
Sebanyak 53 siswa SD Almadany dilantik sebagai Penegak Disiplin Sekolah (PDS). Yaqdhan Pratama dan Inara Sashikirana dipercaya memimpin barisan kedisiplinan dengan penuh tanggung jawab.
Tagar.co – Angin pagi berembus sejuk di bawah rindangnya dua pohon pule besar yang menaungi lapangan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur.
Suasana Apel Pagi pada Senin (4/8/2025) ini terasa istimewa. Di akhir apel, dilangsungkan prosesi pelantikan Penegak Disiplin Sekolah (PDS) untuk masa bakti 2025–2026, sebuah momen yang sarat makna bagi siswa kelas V.
Baca juga: SD Almadany Lantik IPM Kids dan PDS: Menyiapkan Pemimpin Kecil dengan Tanggung Jawab Besar
Sebanyak 53 siswa-siswi dari kelas V Al Khawarizmi dan V Al Battani berbaris rapi di depan gedung sekolah berwarna hijau telur asin. Mereka berdiri tegak, berseragam rapi dengan topi merah dan rompi krem, siap mengucapkan sumpah sebagai PDS. Di barisan depan, dua siswa tampak memegang bendera bertuliskan SD Almadany School of Experience.
“Apakah kalian siap menerima tugas sebagai Penegak Disiplin Sekolah?” tanya Kepala SD Almadany, Lilik Isnawati, M.Pd., dengan suara tegas.
“Siap!” jawab Yaqdhan Pratama (Kelas V Al Battani) lantang, mewakili rekan-rekannya, disambut gemuruh semangat teman-temannya di barisan.
Pada momen ini, Yaqdhan Pratama resmi dikukuhkan sebagai Ketua PDS SD Almadany 2025–2026. Ia didampingi Inara Fathania Sashikirana (Kelas V Al Khawarizmi) sebagai wakil ketua. Satu per satu para siswa mengucapkan ikrar sumpah yang dipandu langsung oleh kepala sekolah.
Lilik Isnawati mengingatkan, menjadi PDS bukan sekadar simbolis, tapi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan amanah dan sungguh-sungguh. “Jika suatu saat kalian melanggar aturan, maka kalian harus siap untuk dicopot dari jabatan,” pesannya tegas.

Lima Kelompok
Maulidya Firdausi, S.Pd., wali kelas V, menjelaskan 53 siswa PDS ini dibagi ke dalam lima kelompok yang akan bertugas secara bergiliran dari Senin hingga Jumat. Mereka akan menjadi garda terdepan dalam menyambut siswa di gerbang sekolah, mengatur barisan menuju musala untuk salat berjemaah, hingga memastikan saf salat tertata rapi.
Di balik kemeriahan pelantikan ini, ada kisah mengharukan dari Yaqdhan Pratama. Muliasari, ibunda Yaqdhan, yang dihubungi Tagar.co, mengaku tak kuasa menahan haru mendengar putranya dipercaya menjadi ketua PDS. Ia bercerita, pagi itu Yaqdhan sempat bersedih karena tidak memakai celana putih sebagaimana mestinya petugas apel.
“Semalam kami baru pulang dari Bromo-Probolinggo, menghadiri undangan pernikahan kerabat. Saya merasa bersalah karena tidak sempat mencarikan celana putih untuk Yaqdhan. Ternyata Allah beri kejutan, dia malah diangkat menjadi ketua PDS,” tutur Muliasari, dengan suara bergetar menahan haru.
Bagi Muliasari, ini adalah buah dari kesabaran. Ia berharap Yaqdhan bisa amanah dan menjadi teladan bagi adik-adiknya di SD Almadany.
Prosesi pelantikan ini tak hanya meninggalkan kesan bagi siswa yang dilantik, tetapi juga menguatkan semangat kedisiplinan di lingkungan sekolah. Sebuah tradisi yang tak hanya mengajarkan kepemimpinan, tetapi juga nilai tanggung jawab dan keikhlasan dalam menjalankan amanah. (#)
Jurnalis Eli Syarifah Penyunting Mohammad Nurfatoni












