
Pertempuran terakhir di Benua Tamiang membara. Hantom Manoe berhadapan langsung dengan Gajah Mada dalam duel berdarah. Satu tewas, satu terluka. Akankah legenda itu abadi?
Hantom Manoe (Seri 20, Tamat): Darah di Ujung Perang oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Fajar merah membelah cakrawala Benua Tamiang. Sisa-sisa pertempuran semalam masih menyisakan aroma besi dan darah yang melekat di udara. Mayat-mayat bergelimpangan di luar tembok benteng, beberapa prajurit Aceh masih membersihkan tubuh kawan-kawan mereka yang gugur dalam serangan mendadak Majapahit yang berhasil digagalkan.
Di dalam istana, Raja Muda Sedia berdiri di depan dewan perangnya. Teuku Gantar Alam, Teuku Cindaku, dan Hantom Manoe duduk dalam diam, mendengarkan laporan dari para pengintai.
“Majapahit belum mundur sepenuhnya,” kata seorang perwira muda dengan wajah tegang. “Mereka berkemah di seberang sungai. Jumlah mereka masih banyak. Kita mungkin telah menggagalkan rencana mereka, tapi perang belum usai.”
Baca Juga Seri 1-19 Hantom Manoe
Hantom Manoe mengangguk pelan. “Gajah Mada tidak akan pergi tanpa memastikan kemenangan. Ia tahu harga kekalahan terlalu besar baginya.”
Raja Muda Sedia mengepalkan tangannya di atas meja. “Kalau begitu, kita selesaikan ini di medan perang.”
Teuku Cindaku menggeleng. “Pasukan kita sudah kelelahan. Jika kita menyerang lebih dulu, kita yang akan kehilangan lebih banyak.”
Teuku Gantar Alam menatap Hantom Manoe. “Apa pendapatmu?”
Hantom Manoe menarik napas panjang. “Kita biarkan mereka menyerang lebih dulu. Mereka terdesak untuk menang. Kita akan memanfaatkan keangkuhan mereka.”
Raja Muda Sedia menatapnya tajam. “Dan bagaimana kau memastikan bahwa ini akan berhasil?”
Hantom Manoe tersenyum tipis. “Karena aku akan berada di garis depan.”
Perang Terakhir
Saat matahari mulai naik, suara genderang perang menggema dari seberang sungai. Pasukan Majapahit mulai bergerak, ribuan prajurit bersenjata lengkap berbaris menuju benteng Aceh. Di tengah-tengah mereka, Mahapatih Gajah Mada berdiri gagah di atas kudanya, wajahnya dingin dan penuh tekad.
Hantom Manoe berdiri di depan pasukan Aceh, tangan kirinya mencengkeram pedang pusaka, sementara tangan kanannya mengepal kuat. Di sampingnya, Teuku Gantar Alam dan Teuku Cindaku bersiap dengan pasukan masing-masing.
Saat pasukan Majapahit semakin dekat, Hantom Manoe mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Hari ini, kita tidak hanya bertarung untuk tanah kita! Kita bertarung untuk kehormatan! Untuk nenek moyang kita! Untuk masa depan anak-anak kita!”
Sorak-sorai prajurit Aceh membahana.
Saat itu juga, Gajah Mada mengangkat tangannya, memberi isyarat. Pasukan Majapahit berlari menyerbu, tombak dan pedang terangkat tinggi.
Pertempuran pun pecah.
Darah mengalir di tanah, teriakan perang bercampur dengan suara besi beradu. Hantom Manoe melesat ke tengah pertempuran, tubuhnya bergerak seperti bayangan, setiap tebasannya memakan nyawa musuh. Ia seperti harimau yang lepas dari sangkar, menebas, menusuk, dan menerjang tanpa henti.
Teuku Gantar Alam bertarung di sisi kanan, memimpin pasukan kavaleri kecil yang menyerang sayap Majapahit, sementara Teuku Cindaku dan pasukan pemanahnya menghujani musuh dengan anak panah dari atas benteng.
Di tengah kekacauan itu, Gajah Mada menerobos barisan pertahanan Aceh, langsung menuju ke arah Hantom Manoe.
“Ini harus diakhiri,” desis Gajah Mada.
Hantom Manoe menoleh, menatap mata tajam sang Mahapatih. Tanpa kata, keduanya langsung saling menyerang.
Pedang mereka beradu keras, percikan api memancar. Gajah Mada menyerang dengan kecepatan luar biasa, tapi Hantom Manoe lebih lincah. Mereka bertarung di tengah medan perang yang kacau, tubuh mereka berlumuran darah musuh dan kawan.
Tiba-tiba, Gajah Mada melihat celah dan menusukkan kerisnya ke perut Hantom Manoe.
Namun, Hantom Manoe tidak mundur.
Ia justru mengunci tangan Gajah Mada, mencegahnya menarik kembali kerisnya, lalu menebaskan pedangnya ke leher Mahapatih Majapahit itu.
Gajah Mada terhuyung. Matanya membelalak. Darah mengalir deras dari lehernya yang hampir putus.
Sesaat kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah.
Suasana di medan perang berubah drastis. Pasukan Majapahit yang melihat pemimpin mereka tewas mulai kehilangan semangat. Teuku Gantar Alam melihat kesempatan ini dan berteriak, “Mereka telah kehilangan pemimpin mereka! Hancurkan mereka!”
Pasukan Aceh semakin menggila. Prajurit-prajurit Majapahit mulai mundur, beberapa melemparkan senjata mereka, yang lain berlari menyelamatkan diri.
Perang berakhir.
Akhir dari Sebuah Legenda
Setelah pertempuran, di atas bukit kecil dekat benteng, Hantom Manoe duduk di atas batu, napasnya masih tersengal.
Teuku Cindaku mendekatinya. “Kau terluka.”
Hantom Manoe tersenyum lemah. “Ini bukan apa-apa.”
Tapi dari sela-sela bajunya, darah terus merembes. Keris Gajah Mada telah melukainya lebih dalam dari yang terlihat.
Teuku Gantar Alam datang membawa Raja Muda Sedia.
“Kau telah membawa kemenangan bagi kita,” kata Raja Muda Sedia.
Hantom Manoe menatap cakrawala. “Bukan aku… tapi rakyat Aceh.”
Ia menarik napas panjang. “Tapi perang ini… hanya awal dari pertempuran yang lebih besar.”
Tubuhnya semakin melemah.
Dan di bawah langit Benua Tamiang yang perlahan memerah oleh cahaya senja, Hantom Manoe menutup matanya untuk terakhir kalinya.
Sebuah legenda telah lahir. (Tamat)
Penyunting Mohammad Nurfatoni








