Di tengah kesibukan kuliah, ia memilih jalan pengabdian yang tak biasa—menjadi shadow teacher atau guru pendamping di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 2 Kedungbanteng, Tanggulangin, Sidoarjo.
Setiap pagi, Bahirah tiba di sekolah dengan satu misi: menemani dan mendampingi seorang siswa dengan disabilitas intelektual. Kondisi ini membuat kemampuan berpikir dan belajar anak di bawah rata-rata.
Baca juga: BBM Kotor, Motor Mogok, Hati Harus Tetap Bersih
Dalam keseharian, Bahirah bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga teman, penyemangat, dan penuntun sabar di setiap proses kecil yang memerlukan ketulusan luar biasa.
“Sukanya, saya senang sekali melihat anak yang saya dampingi bisa sedikit demi sedikit mengalami kemajuan,” ujarnya tersenyum.
“Hal sederhana seperti mampu menyebut huruf atau mengikuti instruksi, bagi saya itu sudah luar biasa.”
Namun, di balik senyum itu ada perjuangan yang tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika anak yang ia dampingi mengalami tantrum, menolak belajar, atau tiba-tiba menangis tanpa alasan jelas.
“Dukanya, pekerjaan ini sangat menguras kesabaran dan emosi. Tapi dari situlah saya belajar banyak tentang keikhlasan dan empati,” tutur Bahirah dengan nada lembut.
Ketekunan dan keikhlasan Bahirah akhirnya menarik perhatian Lazismu Jawa Timur. Ia terpilih sebagai salah satu penerima Bakti Guru, program apresiasi bagi para pendidik dan relawan pendidikan yang berjuang di garis depan dengan hati tulus.
Bakti Guru
Bahirah ditemui di sela-sela acara Bakti Guru Lazismu Jawa Timur yang digelar di Kantor Lazismu Jatim, Jalan Jawa Nomor 5, Surabaya, Kamis (30/10/25). Dalam suasana hangat penuh kekeluargaan, ia berbagi kisah sederhana namun sarat inspirasi tentang arti menjadi guru di sekolah inklusi.
Dalam kesempatan yang sama, Agus Lukman Hidayat, S.P., M.Hes., Manajer Area Lazismu Jawa Timur, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendidik penerima Bakti Guru, terutama mereka yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kami sangat berterima kasih atas perjuangan dan dedikasi para guru, terutama para shadow teacher. Mereka adalah pejuang pendidikan yang sering luput dari sorotan, namun perannya sangat besar dalam membentuk karakter dan kemandirian anak,” ujarnya.
Melalui sosok muda seperti Bahirah Naflah Rafilah, kita diingatkan kembali bahwa menjadi guru bukan sekadar soal gelar atau status. Lebih dari itu, menjadi guru adalah tentang hati yang siap memberi tanpa batas, dan kesabaran menuntun langkah-langkah kecil menuju masa depan yang lebih cerah. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunitn Mohammad Nurfatoni













