
Hervina Emzulia, PWNA Jatim, menyebut Nasyiah menjadi Generasi Sandwich dan menghadapi godaan besar. Alhasil, harus bertransformasi agar relevan dengan Gen Z dan Alfa
Tagar.co — Ketua Departemen Pusintek Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur, Hervina Emzulia, M.Pd., hadir sebagai pemateri ketiga Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) II Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik. Di Aula Matahari SMAM 1 (Smamsatu) Gresik, perempuan kelahiran Lamongan, 19 November 1992, itu memaparkan materi “Nasyiah sebagai Gerakan Sosial”.
Hervina awalnya menjelaskan, NA lahir sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Muhammadiyah. “Gerakan NA menginduk pada Muhammadiyah yang kiprahnya di sosial tidak kita ragukan lagi,” terang Hervina, Sabtu (18/10/2025) sore.
Ia menekankan, sejak lahir pada 1931, NA menjadi gerakan perempuan muda yang berakar pada semangat pembaruan dan pemberdayaan. “Muhammadiyah awalnya berupaya mengentas perempuan dari keterbelakangan,” ungkapnya.
Di samping itu, Aisyiyah juga menginginkan kaderisasi organisasi tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi juga ingin menciptakan keberlanjutan. Alhasil, terbentuk Nasyiatul Aisyiyah.
“Nasyiatul Aisyiyah memiliki spirit sebagai gerakan sosial yang berorientasi pada perubahan masyarakat,” imbuh wanita yang berdomisili di Candi, Sidoarjo, itu.
“Hampir satu abad, kita bisa merasakan kenikmatan ber-Nasyiah. Itu terjadi karena ada yang mau melanjutkan. Mau melanjutkan atau berhenti sampai di sini?” tanyanya.
Secara kompak, 30 peserta yang duduk di kursi membentuk “U” menjawab, “Mau melanjutkan!”
Tantangan Generasi Sandwich
Alumni S-2 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu menyadari, godaan di Nasyiah cukup besar. Kader NA memiliki anak kecil atau banyak. Belum lagi kesibukan bekerja, merawat orang tua, atau lainnya. “Usia kita rawan. Lengah sedikit, bahaya!”
“Kita mau bersiap menjadi Ibu Aisyiyah, tetapi kita juga harus menyiapkan kader penerus kita. Kita ini generasi sandwich, terhimpit,” tambah Bendahara Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur (2012–2014 dan 2014–2016) itu.
Hervina mengakui, kader NA terkadang bertugas bersama ibu-ibu Aisyiyah, tetapi juga sambil mengajak adik-adik di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang tidak mudah. Secara personal, kader NA juga perlu mengajak anak-anak mereka untuk turut aktif di Muhammadiyah. Hervina berharap, ujian berat yang kader hadapi tidak menjadikan mereka malas, tetapi justru semakin bersemangat berorganisasi.
Ia juga menyoroti perubahan masyarakat. Daya baca anak Indonesia kini meningkat. Banyak komunitas literasi yang memberikan sumbangsih nyata. Hervina yakin, gerakan NA yang sudah tersebar se-Indonesia juga bisa memberikan banyak sumbangsih.
“Kalau dari ranting sampai pusat bersungguh-sungguh, insyaallah kita akan memberikan dampak besar di masyarakat,” tegasnya.
Posisi NA dan Relevansi Gerakan
Seiring langit menunjukkan semburat jingga, Ketua Departemen Kader PWNA Jawa Timur (2016–2022) itu melanjutkan penjelasannya tentang konsep gerakan sosial. Menurutnya, gerakan NA harus memiliki tujuan yang tidak hanya pendek, tetapi juga panjang, dan berupaya relevan terhadap perubahan zaman.
“Saya melihat banyak wajah milenial di sini. Saya khawatir Nasyiah lambat laun ditinggalkan,” katanya. Kekhawatiran ini muncul karena NA tidak melakukan riset usia, misal terkait bagaimana karakteristik Gen Z dan Gen Alfa.
Hervina memprediksi, nantinya Nasyiah akan sepenuhnya dikuasai Gen Z. Bahkan, empat tahun lagi, Gen Alfa sebenarnya sudah boleh bergabung. Corak berorganisasi mereka akan berbeda lagi. “Gen Z beda lagi. Kalau mau DANA, mereka mungkin lebih memilih sewa kafe. Saat ini, milenial masih mau berkumpul di sini,” jelasnya.
Ia khawatir jika NA tidak bisa menggagas program menarik, Nasyiah akan punah seperti dinosaurus: “Setiap hari tidak ada yang mengurus.”

Posisi NA
Penulis enam buku itu lantas menjelaskan tiga posisi Nasyiah. Pertama, sebagai Penghubung Generasi. “NA punya beban menyiapkan diri berkumpul dengan ibu-ibu Aisyiyah dan menyiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan di Nasyiah,” terangnya.
Kedua, memadukan gerakan dakwah dan aktivisme sosial. Di sini, ia mengingatkan, sejak 1931, NA bergerak di bidang sosial. “Tidak heran kalau Muhammadiyah, induk kita, sudah memiliki ratusan rumah sakit dan ribuan sekolah, karena gerakan sosialnya serius. Itu yang harus kita contoh,” katanya.
Ketiga, menjadi School of Leadership bagi Perempuan Muda Muhammadiyah. Untuk menjadi sekolah kepemimpinan, ia meyakini, aktivitas rutin lebih berdampak. Seperti rujakan, kajian, atau rapat rutin.
“Kalau hanya bikin acara besar sekali, lalu tidak bikin kegiatan lagi sampai Musyawarah Daerah (Musyda), apakah itu dinamakan gerakan?” tanyanya retoris dan kritis.
Hervina lantas berbagi strategi gerakan NA. “Tidak mungkin kita bisa bergerak sendiri. Burung saja harus terbang bersama teman-teman agar bisa terbang tinggi,” katanya. Sebab, yang NA inginkan bukan lari cepat, tetapi lari jauh.
Penulis buku Maria Teruslah Berdetak (2021) ini kemudian mengajak peserta untuk berdiskusi tentang arena gerakan sosial Nasyiah. Peserta terbagi menjadi lima kelompok. Setelah diskusi selama sepuluh menit, mereka melanjutkan dengan presentasi. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












