Feature

Menulis Berita, Hindari Kalimat Lebay

43
×

Menulis Berita, Hindari Kalimat Lebay

Sebarkan artikel ini
Menulis berita itu mudah dan menyenangkan. Materi ini disampaikan pada workshop jurnalistik SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Sabtu (20/9/2025).
Sugeng Purwanto menyampaikan materi workshop jurnalistik di SD Muhammadiyah 12 Bubutan Surabaya. (Tagar.co/Dzanur Roin)

Kalimat lebay atau hiperbolis karena ingin menunjukkan keunggulan atau kehebatan cerita. Malah mengganggu, apalagi kalau faktanya tidak sehebat yang ditulis.

Tagar.co – Menulis berita itu mudah dan menyenangkan. Materi ini disampaikan pada workshop jurnalistik SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Sabtu (20/9/2025).

Kegiatan ini diikuti 25 guru dan karyawan SD Muhamamdiyah Dubes, sebutan sekolah ini. Acara bertempat di auditorium sekolah.

Hadir sebagai narasumber Sugeng Purwanto, mantan wartawan Surabaya Post yang sekarang Pemimpin Redaksi Tagar.co.

Dalam paparannya, Sugeng Purwanto menyampaikan teknik menulis berita yang baik, benar, dan bagus.

Pertama, menggunakan kata dan kalimat lugas, sehingga pembaca memahami pesan yang disampaikan.

Susunan kalimat pendek saja sesuai struktur kalimat subjek, predikat, objek dan kata keterangan (SPOK). Kalimat pendek itu efektif, ringkas, dan orang langsung paham pesannya.

”Kalimat panjang itu bertele-tele, biasanya memuat kata mubazir, sehingga pesan berita tidak langsung dipahami dengan cepat,” tuturnya.

Kedua, hindari menulis berita memilih kalimat lebay atau berlebihan (hiperbolis) karena ingin menunjukkan keunggulan atau kehebatan cerita.

”Kalimat lebay itu malah mengganggu, apalagi kalau faktanya tidak sehebat yang ditulis. Jadi kata itu mewakili suasana, kata pilih kata yang sesuai dengan suasana,” katanya.

Dia mencontohkan kalimat lebay yang sering ditemukan di penulisan berita. Seperti ajang bergengsi, bertemu dengan anak-anak yang luar biasa, lagi dan lagi prestasi tertorehkan dengan tinta emas, permainan penuh determinasi, dan sejenisnya.

”Kata ajang bergengsi kadang dipakai serampangan. Lomba nyanyi tingkat kecamatan saja ditulis sebagai ajang bergengsi,” ujarnya disambut tawa peserta.

Kata ajang bergengsi, sambung dia, harus dipahami benar ukuran gengsi itu seberapa. Mestinya tingkat nasional, internasional, dan melibatkan orang-orang terkenal.

Ketiga, hindari menulis berita dengan kalimat umum dan normatif. Berita dengan kalimat ini tidak menarik sama sekali karena tidak memberikan informasi detail.

Contoh kalimat umum dan normatif itu seperti: Program mahasiswa KKN ini dirancang untuk memberikan edukasi menyeluruh kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta warga desa mengenai pentingnya legalitas produk melalui sertifikasi halal.

Di samping itu, mahasiswa juga memperkenalkan strategi pemasaran modern yang memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

”Informasi apa yang diperoleh dari dua alinea ini? Tidak ada. Mestinya dijelaskan apa saja yang dimaksud edukasi menyeluruh, pentingnya legalitas produk halal, strategi pemasaran modern, platform digital,” ujarnya.

Setelah itu Sugeng berpesan menulis berita harus memahami ejaan dan kata baku yang benar. ”Tulisan yang banyak ejaan salah menggangu dan mengurangi kualitas berita,” tandasnya.

Workshop jurnalistik ini mendapat apresiasi peserta. Bayu Swara, salah satu peserta, mengatakan, banyak pengetahuan baru yang didapat dalam pelatihan ini. Seperti mengenal kosa kata baku dan tidak baku.

Dia berharap bisa menerapkan hasil workshop ini. Yaitu menulis kegiatan pembelajaran di kelas menjadi sebuah berita.

Hal senada disampaikan peserta Andri Dwijayanti. ”Setelah pelatihan ini, saya mulai berani menulis, walau hanya sekadar mendeskripsikan teman sebelah,” ujarnya.

Dari praktik menulis deskripsi profil teman sebangkunya saat pelatihan, dia baru tahu ternyata menulis itu mudah. (#)

Jurnalis Dzanur Roin  Penyunting Sugeng Purwanto