
Dari Lembah Ranuna hingga Hagia Sophia, sejarah Islam merekam lima momen salat Jumat yang menjadi titik balik peradaban. Setiap rakaat, setiap khotbah, menjadi saksi lahirnya kekuatan spiritual dan politik umat.
Tagar.co – Jumat adalah hari istimewa bagi umat Islam. Setiap Jumat, kaum laki-laki diperintahkan oleh Allah Swt. untuk melaksanakan salat Jumat, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah 9. Surah ini diturunkan di Madinah setelah Nabi Muhammad Saw. hijrah pada tahun ke-6 Hijriah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Sebelum ayat ini turun, Nabi Muhammad Saw. telah mengisyaratkan pentingnya salat pada hari Jumat yang disertai khotbah. Namun, pelaksanaannya belum memungkinkan karena jumlah umat Islam saat itu masih sedikit dan adanya intimidasi dari kaum Quraisy.
Lima Salat Jumat Bersejarah
Sejarah mencatat, terdapat lima salat Jumat yang dikenang sebagai peristiwa monumental dalam perjalanan peradaban Islam:
1. Salat Jumat Pertama di Madinah
Salat Jumat pertama dalam sejarah Islam tahun 622 Masehi dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw. di Lembah Ranuna saat hijrah menuju Madinah. Nabi berhenti di perkampungan Bani Salim bin Auf dan memimpin salat Jumat serta menyampaikan khotbah yang menegaskan pentingnya ketakwaan, persatuan, dan amal saleh.
Sebagai pengingat peristiwa itu, didirikanlah masjid di lokasi tersebut dengan ukuran 7 x 5,5 meter persegi. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti siapa pendirinya, sehingga tak banyak umat Islam yang berziarah ke sana.
Sebelumnya, sahabat As’ad bin Zurarah telah lebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Madinah sebelum hijrah Nabi, dengan sekitar 40 orang jemaah. Momen ini menandai awal masyarakat Islam yang berdaulat.
2. Salat Jumat Menjelang Perang Manzikert
Perang Manzikert merupakan pertempuran besar antara Kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Seljuk pada 26 Agustus 1071 Masehi di dekat Manzikert (kini Malazgirt, Turki). Kekalahan Bizantium memicu migrasi besar-besaran bangsa Turki ke Anatolia dan mempercepat penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Menjelang pertempuran, Sultan Alp Arslan memimpin salat Jumat bersama pasukannya. Ia mengenakan kain kafan putih sebagai simbol kesiapan syahid dan melepaskan semua lambang kekuasaan.
Dalam khotbahnya, ia berkata dengan suara lantang dan rendah hati, “Hari ini aku salah satu dari kalian. Barang siapa ingin ikut bersamaku, ikutlah. Siapa yang ingin mundur, silakan.”
Salat dan khutbah ini menjadi kekuatan ruhiyah yang menyokong kemenangan gemilang Islam di Anatolia.
3. Salat Jumat Pembebasan Masjidilaqsha
Pada 2 Oktober 1187 atau 4 Sya’ban 583 Hijriah, Baitulmaqdis (Al-Quds) berhasil dibebaskan dari penjajahan asing oleh Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi. Kemenangan ini diraih setelah pasukan Islam mengalahkan Tentara Salib dalam Perang Hittin di wilayah Laut Mati pada Juli 1187, yang menandai jatuhnya Kerajaan Kristen Yerusalem.
Salat Jumat kembali ditegakkan di Masjidilaqsha pada 4 Sya’ban 583 atau 9 Oktober 1187setelah 88 tahun vakum. Hari itu, lantunan azan menggema, para imam memimpin salat, dan Qadhi Muhyiddin bin Zakiyyuddin menyampaikan khutbah kemenangan yang menggugah. Air mata mengalir, jiwa-jiwa larut dalam syukur. Al-Aqsha kembali ke pelukan umat Islam.
4. Salat Jumat Pertama di Konstantinopel
Setelah penaklukan Konstantinopel, Sultan Mehmed II memimpin salat Jumat pertama di Hagia Sophia, 1 Juni 1453 Masehi
Khotbah disampaikan oleh guru beliau, Syaikh Aq Syamsuddin, di dalam bangunan yang sebelumnya gereja dan telah dibersihkan serta diubah menjadi masjid.
Sultan Mehmed II mewakafkan bangunan tersebut untuk umat Islam. Ornamen-ornamen Kristen diganti dengan simbol bulan sabit, menara dan mimbar dibangun. Sejak itu, Konstantinopel (kini Istanbul) menjadi pusat peradaban Islam selama berabad-abad.
5. Salat Jumat Kembali di Hagia Sophia setelah 86 Tahun
Pada 24 Juli 2020, setelah 86 tahun, Hagia Sophia kembali difungsikan sebagai masjid dan menjadi tempat pelaksanaan salat Jumat. Sebelumnya, pada 1934, bangunan ini diubah menjadi museum oleh keputusan pemerintah Turki.
Presiden Recep Tayyip Erdogan dan ribuan jemaah memenuhi tempat suci bersejarah itu. Takbir menggema, air mata haru mengalir, dan akun resmi Hagia Sophia membuka kembalinya rumah ibadah itu dengan basmalah. Peristiwa ini menjadi momen kebahagiaan umat Islam yang menggema ke seluruh dunia. (#)
Penulis Fela Layyin Penyunting Mohammad Nurfatoni












