
Dr. Deni Hudaeny Ahmad Arifin datang langsung dari Jakarta untuk menjadi dewan hakim MTQ Ke-5 PDM Gresik. Ia terharu melihat penyandang tuli mampu membaca Al-Qur’an lewat gerak tangan—buah dari Mushaf Isyarat yang turut lahir dari bumi Gresik.
Tagar.co – Suasana Ahad sore (12/10/25) halaman Perguruan Muhammadiyah Cerme, Gresik, meriah. Ratusan peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-5 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, para dewan hakim, dan undangan duduk rapi menanti detik-detik penutupan.
Pukul 16.00 WIB, panggung utama bersiap menjadi saksi pengumuman para juara. Namun, ada sosok istimewa yang menarik perhatian—Dr. H. Deni Hudaeny Ahmad Arifin, L.C., M.A., Ketua Ikatan Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI, yang hadir langsung dari Jakarta untuk menjadi dewan hakim di ajang bergengsi ini.
Menyapa Gresik dengan Mushaf Al-Qur’an Isyarat
Sebelum meninggalkan Cerme, Deni mendapat kesempatan menyampaikan sambutan. Dalam momen itu, ia menyerahkan Mushaf Al-Qur’an Isyarat—hasil kerja panjang riset Kementerian Agama—kepada Ketua PDM Gresik, Muhammad Thoha Mahsun, sebagai simbol persahabatan dan komitmen pelayanan inklusif bagi penyandang disabilitas. Thoha pun membalas dengan cenderamata khas MTQ Ke-5 PDM Gresik.
Baca juga: Mushaf Al-Qur’an Isyarat dari Indonesia Pertama di Dunia
Suasana menjadi hening ketika Deni kembali berkisah tentang pengalaman menyentuh hatinya: proses panjang penyusunan Mushaf Al-Qur’an Isyarat.
“Kegiatan ini luar biasa, apalagi tahun ini ada cabang lomba membaca tartil Qur’an isyarat,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa inisiatif seperti ini merupakan yang pertama di Jawa Timur, bahkan menjadi bukti nyata kepedulian Muhammadiyah terhadap kaum disabilitas.

Kisah Lahirnya Mushaf Al-Qur’an Isyarat
Deni kemudian mengisahkan peristiwa yang menjadi titik balik. Pada tahun 2020, kantor Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI kedatangan tamu istimewa—perwakilan komunitas tuli Muslim Indonesia. Salah satu dari mereka menyampaikan pesan yang begitu singkat, tetapi menggugah:
“Bapak Kepala Lajnah, tolong layani kami. Fasilitasi agar kami bisa membaca Al-Qur’an.”
Pesan itu menjadi awal perjuangan. Selama ini, penyandang tunanetra telah memiliki Mushaf Braille, namun bagi penyandang tuli belum ada sarana serupa.
Sejak saat itu, Deni dan timnya menempuh perjalanan panjang—melakukan riset meja dan lapangan, menggali data hingga ke Arab Saudi, Yordania, Mesir, dan berbagai daerah di Indonesia.
Dari proses tersebut, mereka menemukan seorang pengajar inspiratif asal Gresik: Innik Hikmatin. Sosok ini telah lama mengembangkan Metode Abjad Jari Makasa (Amakasa) untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada teman-teman tuli. “Ibu Innik adalah guru hebat dari Gresik,” ungkap Deni disambut tepuk tangan hadirin.
Selain metode Amakasa, Deni juga merujuk beberapa metode yang lahir dari individu atau lembaga di Indonesia.

Dari Gresik ke Dunia
Hasil riset itu kemudian dibawa ke meja lokakarya nasional penyusunan Mushaf Al-Qur’an Isyarat di Jakarta. Para guru pengajar tuli dari berbagai daerah duduk bersama, berbagi pengalaman, dan menyatukan visi.
Dari forum itulah lahir kesepakatan penting: Indonesia harus memiliki Mushaf Al-Qur’an Isyarat yang terstandarkan, sebagaimana Mushaf Braille untuk tunanetra.
“Dari sekian banyak metode yang berkembang, kami sepakat menggunakan Arabic Signs Language atau isyarat hijaiah Arab,” jelas Deni. “Agar teman-teman di Indonesia menggunakan isyarat yang sama dengan di Makkah, Madinah, Amman, dan Kairo.”
Kini, setelah bertahun-tahun riset, Mushaf Al-Qur’an Isyarat telah digunakan di berbagai daerah, termasuk di Gresik. Deni mengaku haru melihat para peserta disabilitas tuli dalam MTQ kali ini sudah mampu mengisyaratkan ayat-ayat suci dengan fasih.
Harapan untuk Masa Depan
“Alhamdulillah, semua menerima dengan lapang dada. Mushaf ini kini bisa digunakan bersama-sama,” ucapnya penuh syukur. Ia berharap, ke depan, para penyandang disabilitas tuli tak hanya mampu membaca, tetapi juga menghafal 30 juz Al-Qur’an dengan Mushaf Isyarat.
Sore itu, sebelum kembali ke Jakarta, Deni menutup sambutannya dengan doa dan senyum lebar. Di bawah langit Cerme yang mulai temaram, semangat literasi Qur’ani terasa semakin hidup—menembus batas pendengaran dan bicara, menjelma menjadi bahasa isyarat yang menghidupkan kalam Ilahi. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












