Feature

Membangun Spirit Bermuhammadiyah dari Kesehatan Mental dan Spiritual

39
×

Membangun Spirit Bermuhammadiyah dari Kesehatan Mental dan Spiritual

Sebarkan artikel ini
Spirit Bermuhammadiyah: Melalui kajian di Masjid Baiturrahman Surabaya, Dr. Muhammad Anas menegaskan pentingnya kesehatan mental dan spiritual sebagai fondasi karakter kader Muhammadiyah yang kuat, bijak, dan berdampak sosial.
Spirit Bermuhammadiyah: Masjid Baiturrahman Tempuran, Mulyorejo, Surabaya (Foto blog Masjid Baiturrahman)

Melalui kajian di Masjid Baiturrahman Surabaya, Dr. Muhammad Anas menegaskan pentingnya kesehatan mental dan spiritual sebagai fondasi karakter kader Muhammadiyah yang kuat, bijak, dan berdampak sosial.

Surabaya — Masjid Baiturrahman Tempuran, Mulyorejo, Surabaya, kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 11 Mei 2025. Kegiatan ini menghadirkan Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.

Mengangkat tema “Menjaga Mental dan Spiritual Health dalam Membangun Spirit Bermuhammadiyah,” kajian ini menjadi bagian dari pembinaan rohani oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo yang diketuai Najib Sulhan, M.A.

Baca juga: RSU Muhammadiyah Babat: Membuka Jalan UMKM Menuju Pasar Halal Global

Dalam ceramahnya, Dr. Anas, sapaannya, menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan mental dan spiritual sebagai fondasi dalam kehidupan pribadi dan pergerakan Muhammadiyah.

Mengenal Diri: Tiga Dimensi Kehidupan Manusia

Manusia, menurut dr. Anas terdiri dari tiga aspek:

  • Jasad, tubuh fisik yang menjalankan fungsi biologis.

  • Jiwa, pusat pikiran, emosi, dan kehendak.

  • Roh, dimensi spiritual yang menjadi urusan Allah Swt., sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Isra’ 85.

Baca Juga:  Arsitektur Karakter: Puasa sebagai Revolusi Biologis dan Spiritual

Ketiga aspek ini, harus dipelihara secara seimbang agar seseorang dapat menjalani hidup yang sehat dan bermakna.

Fondasi Awal: Perkembangan Otak dan Pendidikan Karakter

Kajian dilanjutkan dengan penekanan pada masa emas perkembangan otak anak.

  • 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia 5 tahun.

  • 50 persen  kapasitas belajar terbentuk pada usia 3–7 tahun.

Berbagai bagian otak seperti lobus frontal, parietal, oksipital, dan temporal berkembang sangat pesat di masa ini. Oleh karena itu, Dr. Anas menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter sejak dini berbasis nilai-nilai Islam, mengingat fitrah anak yang suci.

Akhlak Mulia sebagai Cermin Spiritualitas

Akhlak adalah wujud nyata dari spiritualitas seseorang. Muhammadiyah, kata Dr. Anas, menekankan akhlak sebagai identitas kader. Delapan akhlak utama yang perlu dijaga meliputi: husnuzan, kanaah, ikhlas, sabar, istikamah, tasamuh, ikhtiar, dan doa.

Dalam kajian itu, Dr. Anas juga menyinggung pentingnya lingkungan sosial. Ia mengingatkan akan sabda Nabi tentang teman yang baik dan buruk, serta peringatan Al-Qur’an mengenai penyesalan orang yang salah memilih teman.

Baca Juga:  Mahasiswa: Agen Perubahan dan Penjaga Amanah Rakyat

Karakter Ideal Anggota Muhammadiyah

Dia menjelaskan, sebagai bagian dari gerakan Islam modernis, anggota Muhammadiyah diharapkan memiliki karakter kuat yang tidak hanya ditunjukkan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kiprah sosial dan organisasi. Dalam ceramahnya, Dr. Anas menyampaikan bahwa karakter ideal kader Muhammadiyah mencakup tujuh aspek utama.

Pertama, anggota Muhammadiyah harus memiliki integritas yang tinggi, tercermin dari kejujuran dan amanah dalam setiap tindakan. Kedua, mereka perlu terus meningkatkan kecerdasan, keilmuan, dan pola pikir yang maju agar mampu menjawab tantangan zaman dengan bijak.

Selanjutnya, kebijaksanaan menjadi nilai penting dalam bersikap, diiringi dengan etos kerja yang tinggi, kedisiplinan, dan produktivitas dalam mengelola waktu dan tanggung jawab. Karakter berikutnya adalah keadilan dan penghormatan terhadap sesama manusia, tanpa memandang latar belakang.

Tak kalah penting adalah semangat al-Ma’un, yaitu kepedulian sosial dan keberpihakan kepada kaum lemah dan mustadafin. Karakter ini menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Terakhir, setiap kader dituntut untuk aktif berorganisasi dan mampu bekerja sama demi mencapai tujuan bersama secara kolektif.

Baca Juga:  Ramadan dan Revolusi Kesalehan: Saat Saraf, Jiwa, dan Roh Berpadu dalam Satu Tubuh

Dengan membentuk karakter semacam ini, setiap anggota Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi pelaku perubahan dan agen dakwah yang berdampak nyata dalam masyarakat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni