Feature

Cerita Pengalaman Wartawan Tempo Dulu

192
×

Cerita Pengalaman Wartawan Tempo Dulu

Sebarkan artikel ini
Cerita pengalaman masa lalu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain untuk diambil hikmahnya. Bukan sekadar pelipur lara tapi untuk memaknai hidup.
Jurnalis Lumajang hadir di acara Milad ke-1 Tagar.co.
Dari kiri: Rizal Mazaki, Nugroho Dwi Atmoko, Pemred Tagar.co Sugeng Purwanto, Suharyo, dan Kuswantoro. (tagar.co/Kuswantoro)

Cerita pengalaman masa lalu bisa menjadi pelajaran bagi orang lain untuk diambil hikmahnya. Bukan sekadar pelipur lara tapi untuk memaknai hidup.

Tagar.co – Jam masih menunjukkan pukul lima pagi ketika tim jurnalis Lumajang memulai perjalanan ke Surabaya, Ahad (3/8/2025).

Agenda utama menghadiri Milad ke-1 Tagar.co yang digelar di Hotel Namira, Surabaya, tak jauh dari Masjid Al Akbar.

Namun pagi itu rombongan harus lebih dulu mengantar Ustaz Suharyo mengisi kajian Ahad pagi di Masjid Raudhatul Muttaqin, kompleks Pabrik Gula Jatiroto.

Usai mengisi kajian, pukul tujuh pagi, rombongan yang terdiri dari Nugroho Dwi Atmoko, Suharyo, Rizal Mazaki, dan Kuswantoro segera tancap gas menuju Surabaya.

Sejak berangkat hingga pulang kemudi dipegang penuh oleh Nugroho Dwi Atmoko.

Suharyo duduk di sampingnya. Rizal di bangku belakang. Sepanjang jalan, obrolan mengalir santai hingga tiba cerita tentang masa lalu Ustaz Suharyo saat menjadi wartawan Surabaya Post.

”Dulu saya kalau ngetik naskah berita pakai mesin ketik. Suaranya berisik banget,” kata Suharyo disambut gelak tawa seisi mobil.

Untuk mengakali suara berisik itu, dia punya trik. “Saya ganjel pakai bantal. Biar nggak terlalu berisik kalau malam-malam,” tambahnya sambil tersenyum.

Baca Juga:  Idulfitri 20 Maret, Ini Tempat Salat Id di Lumajang

Paling mengesankan, menurut Suharyo, adalah tombol huruf O di mesin ketiknya yang sudah aus.

“Kalau ngetik huruf O pasti bolong kertasnya,” kenangnya. ”Beda banget sama sekarang yang serba canggih,” jawab Suharyo.

“Dulu setelah naskah jadi, harus dikirim lewat jasa kirim. Namanya Arjuno Travel. Baru sampai dua hari kemudian di kantor redaksi Surabaya.”

Karnaval Lupa Salat

Tak hanya di Surabaya Post, Suharyo juga menceritakan pengalamannya menjadi jurnalis di media Pemkab Lumajang Majalah Mahameru yang terbit sejak era Bupati Tarmin Hariadi. Tapi Suharyo jadi wartawan di majalah itu zaman Bupati Ahmad Fauzi.

“Saya menulis di situ sebagai bagian dari kontribusi dakwah dan pengarsipan sosial,” kata Ketua PDM Lumajang periode 2015-2020 ini.

Gaya tulisannya punya kekhasan: mengangkat hal-hal yang dianggap sepele tapi mengandung pesan sosial. Salah satunya adalah ketika ia menulis soal karnaval.

“Waktu itu saya tulis soal karnaval. Banyak peserta yang lupa salat karena sudah macak sejak pagi. Itu saya angkat jadi tulisan dan ternyata dapat perhatian Pak Bupati,” cerita pengalaman Suharyo.

Baca Juga:  Masjid Uranggantung Kejutan Baru PCM Candipuro

Dia juga menyisipkan pesan dakwah dalam obrolan santainya. ”Kita berdakwah itu jangan lihat kanan-kiri, lurus saja sesuai tujuan. Dan hal sekecil apa pun, ayo ditulis, khususnya yang baik-baik. Jangan cuma nulis soal kasus saja,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Karena orang yang sregep, yang paling beruntung itu ya dirinya sendiri. Jadi jangan suka sambat. Terus berkarya lewat tulisan. Itu bisa jadi catatan sejarah di masa depan,” cerita dia.

“Insya Allah dengan menulis, pikiran tambah plong… dan juga nambah umur,” tutupnya dengan senyum khas yang mengandung semangat dan harapan.

Lebih jauh, Suharyo mengajak agar kejumudan dalam berpikir tidak berhenti hanya di kepala. “Itu harus kita realisasikan dengan menulis di media seperti ini,” katanya, merujuk pada platform jurnalisme warga yang mereka ikuti.

Suharyo juga menyampaikan bahwa selama hidupnya ia sudah menulis lebih dari 60 buku dari beragam topik yang digelutinya.

“Dalam perjalanan hidup ini, nanti akan ketemu jalannya sendiri. Awalnya sendirian, lama-lama ketemu dengan teman-teman yang punya misi yang sama, ketemu orang-orang baik,” ucapnya.

Baca Juga:  Kado Ramadan Lazismu Lumajang Dibagi Dua Tahap

Baginya, menulis adalah tanggung jawab, apalagi bagi warga Muhammadiyah. “Kita ini di pusaran kegiatan, seharusnya punya info lebih dahulu. Maka semua kegiatan harus ditulis,” pesannya dengan nada serius namun hangat.

Tipe Orang

Suharyo berbagi pengalamannya saat mengisi pelatihan jurnalistik. Ia sering menyampaikan tentang empat tipe orang dalam dunia komunikasi dan dakwah.

“Tipe pertama, orang yang nulisnya lancar, pidatonya juga menggelegar. Contohnya Bung Karno. Buku-bukunya banyak dan orasinya mengguncang,” ucapnya.

“Yang kedua, pidatonya lancar tapi nulisnya tidak begitu jalan. Contohnya KH Zainuddin MZ.”

“Yang ketiga, pidato di mimbar kurang lancar, tapi tulisannya luar biasa, buku-bukunya abadi. Contohnya Bung Hatta,” lanjutnya.

Kemudian ia tertawa kecil sebelum menyebut tipe terakhir. “Nah, yang keempat ini yang parah… ngomong nggak lancar, nulis juga nggak bisa. Dikasih mic ditolak, dikasih mesin ketik nggak dipakai,” katanya disambut tawa renyah dari penumpang lainnya. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto