
Di tengah hari-hari Tasyrik, eLKISI menggelar Camp Tasyrik—sebuah momen istimewa yang mempertemukan cinta orang tua dan semangat santri dalam balutan kebersamaan, doa, dan pendidikan berbasis nilai-nilai islami.
Tagar.co – Di tengah keberkahan hari-hari Tasyrik, Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI kembali menggelar tradisi tahunan yang sangat dinantikan: Camp Tasyrik.
Kegiatan yang berlangsung di PPIC eLKISI pada 11, 12, dan 13 Zulhijah 1446 atau 7. 8. dan 9 Juni 2025 ini ini menjadi ruang temu yang penuh makna antara wali santri dan kehidupan pondok.
Baca juga: Galon Belas Jadi Ladang: Ketahanan Pangan ala Santri eLKISI

Berbeda dengan kunjungan biasa, Camp Tasyrik mengundang para wali untuk merasakan sendiri atmosfer kehidupan sehari-hari anak-anak mereka. Dengan membawa tenda pribadi, alas tidur, dan perlengkapan sederhana, para wali mendirikan kemah di berbagai sudut pondok—halaman, area masjid, hingga ruang kelas terbuka.
Selama tiga hari, mereka benar-benar larut dalam kegiatan pondok. Para orang tua ikut salat berjemaah, menikmati hidangan ala santri, bercengkerama dengan para ustaz, bahkan turut menyapu halaman dan mencuci peralatan makan.

Dalam suasana sederhana dan penuh keakraban, batas antara tamu dan tuan rumah nyaris lenyap. Yang tersisa adalah rasa saling memahami dan saling menghargai perjuangan masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap tercipta pemahaman dan empati yang lebih dalam dari para wali terhadap proses pembinaan di pondok. Camp Tasyrik adalah salah satu bentuk nyata keterlibatan keluarga dalam proses pendidikan,” ujar Ustaz Gunanto, Kepala SMA PPIC eLKISI.
Kegiatan ini bukan hanya memperkuat hubungan emosional antara santri dan orang tua, tetapi juga mempererat sinergi antara keluarga dan pesantren. Di balik tenda-tenda yang berdiri sederhana, tersimpan harapan besar: bahwa pendidikan terbaik bukan hanya tanggung jawab lembaga, tetapi buah kolaborasi antara rumah dan pondok.

Bagi santri, kehadiran ayah dan ibu di lingkungan yang biasanya hanya diisi teman dan guru adalah momen langka yang membekas di hati. Bagi para orang tua, pengalaman ini membuka jendela baru tentang dinamika kehidupan anak-anak mereka—penuh perjuangan, disiplin, dan kehangatan spiritual.
Camp Tasyrik bukan sekadar kegiatan, tetapi jembatan cinta yang mempertemukan dua dunia: rumah dan pondok. Dari sanalah lahir semangat baru untuk mendampingi anak-anak meniti jalan ilmu dan iman. (#)
Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












