Feature

Belajar Bangkit dari Titik Nol di Smamda Sidoarjo

90
×

Belajar Bangkit dari Titik Nol di Smamda Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Kepala Smamda Sidoarjo, M. Zainul Arifin (kiri), menjelaskan fasilitas UKS dengan standar layanan kesehatan kepada rombongan SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan saat berkunjung ke Smamda Sidoarjo, Rabu (11/3/2026). (Tagar.co/Dian Arif Fajar)

SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo pernah berada di titik paling sulit dengan hanya enam murid. Kini, sekolah itu menjadi tempat belajar—termasuk bagi rombongan SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan tentang manajemen sekolah, inovasi, dan cara membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Tagar.co — Siapa sangka, sekolah yang pernah hanya menerima enam murid kini justru menjadi tempat belajar bagi sekolah lain. Itulah kisah SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo, Jawa Timur, yang dibagikan kepada rombongan SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan, Madura, saat berkunjung pada Rabu (11/3/2026).

Baca juga: Sepuluh Stan Kantin Smamda Sidoarjo Kantongi Sertifikat Halal BPJPH

Sebanyak 12 orang hadir dalam rombongan tersebut. Mereka terdiri atas unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan, Majelis Dikdasmen dan PNF, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta para guru.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari amanat Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PWM Jawa Timur.

Dalam surat Majelis Dikdasmen & PNF nomor 65/INS/II.4/D/2026 tertanggal 2 Februari 2026, Smamda Sidoarjo ditugasi melakukan pendampingan bagi sekolah Muhammadiyah yang sedang berupaya memperkuat manajemen dan pengembangan kelembagaan.

Baca Juga:  Salat Id di PRM Bajang Diikuti Ratusan Jemaah, Khotbah Soroti Konsistensi Usai Ramadan

Pernah Hanya Memiliki Enam Murid

Alih-alih berlangsung dalam suasana formal yang kaku, pertemuan berjalan santai dan akrab. Diskusi mengalir, diselingi cerita perjalanan Smamda yang ternyata tidak selalu mulus.

Kepala Smamda Sidoarjo, M. Zainul Arifin, membuka diskusi dengan kisah yang cukup mengejutkan bagi para tamu.

“Smamda pada awal berdirinya pernah berada pada masa yang sangat sulit. Pernah ada masa ketika jumlah murid yang masuk hanya enam orang,” ungkapnya.

Situasi tersebut tentu bukan hal mudah bagi sebuah sekolah. Namun justru dari kondisi itulah, menurutnya, muncul tekad untuk bangkit.

“Kami tidak menyerah. Kami terus melakukan berbagai inovasi, baik dalam pembelajaran, pelayanan kepada murid, maupun cara membangun kepercayaan masyarakat,” lanjutnya.

Cerita itu membuat para peserta semakin antusias. Mereka menyimak bagaimana perubahan di Smamda berlangsung secara bertahap melalui berbagai upaya pembenahan.

Kepala Smamda Sidoarjo, M. Zainul Arifin (kiri), menunjukkan fasilitas Air Siap Minum “Hawari” kepada rombongan SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan saat kunjungan studi pengelolaan sekolah di Smamda Sidoarjo, Rabu (11/3/2026). (Tagar.co/Dian Arif Fajar)

Menurut Zainul, perkembangan sebuah sekolah tidak pernah terjadi secara instan. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja bersama dari seluruh elemen sekolah.

“Merawat sekolah itu membutuhkan konsistensi. Tidak cukup hanya rapat-rapat saja, tetapi harus ada aktualisasi nyata dari setiap keputusan yang diambil,” ujarnya.

Baca Juga:  Tiga Guru Smamda Sidoarjo Bawa Inovasi Pembelajaran Kreatif ke Olympicad Makassar

Ia juga menekankan pentingnya kerja tim. Ketika guru, pimpinan sekolah, dan seluruh unsur memiliki visi yang sama, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya.

Dalam suasana diskusi yang penuh keakraban, Zainul turut memberikan motivasi kepada rombongan agar tetap optimistis mengembangkan sekolah mereka.

“SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan pasti bisa berkembang. Apalagi SDM-nya banyak yang masih muda. Itu menjadi kekuatan tersendiri karena geraknya bisa lebih cepat, lebih kreatif, dan lebih adaptif,” katanya.

Pertemuan tersebut tidak hanya berisi paparan pengalaman. Para peserta juga aktif berdiskusi, mulai dari strategi promosi sekolah, pengelolaan program unggulan, hingga cara membangun budaya kerja yang solid di lingkungan sekolah.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah sekolah tidak selalu mulus. Namun dengan kesabaran, inovasi, dan kerja sama yang kuat, sekolah yang pernah sepi pun dapat tumbuh menjadi tempat belajar bagi sekolah lainnya. (#)

Jurnalis Naimul Hajar | Penyunting Mohammad Nurfatoni