
Bung Karno bersitegang dengan para pemuda yang menggeruduk rumahnya. Mereka mendesak proklamasikan kemerdekaan malam itu, tapi ditolak.
Tagar.co – Jelang kemerdekaan. Tanggal 15 Agustus 1945 malam. Pukul 21.30. Suasana bulan Ramadan. Radio sudah menyiarkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat setelah Hirosima dan Nagasaki dibom.
Malam itu Mr. Subardjo datang ke rumah Mohammad Hatta. Dia mengajak ke rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta yang malam itu digeruduk para pemuda.
Anak-anak muda ini mendesak Bung Karno supaya malam itu juga diproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui corong radio.
Permintaan itu ditolak. Alasannya Jepang sudah memutuskan kemerdekaan Indonesia dan 16 Agustus sudah dijadwalkan sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk melaksanakan kemerdekaan, mengesahkan UUD, dan menyusun pemerintah pusat serta daerah.
Suara pemuda seperti disampaikan Wikana menyatakan, semua itu tidak perlu. ”Itu menggambarkan Indonesia merdeka buatan Jepang. PPKI bentukan Jepang,” katanya. ”Kita mau Indonesia buatan kita sendiri. Malam ini juga Bung sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat memproklamasikan Indonesia dari genggaman Jepang,” tandasnya.
Bung Karno tetap menolak. Sebab dia sebagai ketua PPKI tidak mau melangkahi wewenang semua anggotanya.
Lagi pula dia sebagai pemimpin rakyat dan ketua PPKI tak ada bedanya. Semua orang tahu dia telah bekerja sama dengan Jepang untuk urusan kemerdekaan ini.
Wikana lalu mengancam,”Kalau Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah.”
Diancam begitu Bung Karno langsung marah. Dia mendekati Wikana sambil menyorongkan lehernya. ”Ini leher saya. Seretlah saya ke pojok itu. Sudahilah nyawa saya malam ini juga. Jangan menunggu sampai besok,” bentak Bung Karno.
Wikana kaget mendapat reaksi Bung Karno yang marah seperti itu. Dengan gugup dia berkata,”Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan , apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat akan bertindak dan membunuhi orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro Jepang.”
Deadlock
Demikian cerita Mohammad Hatta di bukunya Sekitar Proklamasi. Perdebatan malam itu dihentikan sejenak 15 menit untuk meredakan ketegangan. Bung Karno, Bung Hatta, Mr Subardjo, dan Dokter Buntaran masuk ke ruang tengah.
Ketegangan seperti ini, sore hari sebelumnya juga terjadi di rumah Bung Hatta. Dia didatangi Subadio Sastrosatomo dan Subianto, anak Margono Djojohadikusumo. Keduanya mendesak Bung Hatta agar memerdekakan Indonesia oleh Bung Karno. Jangan oleh PPKI.
Bung Hatta menolak dengan alasan sama dengan Sukarno. Dua pemuda itu juga mengancam dan menuduh Bung Hatta tidak revolusioner. Tidak bisa diharapkan mengadakan revolusi.
Setelah rehat, suasana rumah Pegangsaan Timur kembali hangat. Di ruang tengah empat orang senior tadi memperoleh kata sepakat, bila pemuda bersikeras memproklamasikan Indonesia merdeka pada malam itu juga lebih baik mereka mencari pemimpin lain yang belum pernah kerja sama dengan Jepang.
Pertemuan dimulai lagi. Bung Karno menyampaikan pendapat para senior kepada para pemuda. Ternyata mereka tak mau mencari pemimpin lain yang pas untuk memproklamasikan Indonesia merdeka. Maka perundingan deadlock dan bubar tengah malam itu.
Tapi saat makan sahur rumah Bung Hatta dan Bung Karno didatangi para pemuda dipimpin Sukarni. Kedua tokoh ini diminta ikut mereka dibawa ke Rengasdengklok. Ikut serta Ibu Fatmawati dan anaknya, Guntur, yang masih berusia 9 bulan.
Sukarni menyatakan, karena Bung Karno tidak mau memproklamasikan kemerdekaan tadi malam maka pemuda bertindak sendiri.
”Nanti menjelang pukul 12 siang sebanyak 15.000 rakyat menyerbu kota bersama mahasiswa dan PETA melucuti Jepang,” ucap Sukarni.
”Bung Karno dan Bung Hatta kami bawa ke Rengasdengklok untuk meneruskan pimpinan Pemerintah Republik Indonesia dari sana,” tandasnya.
Bung Hatta mengingatkan tindakan pemuda itu hanya fantasi yang terbentur realita. Meskipun Jepang sudah menyerah kepada sekutu tapi kekuatannya di Jawa masih lengkap. Jika menyerang kekuatan Jepang di Jakarta itu bukan melaksanakan revolusi tapi melakukan putsch atau kudeta yang membunuh revolusi sendiri.
Sukarni menjawab,”Ini sudah jadi keputusan kami semua dan tidak dapat dipersoalkan lagi.”
Dengan mobil sedan para pimpinan ini dibawa ke Rengasdengklok. Sebelum sampai di Karawang terdapat simpang jalan mobil berhenti. Pindah naik mobil pikap. Sopir sedan disuruh pulang agar tak ketahuan jejak jalannya. (*)
Editor Sugeng Purwanto












