pecah-belah Zionis di Dunia Islam

Sebarkan artikel ini
Fahmi Salim

Sejarah mencatat bagaimana politik pecah-belah Zionis menjadi senjata paling ampuh untuk meruntuhkan kekuatan umat. Dari Timur Tengah hingga Asia, strategi itu terus berulang dalam wajah baru.

Oleh Fahmi Salim: Ketua Umum Fordamai; Anggota Majelis Tablig PP Muhammadiyah

Tagar.co – Sebelum runtuhnya Kekhilafahan Usmaniyah—tanpa ada pengantar apa pun—muncul seorang Inggris bernama Lawrence of Arabia yang mengekspresikan cintanya yang mendalam terhadap budaya Arab.

Ia meninggalkan kemewahan London dan terpesona karena cinta kepada padang pasir Arab.

Lalu muncullah “anak-anak ideologis Lawrence” dalam pikiran dan tujuan. Seorang penulis Ibrani bernama Mordechai berkata:

“Cintaku yang sejati adalah kepada budaya Kurdi, yang harus meraih kemerdekaan dari bangsa Arab.”

Ia menekankan betapa indahnya warna-bendera Kurdi yang menarik.

Dari dalam entitas Kurdi itu sendiri, muncul Avichay yang berkata:

“Hatiku tertarik pada kaum Druze, dan kemerdekaan mereka dari entitas Kurdi adalah kewajiban moral.” Yang paling menarik baginya, katanya, adalah kumis panjang orang-orang Druze.

Dan esok hari, akan datang pula cucu-cucu ideologis Lawrence—untuk memecah entitas Druze itu menjadi kepingan yang lebih kecil, dan lebih kecil lagi.

Baca Juga:  Serangan ke Iran dan Retaknya Solidaritas Dunia Islam

Begitulah, Timur perlahan-lahan memudar, hingga akhirnya di atas reruntuhannya diumumkan berdirinya Negara Israel Raya.

Makna Tersirat

Teks ini merupakan sindiran tajam terhadap strategi kolonial dan Zionis yang menggunakan politik pecah-belah (divide et impera)—memecah bangsa-bangsa Timur Tengah menjadi entitas kecil agar mudah dikendalikan, menuju proyek “Israel Raya” di atas kehancuran kesatuan dunia Islam dan Arab.

Baca juga: Netanyahu dan Bayang-Bayang Saladin

Dunia Islam pun akan sama disibukkan dengan proyek pecah-belah: Sunni–Syiah–Wahhabi, Sufi–Asy’ari–Salafi, hizbi–haraki–salafi, mazhabi–lamazhabi, tradisionalis–modernis, salafi–ikhwani–jihadi, Islam-politik–Islam-ritual, Sunni–Tablighi–Tahriri–Ikhwani, demokrasi–khilafah–sistem Islam, dan seterusnya.

Nasib Islam pun akan sama seperti Kristen, Druze, Arab, dan Kurdi yang dipecah-pecah sehingga menjadi serpihan kecil tak berdaya.

Akhirnya kelompok-kelompok kecil itu akan diprovokasi untuk saling mematikan dan menyingkirkan yang lain; untuk penyingkiran itu mereka akan meminta tolong pada kekuatan Zionis–Salibis yang punya uang dan senjata pemusnah.

Umat Islam akan musnah di tangan pemimpin-pemimpin kelompok yang bodoh bin dungu dan mau menjalankan agenda pecah-belah Zionis di dunia Islam.

Baca Juga:  Zionis atau Iranis?

Satu-satunya cara melawan proyek Zionis adalah persatuan umat Islam. Silakan berbeda, tapi bersatulah melawan penjajahan oligarki globalis–Salibis–Zionis.

Jangan sampai kalian menyesal menangis darah saat Masjid Al-Aqsa dirobohkan dan delapan negara Arab Muslim dianeksasi oleh Zionis Israel. Karena penyesalan saat itu sudah terlambat. (#)

Jakarta, 3 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni