Rileks

Dengan Halalin, Makanan Halal di Taiwan Tak Lagi seperti Jarum di Tumpukan Jerami

44
×

Dengan Halalin, Makanan Halal di Taiwan Tak Lagi seperti Jarum di Tumpukan Jerami

Sebarkan artikel ini
Tak perlu lagi menebak label atau membaca komposisi dalam bahasa Mandarin—Halalin jadi penunjuk halal yang andal.
Penulis saaat menyusuri Zhongzheng Road, Yuanlin, Changhua, Taiwan untuk mencari makanan Halal

Tak perlu lagi menebak label atau membaca komposisi dalam bahasa Mandarin—Halalin jadi penunjuk halal yang andal.

Oleh Naimul Hajar, Guru SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sudoarjo yang mendampingi siswanya mengikuti Summer Camp di Daye University, Taiwan.

Tagar.co – Malam di Changhua turun perlahan, seperti tirai tipis menutup panggung. Badai Topan Podul sudah lewat, suhu kembali hangat, bercampur wangi roti panggang dari sebuah minimarket yang terang benderang. Lampu neon memantul di kaca etalase, memanggil siapa saja yang lelah selepas aktivitas Summer Camp 2025.

Saya melangkah masuk, dan seperti kebiasaan di tanah air, tangan ini otomatis meraih beberapa makanan kemasan: biskuit manis, minuman rasa buah, dan camilan asin berbungkus warna-warni. Namun di antara rak-rak rapi itu, muncul satu pertanyaan yang tak bisa diabaikan: Apakah ini halal?

Baca juga: Summer Camp Daye University Dibayangi Terpaan Topan Podul

Pertanyaan itu akhirnya saya kirim lewat pesan singkat kepada Husin Sahrul, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan.

“Kalau di Seven Eleven, produk apa saja yang halal? Saya lihat tidak ada label halal kecuali mi gelas dari Indonesia,” tulis saya.

Baca Juga:  Atlet Panjat Tebing Indonesia Pecahkan Rekor Asia 6,078 Detik di Tiongkok

Jawabannya datang secepat kilat, seolah sudah sering ia dengar kegelisahan serupa: Sekarang ada aplikasi Halalin.”

Layar Ponsel, Pemandu Halal

Begitu tiba di penginapan, saya langsung mencarinya di Playstore. Dalam hitungan detik, ikon biru Halalin hadir di layar ponsel—ibarat lilin kecil di tengah gelap, menjadi pemandu halal.

Di Taiwan, negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim, mencari makanan halal ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

Namun Halalin mengubah pencarian itu menjadi peta terbuka. Dari mi instan hingga minuman bersoda, dari ayam goreng cepat saji hingga roti lembut, semua bisa ditemukan lewat kategori—Carbo, Chicken, Fast Food, Beverage—atau langsung memilih toko tertentu.

Di situs resminya, tim Halalin menegaskan: Semua produk di Halalin sudah terjamin halal. Mereka tidak berjalan sendiri. Komunitas Muslim terbesar di Taiwan, Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (Formmit), Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, hingga OICBD Halal Certification Center menjadi mitra.

KDEI Taipei, meski bukan kedutaan karena Indonesia dan Taiwan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, adalah jembatan resmi Indonesia di Taiwan. Dukungan mereka menjadikan Halalin bukan sekadar aplikasi, melainkan hasil gotong royong lintas komunitas.

Baca Juga:  Sepuluh Stan Kantin Smamda Sidoarjo Kantongi Sertifikat Halal BPJPH

Dari Pencari Menjadi Penjaga

Keunikan Halalin ada pada sifatnya yang partisipatif. Setiap pengguna bisa menjadi kontributor. Menemukan bumbu masak halal di pasar tradisional? Minuman bersertifikat halal di kios kecil pinggir jalan? Unggah saja. Syaratnya jelas: ada label halal atau sertifikat resmi dari produsen.

Tanpa label? Pengunggah wajib menyertakan bukti. Setiap informasi akan diverifikasi, dan bila keliru, fitur “laporkan produk” siap membersihkannya. Di sinilah kepercayaan menjadi bahan utama, bukan sekadar data yang tercecer.

Lebih dari Sekadar Makanan

Yang membuat Halalin istimewa adalah fitur peta. Satu klik, dan layar menampilkan restoran halal serta tempat salat terdekat. Bagi pelajar baru atau wisatawan yang tersesat di lorong-lorong kota Taiwan, titik-titik ini seperti bintang penunjuk arah.

Sama seperti produk, informasi lokasi pun bisa ditambahkan siapa saja. Setiap masjid, warung kecil, hingga ruang salat di sudut kota—semuanya memperkaya peta halal Taiwan.

Rasa Aman di Meja Makan

Sejak mengunduh Halalin, belanja menjadi lebih santai. Tak perlu lagi memicingkan mata membaca komposisi bahan dalam bahasa Mandarin. Tak ada lagi tebak-tebakan apakah restoran ini aman untuk dikunjungi.

Baca Juga:  Belajar Bangkit dari Titik Nol di Smamda Sidoarjo

Halalin bukan sekadar alat pencari. Ia adalah teman perjalanan yang setia. Teman yang selalu berkata: Tenang, ini aman untukmu.

Malam itu, ketika saya melangkah keluar dari minimarket dengan kantong belanja di tangan, Taiwan terasa berbeda. Udara lembap musim panas membawa aroma roti dari toko seberang jalan. Langkah saya ringan, karena kini saya tahu setiap gigitan adalah bagian dari keyakinan yang terjaga.

Saya teringat pesan Husin Sahrul di hari pertama kami bertemu: Kalau ada Halalin, tidak perlu khawatir lagi mencari makanan halal di Taiwan.”

Dan di situlah saya sadar, rasa aman di meja makan bukan sekadar soal makanan. Ia adalah cerita tentang rindu pada tanah air, tentang komunitas yang saling menjaga di negeri asing, dan tentang keyakinan yang tetap utuh meski berada ribuan kilometer dari rumah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni