Feature

Kisah Ibrahim, Alumnus SMPN 3 Sidoarjo dengan Puluhan Prestasi Akademik

63
×

Kisah Ibrahim, Alumnus SMPN 3 Sidoarjo dengan Puluhan Prestasi Akademik

Sebarkan artikel ini
Jalan sunyi Ibrahim meraih prestasi akademik. Alumnus SMPN 3 Sidoarjo itu menelurkan total 22 juara dan melenggang ke SMA impiannya.
Ibrahim Naufal Zuhdi bersama ibunda dan kepala SMPN 3 Sidoarjo saat menerima apresiasi dari sekolah (Tagar.co/istimewa)

Jalan sunyi Ibrahim meraih prestasi akademik. Alumnus SMPN 3 Sidoarjo itu menelurkan total 22 juara dan melenggang ke SMA impiannya.

Tagar.co — Sosok berkacamata itu tampak asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Mengenakan hem kotak-kotak, dia mengangguk takzim saat dipanggil guru untuk diajak ngobrol santai pada Senin (23/6/25) pagi.

Adalah Ibrahim Naufal Zuhdi, alumnus SMPN 3 Sidoarjo (Spentigda), yang dulu duduk di kelas 8I, itu kembali ke sekolah. ‘Balik kucingnya’ Ibrahim bukan tanpa alasan. Selain untuk melepas rindu dengan sekolah dan teman-temannya, juga karena ada pembagian foto wisuda saat itu.

Ketika bicara itulah, kerendahan hati tampak dari balik kacamata bening yang dikenakannya. Ada semangat besar yang tersimpan, yang tak tampak dari luar.

Ibrahim memang telah menjadi satu dari 27 alumni dari kelas 8I Spentigda. Di sekolah, dia dikenal sebagai siswa pendiam. Namun jangan ditanya soal prestasi. Sederet prestasi membanggakan ditorehkannya. Total 22 prestasi akademik (18 tingkat provinsi dan empat kabupaten) disabetnya selama dua tahun di Spentigda.

Ya, dua tahun. Bukan tiga tahun seperti siswa SMP pada umumnya. Karena SMPN 3 Sidoarjo menjadi satu dari enam sekolah negeri penyelenggara Layanan Istimewa Cerdas Istimewa (LICI) di Kabupaten Sidoarjo. Ibrahim menjadi salah satu siswa di kelas LICI.

Dari sekian banyak prestasi yang ditorehkannya itulah yang membuat Ibrahim, akhirnya berhasil menembus SMAN 1 Sidoarjo lewat jalur prestasi lomba akademik.

Senang IPA Sejak Kecil

Perjalanan Ibrahim menuju puncak prestasi bukan diraih dengan cara instan. Di tengah kesibukan sekolah dan tugas, ia justru menemukan dunianya sendiri, yaitu pada bidang sains, logika, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Saat kelas VII dia bahkan ikut OSIS dan terpilih menjadi wakil ketua.

“Sejak kecil saya memang suka IPA, terutama Biologi,” ucapnya suatu siang di sela kegiatan belajar. “Saya merasa tertantang saat mempelajari hal-hal yang belum saya tahu. Rasanya seru.”

Kecintaannya pada sains membawanya mengikuti berbagai kompetisi. Puncaknya, pada Mei lalu, dia berhasil menyabet juara pada Olimpiade IPA yang digelar FPIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Sebulan sebelumnya, Ibrahim berhasil menjadi Juara 1 Olimpiade MIPA tingkat SMP se-Jawa Timur yang digelar di SMAN 1 Sidoarjo. Ajang ini mempertemukan para siswa terbaik dari seluruh penjuru provinsi.

Tak dinyana, siswa yang tinggal di Permata Candiloka, Candi, itu mampu mengalahkan para peserta dari jenjang kelas 9. “Seneng banget,” katanya singkat, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa bangga.

Namun, kemenangan itu bukan hasil kebetulan. Di balik prestasi itu, tersimpan disiplin tinggi, latihan soal yang konsisten, dan dukungan penuh dari keluarga serta guru. “Persiapannya berat, karena materinya banyak yang level SMA. Tapi saya tetap coba, karena saya suka tantangan,” ujarnya.

Tak lama berselang, Ibrahim kembali membuktikan dirinya. Dalam Ajang Kompetisi Sains Remaja (AKSARA) yang diadakan di Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, dia meraih juara ketiga. Lomba ini diikuti lebih dari 1.700 peserta SMP/MTS se-Jawa Timur dan menguji kombinasi pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

“Saya belajar seminggu sebelumnya, ikut bimbingan dari Bu Vivi, juga dibantu orang tua,” kenangnya. Pada hari pengumuman, orang tuanya yang mendampingi tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Sang ayah dan ibu langsung memeluknya saat namanya disebut sebagai juara.

Menurut Ibu Oktaviana Wahyuningtyas, S.Pd., guru pembimbingnya, Ibrahim adalah sosok yang ulet dan konsisten. “Dia rajin belajar di rumah, bahkan mengerjakan soal-soal olimpiade yang biasanya untuk tingkat SMA. Dia punya kemauan kuat dan orang tua yang mendukung penuh.”

Konsistensi Tinggi

Bagi Ibrahim, lomba bukan semata-mata soal menang atau kalah. “Saya hanya ingin menguji kemampuan saya dan menantang diri sendiri. Soal hasil, itu urusan Allah. Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin,” katanya.

Soal konsistensi belajar, jangan ditanya keistikamahan Ibrahim. Jam belajar baginya adalah kewajiban. Hampir tiap malam dia akan ‘bertahannuts’ di dalam kamarnya. Hape dan segala tetek bengeknya akan ditinggalkan. Bagaimana kalau ada WA yang masuk? “Jika tidak penting, saya tidak akan menjawabnya,” kata Ibrahim.

Berapa lama dia akan belajar. Ibrahim mengaku mulai tenggelam dalam buku dan soal-soal usai shalat isyak. Berakhirnya jam belajar malam itu saat dia sudah mengantuk. “Ya biasanya sampai hampir tengah malam,” jelas Ibrahim yang bercita-cita masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Dia juga memberi pesan sederhana namun dalam bagi teman-temannya, “Ikuti lomba di bidang yang kamu suka. Jangan takut kalah. Karena yang paling penting adalah proses belajar yang kamu dapat.”

Siswa yang menamatkan sekolah dasarnya di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom, Sidoarjo (Muhida), itu bukan hanya sosok siswa berprestasi. Dia adalah simbol bahwa mimpi besar bisa dicapai oleh siapa saja yang mau belajar keras dan percaya pada kemampuannya sendiri.

Ibrahim adalah bukti, jika gen Z dengan semangat belajar dan dukungan yang tepat bisa melesat tinggi. Dari lorong kelas 8I yang sederhana, kita sedang menyaksikan awal perjalanan dari seorang calon ilmuwan masa depan.(#)

Jurnalis Mahadewi Chelsea A.Z dan Nasya Alifia Maulida. Penyunting Darul Setiawan.