Opini

Pemuda Menyala di Tengah Badai Teknologi

26
×

Pemuda Menyala di Tengah Badai Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni

Di tengah derasnya informasi dan kompetisi konten, pemuda Indonesia ditantang bukan hanya untuk mahir teknologi, tetapi juga berkarakter kuat agar tak kehilangan arah di dunia maya.

Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur; Pemerhati Teknologi

Tagar.co – Setiap zaman punya tantangannya sendiri. Jika dulu pemuda berjuang dengan bambu runcing, hari ini mereka bersenjatakan jaringan internet, algoritma, dan kreativitas digital.

Dunia berubah begitu cepat—dan cara pemuda menatap masa depan pun ikut berubah. Namun, satu hal tetap sama: semangat untuk memberi arti bagi negeri.

Hidup di Tengah Gelombang Digital

Generasi muda hari ini tumbuh dalam arus informasi yang deras. Satu ketikan bisa menjangkau dunia, satu unggahan bisa mengubah hidup. Dunia terasa kecil, tapi konsekuensinya semakin besar.

Di balik kemudahan itu, tersimpan tantangan yang tidak ringan. Data Kementerian Kominfo menunjukkan masih ada sekitar 26,3 persen penduduk Indonesia yang belum terhubung internet, dan lebih dari 100 ribu sekolah belum menikmati akses digital yang layak.

Baca Juga:  Lapangan SD Muri Disulap Jadi Pasar Mini, Siswa Belajar Berdagang

Baca juga: Dari Sarung ke Startup: Wajah Baru Santri Indonesia

Artinya, sebagian pemuda kita masih harus berlari tanpa alas di medan yang terjal—tertahan bukan karena kurang mimpi, tetapi karena minim infrastruktur.

Sementara bagi yang telah online, tantangannya justru berbeda. Indeks Literasi Digital Indonesia baru mencapai 3,54 dari skala 5. Banyak anak muda lihai menggulir layar, tetapi belum tentu mampu memilah fakta dari fatamorgana informasi. Mereka cepat mendapat kabar, namun sering terlambat memahami makna.

Budaya Instan dan Krisis Makna

Media sosial mengubah wajah pergaulan, pola pikir, hingga definisi kesuksesan. Di era ini, jumlah pengikut lebih dihargai daripada jejak kontribusi. Viral lebih dirayakan ketimbang capaian keberhasilan.

Penelitian mencatat lebih dari 93 persen remaja Indonesia aktif di media sosial hingga 11 jam setiap hari. Koneksi digital begitu ramai, tapi perjumpaan manusiawi makin sepi.

Kita menyaksikan gejala kelelahan digital, menipisnya empati, dan rapuhnya identitas. Dunia yang semula menjanjikan keterhubungan, perlahan bisa mengikis rasa kemanusiaan jika tidak disertai kesadaran.

Baca Juga:  Cahaya Menyala di Giri Kebomas, Masjid At-Taqwa Bersiap Sambut Ramadan

Di Antara Risiko, Tersimpan Cahaya Harapan

Meski begitu, kita tidak boleh hanya melihat sisi gelap. Indonesia tengah menikmati bonus demografi—lebih dari 64 juta jiwa pemuda berusia 16–30 tahun. Mereka bukan hanya pengguna teknologi, melainkan penggerak zaman baru.

Dari tangan-tangan mereka lahir ribuan startup, ruang belajar virtual, dan gerakan sosial digital. Mereka tidak menunggu keadaan membaik; mereka menciptakan perubahan dari layar mungil di genggaman.

Dari kos sederhana, kafe kecil, hingga pelosok desa—kreativitas itu menyala, membuktikan bahwa masa depan tidak bergantung pada lokasi, melainkan pada tekad untuk memberi manfaat.

Membangun Karakter, Bukan Sekadar Koneksi

Tantangan utama era ini bukan pada algoritmanya, tetapi pada manusianya. Pemuda perlu bukan hanya melek digital, tetapi juga bijak digital. Teknologi bisa mempercepat apa saja—termasuk hal yang keliru, bila tak diarahkan oleh karakter.

Karena itu, pendidikan harus menumbuhkan fondasi nilai: berpikir kritis, adil sejak dalam pikiran, berempati dalam interaksi, beretika dalam konten, dan bertanggung jawab di ruang digital. Kecakapan mengunggah harus diiringi kecerdasan menjaga nurani. Dunia maya bukan sekadar panggung hiburan, tetapi cermin dari siapa kita.

Baca Juga:  SPMB: Antara Word of Mouth dan Media Sosial

Menatap Masa Depan

Era digital adalah ladang luas bagi pemuda Indonesia. Siapa yang kreatif, tangguh, dan berakhlak kuat, dialah yang akan memimpin masa depan. Teknologi itu ibarat pedang bermata dua—bisa melukai, bisa menerangi jalan.

Dan hari ini, pedang itu ada di tangan generasi muda.

Mari kita pastikan mereka menggunakannya untuk membangun, bukan menjatuhkan; menguatkan, bukan mengoyakkan.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak diukur dari seberapa cepat koneksi internet kita, melainkan dari seberapa dalam makna yang mampu diciptakan para pemuda di tengah gelombang dunia digital. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni