Feature

Aroma Kreativitas di Gelar Karya Mugeb School

42
×

Aroma Kreativitas di Gelar Karya Mugeb School

Sebarkan artikel ini
Aroma kreativitas memenuhi Averroes Hall saat Mugeb School menggelar "Mugeb Exhibition" (gelar karya). Pameran ini puncak P5 yang mewadahi siswa menciptakan pengalaman belajar sesuai tema yang ditentukan.
Pengunjung menyimak penjelasan siswa kelas II tentang wayang dan kerajinan kain flanel yang memakai pakaian adat ketika menjaga stan. (Tagar.co/Yuanita Anggun Candra Yudha)

Aroma kreativitas memenuhi Averroes Hall saat Mugeb School menggelar “Mugeb Exhibition” (gelar karya). Pameran ini puncak P5 yang mewadahi siswa menciptakan pengalaman belajar sesuai tema yang ditentukan.

Tagar.co – Averroes Hall SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) berubah wajah. Selasa pagi, 17 Juni 2025, aula tersebut penuh dengan semangat inovasi. Sejak pukul 07.00 WIB, ruang tersebut berubah menjadi etalase menarik, panggung bagi kreativitas tanpa batas siswa-siswi Mugeb dalam gelaran “Mugeb Exhibition“.

Tak hanya sekadar pameran. Ini adalah pesta kreativitas, sebuah perayaan atas Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang telah mereka rajut sepanjang semester dua tahun pelajaran 2024-2025.

Setiap stan memancarkan aura berbeda, seolah bercerita tentang perjalanan panjang sebuah ide, dari angan menjadi wujud nyata. Produk-produk yang anak-anak pajang bukan sekadar karya, melainkan manifestasi dari daya cipta dan semangat kolaborasi yang telah diasah.

Di mata Tryas Ngudi Lestari, S.Pd., sang guru proyek yang setia mendampingi setiap langkah kreatif anak didiknya—dari coretan pertama hingga presentasi penuh percaya diri—Mugeb Exhibition ini harapannya menjadi wadah bagi siswa untuk memamerkan hasil perjuangan kerja sama timnya.

Baca Juga:  Spemdalas Raih 5 Emas Olympicad VIII Makassar

Saat itu, Tryas pun tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah berjalan lancar,” ujarnya dengan senyum merekah.

“Tadi setiap stan menampilkan produk proyek mereka. Bedanya dengan tahun sebelumnya di mana gelar karya per jenjang kelas. Kalau sekarang, tiap kelas menampilkan hasil produk masing-masing,” lanjutnya.

Aroma kreativitas memenuhi Averroes Hall saat Mugeb School menggelar "Mugeb Exhibition" (gelar karya). Pameran ini puncak P5 yang mewadahi siswa menciptakan pengalaman belajar sesuai tema yang ditentukan.
Tim juri menilai stan kelas I yang menjelaskan kerajinan clay dan manik-manik. (Tagar.co/Yuanita Anggun Candra Yudha)

Sistem Penilaian

Kemudian, suasana semakin hidup ketika sistem voting diterapkan. Setiap anak memegang selembar sticky note, seolah membawa kekuatan untuk menentukan favoritnya.

“Tiap anak dapat sticky note yang diberikan ke satu stan bagus, tapi tidak boleh vote kelasnya sendiri,” jelas Tryas.

Setelahnya, antusiasme para pemilik stan pun tak terbendung. Mereka berlomba menjelaskan produknya dengan semangat membara, mempromosikan stan hasil kerja keras dengan bangga dan berharap meraih voting terbanyak.

“Stannya macam-macam. Alhamdulillah keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri mereka diuji di sini,” pungkas Tryas, alumni Mugeb School itu. Matanya berbinar melihat anak didiknya tumbuh.

Di tengah keramaian, tampak Hafiz Azka, salah satu siswa, bersiap mempresentasikan karyanya. Tryas mendekat, membisikkan kata-kata penyemangat, “Yang ada di pikiranmu, sampaikan saja.”

Baca Juga:  Gerakan Dakwah Digital: Agen dan Verifikator SatuMu

Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna, membuka gerbang keberanian bagi Hafiz. Momen-momen seperti ini, di mana kreativitas, kerja sama, dan pengetahuan dasar tentang produk ditempa dengan begitu kuat, menjadi kebanggaan tersendiri.

Aroma kreativitas memenuhi Averroes Hall saat Mugeb School menggelar "Mugeb Exhibition" (gelar karya). Pameran ini puncak P5 yang mewadahi siswa menciptakan pengalaman belajar sesuai tema yang ditentukan.
Stan kelas V Design tentang produk daur ulang dan peta Indonesia di gelar karya. (Tagar.co/Shihatin)

Jejak Kreativitas dan Mimpi Terbang

Sebelum voting berlangsung, para juri berkeliling, menyusuri setiap lorong, berhenti di setiap stan. Perwakilan kelas dengan sigap mempresentasikan buah pikiran dan kerja keras mereka.

Penilaian produk gelar karya tak hanya bertumpu pada wujud fisik produk, namun juga pada kekuatan presentasi yang memukau.

Salah satu yang menarik perhatian adalah karya daur ulang dari siswa kelas V. Dengan bangga, Alvino Rizky Ramadhan dari kelas V Design menjelaskan, “Saya membuat pesawat daur ulang dari botol bekas yang berbahan botol plastik bekas dan kardus. Lengkap dengan dinamo, baterai, dan baling-baling. Yang sekarang ini tegangan dinamo sekitar 3 volt. Butuh 2 baterai. Tapi buat terbang butuh 12 volt, sekitar 8 baterai.”

Ia menambahkan, proses pembuatannya memakan waktu seminggu. “Sebenarnya aku mau bikin remot, tapi butuh biaya lebih. Aku ngide sendiri. Aku eksperimen melihat YouTube,” ungkap Alvino, matanya berbinar penuh inspirasi.

Baca Juga:  Dari Lapangan ke Pergerakan: Badminton IMM Ganesha sebagai Energi Soliditas dan Silaturahmi

Siswa lain bergantian menyaksikan gelar karya, takjub dengan inovasi yang terpampang di hadapan mereka. Aleeya Zahira, siswi kelas III Brisbane, mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Bagus-bagus. Ada bando bentuk bunga. Aku suka,” komentarnya, mengapresiasi produk siswa kelas I yang menarik hatinya. Untuk kelas III sendiri membuat kerajinan dari tutup botol, batik shibori, dan permen jeli.

Akhirnya, di setiap sudut Averroes Hall, terukir kisah tentang mimpi-mimpi yang terbang tinggi, terbentuk oleh tangan-tangan mungil yang penuh ide dan semangat tak terbatas. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni