Opini

Lomba Kebersihan Lingkungan: Mengurangi atau Menambah Sampah?

123
×

Lomba Kebersihan Lingkungan: Mengurangi atau Menambah Sampah?

Sebarkan artikel ini
Lomba kebersihan lingkungan yang digelar untuk memeriahkan HUT RI kerap memunculkan paradoks: ajang yang seharusnya mengurangi sampah, justru bisa menambahnya.
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Lomba kebersihan lingkungan yang digelar untuk memeriahkan HUT RI kerap memunculkan paradoks: ajang yang seharusnya mengurangi sampah, justru bisa menambahnya.

Oleh Mochammad Nor Qomari, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik.

Tagar.co – Setiap tahun, masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan seperti warga, instansi pemerintahan, dan sekolah-sekolah ikut merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan meriah.

Salah satu bentuk perayaan yang cukup populer adalah lomba kebersihan lingkungan yang bertujuan menciptakan suasana kampung yang bersih, indah, dan semarak menyambut hari kemerdekaan.

Baca juga: Rayakan Kemerdekaan tanpa Sampah: Lomba 17-an Ramah Lingkungan

Lomba kebersihan lingkungan ini biasanya melibatkan berbagai pihak, di antaranya dinas kesehatan, dinas lingkungan hidup, PKK, serta tokoh masyarakat dan instansi terkait lainnya.

Keterlibatan banyak pihak ini seharusnya menjadi peluang emas bahwa lomba ini bukan sekadar ajang seremonial, tetapi juga sarana edukasi dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Tidak hanya sekadar kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat. Warga dari berbagai RT dan RW maupun warga instansi dan sekolah terlihat bahu-membahu membersihkan lingkungan, memperindah gang dengan hiasan kemerdekaan, serta memperbaiki taman dan saluran air.

Baca Juga:  Menjaga Konsistensi, Warga GKA Dorong TPS Bersih Berkelanjutan

Tanpa memandang usia—mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia—semua ikut terlibat aktif dalam persiapan lomba. Gotong royong ini menjadi modal sosial penting untuk membuat lomba lingkungan berkelanjutan, bukan sekadar hias sementara.

Semangat gotong royong yang dihidupkan kembali melalui lomba kebersihan ini diharapkan dapat menjadi gaya hidup masyarakat dalam menjaga lingkungan sepanjang tahun, bukan hanya saat menjelang hari kemerdekaan.

Dengan kolaborasi semua elemen masyarakat, lomba lingkungan bukan hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga gerakan nyata untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.

Paradoks

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Kriteria penilaian dalam lomba kebersihan masih sering terfokus pada aspek estetika, seperti kelengkapan bendera dan umbul-umbul di gang, hiasan kemerdekaan, gemerlap lampu hias, serta kreativitas melukis di jalan. Meskipun tampak indah, pendekatan ini belum tentu mendukung tujuan utama pelestarian lingkungan.

Tanpa petunjuk teknis dari panitia lomba untuk menggunakan bahan daur ulang, bahan ramah lingkungan, atau hasil recycle, masyarakat cenderung menggunakan material baru yang berujung menambah volume sampah. Alih-alih mengurangi sampah, kegiatan ini justru bisa menjadi kontributor baru terhadap pencemaran lingkungan.

Liputan Radar Gresik Jumat (11/7/2025) tentang “TPA Ngipik Gresik Nyaris Lumpuh, DPRD: Bukan Sekadar Masalah Sampah” menyebutkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik Kabupaten Gresik mengalami kelebihan kapasitas.

Baca Juga:  Didukung Wakil Bupati, Foto Siswa Spemdalas Jadi Sarana Belajar Sejarah

Ketua DPRD Gresik M. Syahrul Munir menyebutkan, “Gresik saat ini tengah menghadapi situasi darurat sampah.” Setiap hari sekitar 150 ton sampah masuk TPA Ngipik, namun hanya sekitar 10 persen yang bisa dipilah dan diolah. Sisanya ditimbun karena keterbatasan fasilitas,” ungkap Syahrul. Kondisi darurat ini hampir pasti juga terjadi pada TPA-TPA lain di seluruh Indonesia.

Seharusnya, momen lomba kebersihan lingkungan sejak awal dirancang panitia dengan visi yang lebih luas. Lomba ini bukan hanya soal membuat lingkungan terlihat bersih dan semarak sementara, tetapi juga solusi nyata atas permasalahan lingkungan yang semakin kompleks.

Kriteria penilaian lomba lingkungan bersih dan sehat perlu difokuskan untuk menjawab tantangan lingkungan masa kini. Penilaian dapat mencakup pengelolaan lingkungan secara menyeluruh, pengelolaan sampah berkelanjutan, pengembangan ruang terbuka hijau, kebersihan lingkungan yang konsisten, serta upaya konservasi air dan energi.

Dalam aspek pengelolaan lingkungan, indikator yang bisa digunakan antara lain sistem drainase yang baik, pengurangan genangan air, serta upaya menjaga keseimbangan ekosistem lokal. Aspek ini menjadi indikator penting lingkungan yang sehat dan tangguh.

Pengelolaan sampah pun harus menjadi poin utama. Penerapan kebijakan zero waste, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pengolahan kedua jenis sampah ini harus menjadi bagian dari penilaian. Edukasi kepada warga tentang pentingnya memilah dan mengolah sampah juga harus menjadi strategi lomba.

Baca Juga:  Rahasia Manis Sumi Cake

Ruang terbuka hijau bisa dikelola dengan menanam pohon peneduh produktif, taman toga, hingga kebun sayur warga. Inisiatif ini tidak hanya mempercantik lingkungan tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan dan ketahanan pangan masyarakat.

Kebersihan lingkungan harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari fasilitas umum, permukiman warga, selokan, hingga area jalan. Kegiatan bersih-bersih tidak hanya dilakukan menjelang lomba, tetapi dibangun sebagai kebiasaan bersama.

Terakhir, aspek konservasi air dan energi juga perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat perlu diajak merawat sumber air bersih, menggunakan air secara bijak, serta menerapkan pengelolaan penggunaan listrik secara efisien, termasuk menyalakan dan memadamkan lampu jalan sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, lomba kebersihan lingkungan seharusnya tidak hanya menjadi ajang memeriahkan kemerdekaan, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan nyata dalam mengelola dan melestarikan lingkungan hidup.

Jika dirancang dengan visi yang tepat, lomba kebersihan bisa menjadi senjata ampuh mengatasi darurat sampah. Jika tidak, ia hanya akan menjadi pesta hias yang meninggalkan tumpukan masalah baru. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni