Feature

Hutan Kota di Dekat Pelabuhan: SD Mugres Kampus B Tawarkan Sekolah Bernapas Hijau

60
×

Hutan Kota di Dekat Pelabuhan: SD Mugres Kampus B Tawarkan Sekolah Bernapas Hijau

Sebarkan artikel ini
Juri LLSMS bersama pimpinan, guru, karyawan dan siswa penampil seni di halaman SD Mugres Kampsu B, Selasa 5 Agustus 2025 ((Tagar.co/Diyani Islamiyah)

Tak banyak sekolah berani “rumbuk”—membiarkan kerimbunan hidup berdampingan dengan keteraturan. Di SD Mugres Kampus B, Gresik, hijau bukan sekadar warna, tapi filosofi hidup yang merasuk hingga ke meja kursi palet, suguhan es cincau, hingga tari panen. Inilah kisah sebuah sekolah yang mengajarkan cinta lingkungan lewat aksi nyata.

Tagar.co – Memasuki SD Muhammadiyah 3 Gresik—atau yang lebih dikenal dengan sebutan SD Mugres Kampus B—serasa melangkah ke dalam sebuah hutan kota. Jejak-jejak hijau tampak nyata di setiap sudut sekolah, menghadirkan suasana asri yang menyegarkan.

Begitu melewati gerbang sekolah yang berlokasi di Jalan Harun Tohir 67A, Gresik, Jawa Timur, Selasa 5 Agustus 2025, kami langsung disambut deretan tanaman keras seperti sukun, mangga, jambu air, nangka, sirsak, matoa, kelengkeng, hingga beringin.

Baca juga: SD Mugres Kampus B Usung Semangat Kolaborasi dan Kesadaran Lingkungan di LLSMS

Melihat tanaman-tanaman itu tumbuh subur dan kokoh menebar keteduhan, Zufra Inayah, S.K.M., M.Kes., tampak terkesima. Ini adalah kunjungan pertamanya ke sekolah yang didirikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik.

“Ini di luar ekspektasi saya. Karena dekat Pelabuhan Gresik, saya membayangkan sekolah ini gersang dan panas. Ternyata sebaliknya: rindang dan sejuk,” ujar juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) dari unsur Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik itu.

Deretan pohon di halaman depan bukan satu-satunya penyumbang kerindangan. Di berbagai sudut sekolah, terlihat aneka tanaman yang ditata dengan rapi dan penuh perhitungan ekologis.

Tanaman rambat seperti sireh Belanda hijau dan sireh Belanda kuning menjalar membentuk dinding hijau alami. Di sela-selanya, pucuk merah, tanaman toga, dan tanaman hias tumbuh berdampingan, masing-masing dilengkapi label identitas dengan nama Latin dan nama lokal.

Tanaman-tanaman itu seolah bahu-membahu menjaga teras dan halaman sekolah dari teriknya sinar matahari. Tak hanya memberi keteduhan visual, mereka juga menyumbangkan oksigen segar dan menyerap karbondioksida, menjadikan SD Mugres Kampus B sebagai ruang belajar yang benar-benar hidup dan menyejukkan.

Zufra Inayah di halaman sekolah bersama penulis (tengah), Kepala SD Mugres Kampus B, Yusuf Wibisono, M.Pd. (kanan), dan Kepala Urusan Dikjarkur Kiki Rizki Amaliyah, S.Pd. (kiri). Tampak seorang wa;i murid pengurus Ikwam ikut mendampingi. (Tagar.co/Diyani Islamiyah)

Kanopi Alami

Tak berhenti di situ. Kerimbunan juga terlihat di area parkir sepeda ontel para siswa yang berada di sisi timur gedung sekolah. Tanaman rambat seperti markisa, lee kwan yu, anggur hijau, dan cincau menjalar rapi di atas membentuk kanopi alami. Juntaian akar-akar gantungnya membuat suasana menjadi romantis, sekaligus magis.

Baca Juga:  Telur Rebus Latih Anak Berkebutuhan Khusus Belajar Konsentrasi

Spot seperti ini langsung memancing pujian kami, para juri. “Luar biasa. Saya suka karena warga sekolah di sini tidak takut rumbuk,” ucap saya.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Dalam banyak kasus, sekolah cenderung memilih tampilan bersih dan rapi tanpa tanaman—sekadar lantai plester atau paving yang minim vegetasi.

Memang tampak steril, tetapi sekaligus mengorbankan unsur alam yang sejatinya penting bagi pendidikan ekologi siswa. Risiko daun gugur, ranting berserakan, atau kekhawatiran munculnya hewan liar seperti ular sering dijadikan alasan untuk menjauh dari kerimbunan.

Namun di SD Mugres Kampus B, justru yang terjadi sebaliknya: kerimbunan tak ditakuti, tetapi dirawat dan dipelihara sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Tanaman tumbuh bebas, namun tertata. Hijau bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari karakter sekolah yang mendidik anak mencintai alam—bukan sekadar menyapu bersihnya.

Dari kiri: Yusuf Wibisono (kepala sekolah), penulis, Zufra Inayah, dan Kiki Rizki Amaliyah (kepala urusan dikjarkur) (Tagar.co/Aida Sya’aan Nabila)

Berani Rumbuk

Sementara itu, di sisi belakang gedung bagian utara, terdapat kanopi alami yang dibuat dari tanaman cincau. Tanaman rambat ini tumbuh rimbun dan tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga sebagai sumber bahan baku minuman cincau yang kerap disajikan dalam berbagai kegiatan sekolah—terutama saat mengundang wali murid atau pada momen-momen spesial seperti LLSMS ini.

“Biasanya disajikan bersama keripik sukun dan sukun kukus hasil panen sekolah,” ungkap Kiki Rizki Amaliyah, S.Pd., Kepala Urusan Dikjarkur SD Mugres Kampus B.

Kepala sekolah, Yusuf Wibisono, M.Pd., menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi risiko dari kerimbunan seperti tumpukan daun dan ranting, sekolah telah mengembangkan sistem pengolahan kompos. Daun-daun kering dimasukkan ke dalam blangsing—karung dari bahan plastik—dan dibiarkan hingga terurai menjadi pupuk organik.

Namun, ia berharap proses ini bisa berjalan lebih cepat, salah satunya dengan mempercepat proses pencacahan sampah organik agar ukurannya lebih kecil sebelum dikomposkan. “Kami butuh alat pemotong itu, harganya sekitar Rp8 juta,” ujarnya, seraya berharap ada dermawan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan bersedia membantu melalui donasi.

Baca Juga:  Majelis Dikdasmen Gresik Luncurkan 7 Program Strategis 2026, Fokus Mutu dan Sinergi Sekolah
Yusuf Wibisono memperlihatkan sampah organi dari tanaman sekolah (Tagar.co/Aida Sya’aan Nabila)

Meja Kursi dari Palet Limbah Pabrik

Kesan alami di SD Mugres Kampus B tidak hanya terlihat dari rimbunnya tanaman di lingkungan sekolah, tetapi juga terasa saat warga sekolah menyambut kedatangan kami.

Mereka mengenakan topi lapangan dan rompi berwarna cerah—menandakan semangat kegiatan luar ruang yang edukatif sekaligus ramah lingkungan. Yang mengejutkan, outfit mereka ternyata selaras dengan kostum yang kami kenakan.

“Ini kostum MPLS kemarin yang bertema Rimba. Kami pakai lagi karena senafas dengan kegiatan hari ini,” terang Kiki Rizki Amaliyah, guru pendamping yang dengan sigap mendampingi kami bersama kepala sekolah dan guru lainnya, termasuk dua guru yang bertugas sebagai fotografer: Diyani Islamiyah, S.Pd. dan Aida Sya’aan Nabila.

Meja kursi tempat kami duduk pun memberi kesan yang unik dan mengesankan. Sofa bekas yang rusak disulap menjadi set kursi-meja dari kayu palet limbah pabrik—tampilan sederhana namun berkarakter.

Di atas meja itu tersaji kopi jahe dalam teko tanah liat dan air putih dalam kendi, menambah kesan tradisional dan sekaligus memperkuat semangat ramah lingkungan. Kudapan kacang tanah dan es cincau menambah kesejukan sore yang hangat dalam suasana kebersamaan.

