Feature

Demi Masa: Empat Jalan Keselamatan dari Kerugian

38
×

Demi Masa: Empat Jalan Keselamatan dari Kerugian

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Surat Al-Asr menyingkap kenyataan pahit: manusia pada dasarnya berada dalam kerugian. Namun Allah menunjukkan jalan keselamatan melalui empat pilar sebagai kompas hidup agar waktu yang berlalu tidak sia-sia.

Oleh: Dr. H. Ulul Albab, M.S.; Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Ada satu surah pendek dalam Al-Qur’an yang sering kita baca dalam salat, tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Surah itu hanya terdiri dari tiga ayat. Imam Syafi’i pernah berkata, “Seandainya manusia hanya merenungi surat ini saja, niscaya sudah cukup bagi mereka.” Surat itu adalah Al-Asr.

Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati agar menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Asr: 1–3)

Semua Manusia Merugi

Kalimat yang mengejutkan dari surah ini adalah “innal-insāna lafī khusr”—semua manusia berada dalam kerugian. Tidak ada pengecualian: profesor, pejabat tinggi, pengusaha sukses, mahasiswa berprestasi, bahkan orang yang tampak saleh di mata manusia sekalipun.

Baca juga: Mengapa Tulisan Aspiratif Lebih Efektif dan Inspiratif?

Secara bawaan, posisi manusia adalah merugi. Mengapa? Karena waktu yang kita jalani menggerus umur. Setiap detik, kita kehilangan kesempatan. Rasulullah Saw. mengingatkan dalam hadis: “Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (H.R. Bukhari)

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Karena itulah Allah membuka surat ini dengan sumpah wal-asr—demi masa—sebagai alarm bahwa waktu adalah modal hidup yang tak bisa diulang.

Empat Kunci Selamat dari Kerugian

Namun Allah tidak membiarkan manusia dalam keputusasaan. Ada empat kunci untuk keluar dari kerugian:

1. Iman

Iman adalah fondasi. Tanpa iman, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilai hakiki. Iman bukan sekadar identitas, melainkan keyakinan yang menggerakkan hati, pikiran, dan tindakan.

Rasulullah Saw. bersabda: “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (H.R. Muslim)

Artinya, iman tidak berhenti di ucapan, tetapi menjelma menjadi sikap hidup.

2. Amal saleh

Amal saleh adalah ekspresi konkrit iman: belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja jujur, mengajar dengan ikhlas, melayani dengan tulus. Di sinilah mahasiswa perlu merefleksi: apakah ilmu yang dikejar hanya untuk nilai dan gelar, atau untuk bekal membangun masyarakat?

3. Saling menasihati dalam kebenaran

Manusia tidak bisa berjalan sendiri. Kita perlu saling mengingatkan. Kebenaran dalam Islam tidak boleh berhenti di ruang pribadi; ia harus menjadi energi kolektif. Dalam dunia akademik, kebenaran juga berarti integritas: jujur dalam riset, anti-plagiarisme, dan berani menyuarakan kebenaran meski tidak populer.

Baca Juga:  Korupsi, Pengangguran, dan Kejahatan: Lingkaran Setan yang Dipelihara Kekuasaan

4. Saling menasihati dalam kesabaran

Menegakkan iman, amal, dan kebenaran tidak selalu mudah. Godaan, tekanan, bahkan cemooh akan datang. Karena itu, sabar menjadi pilar terakhir—bukan pasif, tetapi daya tahan aktif untuk konsisten di jalan benar.

Literasi Al-Asr di Era Mahasiswa

Mengapa surat ini relevan untuk memulai kuliah Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi? Karena mahasiswa berada pada fase pencarian jati diri. Mereka memiliki waktu, energi, dan peluang, tetapi juga rentan terjebak rutinitas hampa.

Literasi terhadap Al-Asr mengingatkan:

  • Jangan biarkan masa muda habis tanpa makna.

  • Bangun iman sebagai fondasi moral.

  • Jadikan ilmu bukan sekadar gelar, melainkan amal saleh.

  • Gunakan jejaring sosial dan teknologi untuk menyebarkan kebenaran, bukan hoaks.

  • Latih diri bersabar menghadapi kegagalan, ujian akademik, dan tekanan sosial.

Di era digital dan kecerdasan buatan, pesan ini kian relevan. Banyak orang sibuk scrolling media sosial, tetapi kehilangan waktu berharga untuk membaca Al-Qur’an atau berdialog dengan hati. Ada yang menguasai teknologi, tetapi lupa mengikatnya dengan iman. Padahal, teknologi tanpa iman bisa melukai diri sendiri.

Inspirasi untuk Mahasiswa

Bayangkan seorang mahasiswa yang memahami pesan Al-Asr: ia belajar bukan hanya demi nilai A, melainkan demi membangun amal saleh. Ia sadar waktu di kampus adalah amanah.

Ia menjadikan persahabatan sebagai ruang saling menasihati dalam kebenaran—bukan sekadar nongkrong tanpa arah. Ia siap menghadapi tantangan akademik dengan sabar, karena sabar adalah pintu kesuksesan.

Baca Juga:  Kasus Guru Honorer Probolinggo: Antara Hukum Formal dan Keadilan Sosial

Rasulullah Saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah—meski pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (H.R. Muslim)

Hadis ini menegaskan: iman harus produktif, amal saleh harus berbuah, dan kesabaran harus menjadi karakter.

Penutup

Surat Al-Asr bukan sekadar bacaan singkat di akhir salat. Ia adalah peta jalan hidup. Allah menegaskan bahwa manusia akan merugi jika tidak menempuh empat jalan: iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.

Bagi mahasiswa, refleksi atas surat ini bisa menjadi energi untuk memperbaiki diri. Kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi membangun iman, amal, dan karakter.

Lebih dari itu, kuliah agama bukan ruang dogmatis, melainkan laboratorium spiritual yang melatih kesiapan menghadapi zaman dengan hati kokoh dan pikiran jernih.

Maka, mari bertanya kepada diri sendiri: sudahkah waktu yang Allah beri hari ini kita isi dengan iman, amal, kebenaran, dan kesabaran—atau jangan-jangan kita sedang merugi tanpa disadari?

Semoga literasi Surat Al-Asr menyalakan semangat kita untuk terus memperbaiki diri. Pada akhirnya, bukan gelar atau profesi yang menyelamatkan kita, melainkan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni