
TBIG tingkatkan literasi kesehatan masyarakat Kalimantan. CSR bidang kesehatan ini berupa edukasi 3P. Pola hidup sehat, pola konsumsi sehat, dan pola sanitasi sehat. Sasarannya 4.204 warga
Tagar.co – WHO dalam World Health Promotion Glossary menjelaskan, keterampilan kognitif dan sosial menentukan motivasi serta kemampuan individu untuk memperoleh, memahami, dan menggunakan informasi dengan cara yang mendukung serta memelihara kesehatan yang baik.
Hal ini menjelaskan bahwa tingkat literasi kesehatan di kalangan masyarakat berperan penting dalam peningkatan kualitas kesehatan suatu wilayah.
Sebuah jurnal berjudul Health Literacy and Associated Factors among Patients with Chronic Diseases in Indonesia, yang diterbitkan Maret 2025 di Journal of Public Health (Jerman), menemukan bahwa 33 persen pasien berada pada kategori problematik dan 16,2 persen inadequate. Dapat dikatakan bahwa 49 persen responden memiliki tingkat literasi kesehatan yang rendah.
Sementara itu, penelitian lain di sejumlah puskesmas di Indonesia menunjukkan kondisi lebih memprihatinkan. Sebanyak 60-80 persen responden memiliki literasi kesehatan rendah dan tidak memadai.
Penerima Manfaat 4.204
Menyikapi hal ini, TBIG mengembangkan program CSR di bidang kesehatan berbasis edukasi kesehatan, dan peningkatan kualitas gizi masyarakat di wilayah 3T.
Selama bulan Agustus lalu, TBIG menjalankan program CSR di bidang kesehatan berupa edukasi 3P (Pola Hidup Sehat, Pola Konsumsi Sehat, dan Pola Sanitasi Sehat). Sasarannya adalah 4.204 masyarakat penerima manfaat di Pulau Kalimantan. Pelaksanaan program pada 8 – 25 Agustus 2025.
Salah satu warga Desa Tumbang Tukun, Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah, Eva menyampaikan rasa syukurnya. Dan berterima kasih kepada Tower Bersama Group yang telah mengadakan aksi Bangun Sehat Bersama.
“Kami mendapat banyak pengalaman baru tentang menjaga kesehatan mulut dan gigi, serta cara mencuci tangan yang benar. Kami merasa sangat terbantu. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat berlanjut untuk membekali kami dalam hal kesehatan maupun lainnya,” ujarnya.
Selain pelatihan kesehatan, TBIG juga memberikan bantuan makanan bergizi kepada 2.400 warga masyarakat di enam desa di propinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

Tingkatkan Kualitas Hidup
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program Bakti Sosial Bersama Untuk Indonesia yang menjangkau 80 desa dari Aceh hingga Papua dalam rangka memperingati HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lie Si An, Chief of Business Support Officer TBIG menuturkan, program CSR TBIG berfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui edukasi kesehatan.
“Kami ingin memastikan masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang konsumsi sehat, sanitasi, dan pola hidup sehat. Selain itu, bantuan makanan bergizi kami salurkan untuk mendukung tumbuh kembang anak,” jelasnya.
“Hingga akhir 2025, TBIG menargetkan terlaksananya lebih dari 500 kegiatan serupa di seluruh Indonesia,” ungkap Pak Si An – sapaan akrabnya dalam rilis TBIG yang diterima tagar.co, Selasa (16/9/2025).
Saat Kick off Journalism Fellowship on CSR 2025 yang melibatkan 13 wartawan media siber se-Indonesia, Jumat (29/08/2025), Lie Si An memaparkan, CSR TBIG menggarap bidang pendidikan, kesehatan lingkungan, dan budaya.
“Ada empat pilar CSR TBIG. Terkait dengan kesehatan kita sebut Bangun Sehat Bersama. Bidang pendidikan adalah Bangun Cerdas Bersama. Ketiga adalah Bangun Budaya Bersama. Dan terakhir tentang lingkungan yaitu Bangun Hijau Bersama,” paparnya di Rumah Belajar TBIG, Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Fondasi Pembangunan Manusia
Presiden Direktur TBIG, Herman Setya Budi menegaskan, kesehatan adalah fondasi dari pembangunan manusia. Dan literasi kesehatan merupakan kunci agar masyarakat dapat menjaga dirinya secara mandiri.
“Data penelitian terbaru menunjukkan bahwa hampir separuh masyarakat Indonesia masih memiliki literasi kesehatan rendah. Fakta ini menjadi alarm bagi kita semua, termasuk dunia usaha, untuk turun tangan,” tegasnya.
Melalui program edukasi kesehatan dan bantuan gizi, lanjutnya, TBIG ingin hadir bukan hanya sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan berdaya. “Kami percaya bahwa investasi pada kesehatan masyarakat hari ini adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih kuat,” paparnya.
Dia menambahkan, TBIG mendasari seluruh program CSR dengan prinsip-prinsip ESG, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta panduan ISO 26000.
“Dengan pendekatan ini, kami memastikan setiap program CSR tidak hanya berdampak sesaat, tetapi berkelanjutan, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya. (#)
Penyunting Sugiran.