“Sayang sekali kali ini pohon sukun belum bisa dipanen,” ujar Yusuf Wibisono, sembari menunjuk tumpukan palet di belakang meja. Ia menambahkan, palet-palet itu akan segera diolah menjadi sketsel sebagai dinding pemisah di beberapa ruangan sekolah—sebuah upaya kreatif yang menggabungkan fungsi, estetika, dan keberlanjutan.


Makanan dan minuman penyambut tamu dikemas dalam wadah tradisional dan ramah lingkungan (Tagar.co/Diyani Islamiyah)

Kreasi Seni

Tampilan Sambil menikmati es cincau yang segar, kami juga disuguhi penampilan kesenian tradisional yang tak kalah istimewa: Tari Asmoro Bangun. Tiga siswi SD Mugres Kampus B—Fajra Nada Nadhifa, Meyssa Kirana Yusuf, dan Thalita Khanza Az-Zahra—tampil kompak dengan busana olahraga dan caping petani, memperagakan gerak lincah yang menggambarkan proses bertani: dari menanam hingga panen.

Tari ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarat nilai edukasi dan budaya. Tari Asmoro Bangun pernah menyabet Juara I Lomba Tari Kreasi Tradisi Tingkat Kabupaten Gresik yang diselenggarakan oleh Yayasan Bening Insani Kreatif bekerja sama dengan KBPPPA tahun 2025. Gerakannya menggambarkan dinamika kerja keras petani dan kegembiraan saat panen tiba.

Baca Juga:  Jajanan dan Teriakan Penjual Cilik Warnai Business Day SD Mugres

Tak sekadar simbolik, properti tari berupa damen—tangkai padi yang telah dipanen menggunakan ani-ani—dibawa langsung dari Lamongan untuk menjaga keaslian suasana. “Kami datangkan langsung dari Lamongan,” ujar Yusuf.

Tarian yang mengesankan itu lalu disambung dengan tampilan Senam Anak Indnesia Hebat yang dibawakaan lima siswa.

Persembahan siswa: Tari Asmoro Bangun (Tagar.co/Diyani Islamiyah)

Kompak dalam Setiap Gerak

Usai menikmati suguhan seni tradisional, kami diajak bersantap bersama dengan menu spesial: marak. Makanan khas dari Pekalongan ini menghadirkan cita rasa unik—persilangan antara gulai, sop, dan asem-asem balungan. “Yang jelas bukan seperti rawon,” seloroh Yusuf Wibisono sambil tersenyum, menjelaskan bahwa marak kali ini adalah hasil kreasi salah satu wali murid.

Kebersamaan tak berhenti di meja makan. Kami lalu diajak berkeliling menyusuri seluruh sudut sekolah: mulai dari ruang kepala sekolah, kantin, toilet, hingga perpustakaan. Dalam momen ini, beberapa catatan kami sampaikan, terutama tentang pentingnya membawa nuansa hijau halaman ke dalam ruangan.

“Di setiap ruangan bisa ditambahkan tanaman dalam pot atau sistem hidroponik,” saran Zufra Inayah, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik yang turut menjadi juri. Ia juga menyoroti adanya kesan lembap di beberapa ruang, termasuk perpustakaan, yang menurutnya perlu segera diatasi.

Pimpinan, guru, dan karyawan SD Mugres Kampus B mengikuti LLSMS kompak sampai malam (Tagar.co/Diyani Islamiyah)

Mendengar masukan tersebut, Yusuf Wibisono menyambut dengan optimisme. Baginya, kekuatan utama SD Mugres Kampus B adalah kekompakan warga sekolah. Dan itu bukan sekadar slogan.

Selama proses visitasi LLSMS yang berlangsung sejak pukul 15.00 hingga 19.00 WIB, para guru dan karyawan sekolah hadir mendampingi dengan totalitas dan kekompakan yang nyata. Dari menyambut tamu, memandu tur lingkungan, hingga menyiapkan konsumsi, semua dilakukan bersama dan dengan sepenuh hati.

Semangat gotong royong inilah yang menjadi denyut nadi sekolah: menanam nilai, memanen harmoni. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni, juri LLSMS dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik.