Feature

Salat Duha dan Doa Pagi Menyejukkan MIM 28

41
×

Salat Duha dan Doa Pagi Menyejukkan MIM 28

Sebarkan artikel ini
Salat Duha bagian penting dari program karakter Islami di madrasah ini. Membentuk murid tidak hanya cerdas, tapi berakhlak dan rajin ibadah
Murid MIM 28 Bangkingan Surabaya salat Duha. (Tagar.o/Tiris Ahmadha)

Salat Duha bagian penting dari program karakter Islami di madrasah ini. Membentuk murid tidak hanya cerdas, tapi berakhlak dan rajin ibadah

Tagar.co – Ketika matahari mulai naik, ratusan murid MI Muhammadiyah 28 Bangkingan Surabaya berkumpul di Masjid Baitul Halim di lantai dua, Kamis (24/7/2025).

Mereka melaksanakan salat Duha, amalan sunnah yang menjadi bagian dari denyut kehidupan di madrasah ini.

Muhammad Nabil Ghani Setiawan, siswa kelas 6 KH Faqih Usman, berdiri tegak di hadapan jamaah. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, ia memimpin salat dengan khusyuk.

Suaranya tenang namun menggetarkan, menghadirkan suasana syahdu di antara barisan para siswa. Dalam diam, setiap hati diajak mendekat kepada Sang Pencipta.

Teman-temannya yang bersaf-saf di belakang mendengarkan dengan tenang. Jamaah ini mengikuti setiap gerakan rukun salat dua rakaat hingga selesai.

Rakaat pertama membaca surah Ad-Duha setelah Al-Fatihah. Rakaat kedua membaca surah An-Naas. Setelah salam, Nabil juga memimpin zikir dan doa.

Kepala MI Muhammadiyah 28 Surabaya, Rohim, S.HI., M.Pd., menjelaskan, salat Duha dibiasakan kepada murid karena disunahkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  Usia 40 Bukan Sekadar Angka

”Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas di kelas, tapi juga unggul dalam akhlak dan ibadah,” ujarnya.

Ia menuturkan, pembiasaan salat Duha bagian penting dari program karakter Islami di madrasah.

Rizky Syarifuddin Hidayat, S.H., M.Pd., Kaur Ismuba, menambahkan, anak-anak ini adalah calon pemimpin. ”Melalui ibadah ini, kami ingin mereka tumbuh sebagai pribadi yang kuat secara spiritual, tidak mudah goyah dalam tantangan zaman,” ujarnya.

Dia menyampaikan, salat ini bukan sekadar ritual di MI Muhammadiyah 28 Surabaya tapi menjadi laku hidup.

Sebuah latihan untuk membentuk hati yang lembut, jiwa yang tenang, serta sikap yang santun. ”Di sinilah generasi masa depan ditempa, bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan iman,” ujarnya.

Dengan bimbingan cinta dari para guru, sambung dia, kegiatan salat Duha terus dijaga dan dikuatkan. Harapannya, nilai-nilai spiritual yang ditanam sejak dini ini akan tumbuh dan berbuah dalam setiap langkah hidup para siswa, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat.

MI Muhammadiyah 28, sekolah Islam di Surabaya Barat terus menjadi pelita pendidikan yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menyejukkan jiwa. (#)

Baca Juga:  Malam Abata SD Almadany, Tiga Kunci Meraih Sukses

Jurnalis Tiris Ahmadha  Penyunting Sugeng Purwanto