
Di Padang Arafah, jutaan jiwa berhenti sejenak bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Wukuf mengajarkan kita satu hal yang sering terlupakan: mengenali diri sendiri dalam diam yang paling jujur.
Oleh Piet Hizbullah Khaidir; Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur
Tagar.co – Pernahkah kita menyelami diri dalam perenungan panjang dan diam? Harapannya, kita dapat mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan diri. Dapatkah hal itu dilakukan?
Sebagai makhluk yang diciptakan langsung oleh kehendak Tuhan, kekurangan dan kelebihan yang kita miliki sejatinya adalah satu kesatuan nilai. Kehebatan seorang makhluk terletak pada kemampuannya mengenali kekurangannya. Itulah bentuk kesempurnaan yang sejati.
Baca juga: Makna Mendalam di Balik Gelar Tamu Allah
Pertanyaan pentingnya: bagaimana cara mengetahui kekurangan kita? Bagaimana membangun kesadaran untuk mengenali kekurangan sebagai kekurangan? Syariat wukuf di Arafah menjawab pertanyaan itu dengan baik.
Wukuf Arafah: Makna dan Amaliahnya
Wukuf di Arafah adalah rukun haji. Ia menjadi simbol puncak pelaksanaan haji. Tidak sah ibadah haji tanpa wukuf di Arafah. Oleh karena itu, pelaksanaan wukuf tidak dapat diwakilkan kecuali bagi mereka yang memiliki uzur syar’i.
Bagi yang memiliki uzur syar’i, pelaksanaan wukuf dapat dilakukan dengan tiga skema: badal haji, murur, atau safari wukuf.
-
Badal haji adalah pelaksanaan ibadah haji oleh orang lain atas nama orang yang uzur, baik dari keluarga maupun petugas haji.
-
Murur adalah pelaksanaan wukuf dari atas kendaraan tanpa menginap (mabit) di Muzdalifah.
-
Safari wukuf adalah wukuf di atas kendaraan yang dilanjutkan perjalanan ke Muzdalifah di luar waktu mabit yang disyaratkan. Untuk lempar jumrah di Mina, baik dalam skema murur maupun safari wukuf, dilakukan melalui perwakilan.
Badal haji dapat diterapkan bagi calon haji yang wafat atau mengalami sakit berat. Sementara murur dan safari wukuf dapat dijalankan oleh mereka yang mengalami gangguan kesehatan parah sehingga tidak memungkinkan wukuf secara penuh di Padang Arafah.
Secara etimologis, wukuf berasal dari kata waqafa–yaqifu–waqfan–wuqufan yang berarti berhenti atau berdiam diri. Wukuf dimaknai sebagai momen berdiam di Padang Arafah pada 9 Zulhijah, dimulai dari tergelincirnya matahari (masuk waktu zuhur) hingga terbenamnya.
Prosesi wukuf diawali dengan salat zuhur dan asar secara jamak takdim, dilanjutkan khutbah wukuf, dan kemudian wukuf itu sendiri. Hal paling dicintai yang dilakukan Rasulullah Saw. saat wukuf adalah berdzikir dengan bacaan: “Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah. Lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli sya’in qadīr.”
Selain itu, juga dianjurkan memperbanyak doa, talbiyah, istigfar, salawat, serta membaca Al-Qur’an.
Wukuf Arafah sebagai Refleksi Diri
Wukuf berarti berdiam diri di Padang Arafah. Berdiam, tidak banyak bicara, mengendalikan diri dan emosi adalah cara menyelami diri.
Dalam wukuf, setiap insan diajak berefleksi. Berdialog ke dalam. Melihat dan mengenali diri secara mendalam. Menyadari kekurangan dan kelebihan sebagai bagian dari ciptaan yang tidak sempurna. Justru kesempurnaan manusia terletak pada kesadarannya akan ketidaksempurnaan itu.
Siapa yang mampu mengenali dirinya dengan baik, akan bersikap adil pada dirinya. Siapa yang mampu menyelami dirinya dengan jujur, akan menyayangi dirinya. Dan siapa yang mampu merasakan dirinya dengan jernih, akan makin taat kepada Tuhannya. Semakin dalam pengenalan terhadap diri, semakin besar rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Mereka yang mengenali dirinya akan tahu apa yang perlu dikonsumsi, apa yang sebaiknya dihindari, dan kapan waktu terbaik untuk menjaga tubuh dan jiwa. Ia akan terus beribadah dalam kondisi apa pun. Semakin kenal dengan dirinya, semakin cinta kepada Rabb-nya, dan semakin mencintai dirinya sendiri dalam dialog diam dengan Tuhan.
Wukuf Arafah: Mencintai Diri dalam Diam
Wukuf di Arafah adalah momen bagi seorang hamba mencintai dirinya sendiri dalam keheningan dialog dengan Tuhan. Sang hamba diingatkan tentang keterbatasannya. Tentang betapa kecilnya ia di hadapan Yang Mahabesar.
Di Arafah, ia diajak menyadari betapa pentingnya berbuat baik sesuai syariat. Di tengah keterbatasan dan kehinaan dirinya yang dikumpulkan di satu padang yang luas, sang hamba makin mengenali posisinya: tak ada apa-apanya di hadapan Allah.
Maka tak ada pilihan lain, kecuali mencintai diri melalui ketaatan kepada Allah, Sang Pencipta dan Penguasa seluruh alam. Wallāhua‘lam. (#)
Mina, 4 Juni 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












