Satu hilal menandai datangnya Ramadan bagi seluruh bumi, sementara satu matahari mengatur waktu ibadah di setiap ufuk. Di antara keduanya, terbentang peluang besar untuk menyatukan umat dalam satu harmoni global—dari awal puasa hingga datangnya Syawal.
Oleh Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura)
Tagar.co – Pernahkah Anda membayangkan sebuah simfoni besar di mana ribuan pemusik di seluruh dunia mulai memainkan nada pertama pada detik yang sama, namun masing-masing berhenti saat senja menyentuh jendela rumah mereka?
Itulah gambaran paling tepat tentang bagaimana kita seharusnya memahami ibadah puasa Ramadan di era modern ini.
Baca juga: Simfoni Tubuh: Mengurai Benang Kusut Obesitas, Kesuburan, dan Rahasia di Balik Puasa
Sebagai seseorang yang pernah beberapa kali melintasi batas negara dan zona waktu, saya sering mendengar dan melihat kegelisahan umat: “Mengapa kita berbeda hari memulai puasa?” atau “Bolehkah saya berbuka mengikuti jam di Makkah?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar soal teknis, melainkan soal bagaimana kita menempatkan teks suci Al-Qur’an dan hadis dalam konteks realitas astronomi bumi yang bulat.
Mari kita bedah arsitektur ibadah ini dengan bahasa yang jernih, memadukan logika hukum (mantik) dan keindahan syariat.
Revolusi “Satu Hari”: Hilal Tidak Mengenal Paspor
Dalam kaidah bahasa Arab dan ilmu usul fikih, Rasulullah SAW bersabda dengan sangat lugas: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (HBukhari dan Muslim).
Secara tata bahasa (nahwu), kata “kalian” dalam hadis ini bersifat umum (‘am). Nabi tidak mengatakan “Berpuasalah kalian, penduduk Madinah saja.” Di sinilah lahir konsep wahdatul matlak atau kesatuan tempat terbit secara global.
Secara logika, bumi merupakan satu kesatuan ruang bagi seluruh umat manusia. Jika di satu titik di permukaan bumi—entah itu di padang pasir Afrika atau di pesisir Amerika—hilal telah terlihat secara sah melalui teknologi astronomi modern atau mata telanjang, maka secara yuridis-spiritual, “hari” dalam kalender Hijriah telah berganti menjadi 1 Ramadan untuk seluruh penduduk bumi.
Dahulu, para sahabat seperti Ibnu Abbas di Madinah mungkin berbeda hari dengan Kuraib yang baru datang dari Syam karena kendala komunikasi. Namun hari ini, ketika informasi bergerak lebih cepat dari kedipan mata, alasan “berita belum sampai” tidak lagi relevan secara mantik. Kita hidup di “desa global”. Jika hilal sudah muncul di ufuk bumi, maka itulah proklamasi bagi seluruh umat untuk bersiap menghadap Sang Pencipta dalam satu frekuensi yang sama.
Puasa Berbasis “Jam”: Keadilan di Bawah Matahari
Setelah kita sepakat pada “hari” yang sama, muncul pertanyaan krusial: “Apakah kita harus mulai dan berbuka pada jam yang sama?” Jawabannya adalah tidak.
Di sinilah keindahan syariat Islam yang menghormati hukum alam (sunatullah). Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah 187 memberikan batas yang sangat fisik dan lokal: “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
Ayat ini berbicara tentang durasi, bukan tanggal. Fajar (Subuh) adalah garis mulai, dan terbenamnya matahari (Magrib) adalah garis akhir.
Matahari menjadi penentu waktu salat dan puasa. Karena bumi berputar pada porosnya, matahari terbit dan terbenam pada waktu yang berbeda di setiap lokasi. Jika Anda berada di Jakarta, Anda wajib menunggu fajar di Jakarta. Demikian pula saat berbuka, Anda harus menunggu hingga matahari benar-benar tenggelam di ufuk tempat Anda berada. Inilah yang disebut sebagai syarat pelaksanaan lokal.
Tidak logis jika seseorang di London berbuka mengikuti waktu di Jakarta hanya karena memulai puasa pada hari yang sama. Jika itu dilakukan, ia melanggar perintah Al-Qur’an untuk menyempurnakan puasa sampai malam, sementara malam di London belum tiba.
Keberkahan di Antara 50 Ayat
Islam juga mengajarkan ketelitian melalui sunnah sahur. Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengakhirkan sahur. Jarak antara selesai sahur Nabi dengan waktu fajar digambarkan sekitar bacaan 50 ayat Al-Qur’an, yaitu kurang lebih 10 hingga 15 menit.
Ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan pendidikan disiplin. Rentang waktu tersebut adalah masa transisi bagi jiwa untuk bersiap berpindah dari kondisi makan dan minum menuju kondisi menahan diri.
Begitu pula saat berbuka. Nabi bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” Maka, ketika matahari telah terbenam, segerakanlah berbuka tanpa menunda.
Menuju Harmoni Global: Sebuah Solusi
Jika kita memadukan seluruh pembahasan ini, akan terbentuk pola ibadah yang utuh:
Kesatuan Kalender (Ukhuah) Umat Islam di seluruh dunia idealnya memulai puasa dan berhari raya pada hari yang sama berdasarkan laporan hilal yang sah di mana pun di permukaan bumi. Ini menjadi simbol persatuan global yang tidak tertandingi.
Keberagaman Durasi (Keadilan) Umat Islam menjalankan puasa dengan durasi yang berbeda sesuai posisi geografis masing-masing. Ini merupakan bentuk ujian yang proporsional dan adil.
Ibadah yang Cerdas dan Tertib
Bagi masyarakat, memahami hal ini adalah kunci untuk menjalankan ibadah dengan tenang dan penuh keyakinan (yakin). Rumus sederhananya adalah: “Tanggal mengikuti global (qamar/bulan), waktu mengikuti matahari (lokal).”
Dengan pemahaman ini, perbedaan tidak lagi menjadi sumber perpecahan. Teknologi astronomi bukan untuk menyaingi hadis Nabi, melainkan untuk membantu memverifikasi kebenarannya secara ilmiah (qat’i).
Marilah kita menyambut Ramadan dan Idulfitri dengan ilmu yang matang. Menjaga lisan saat sahur, menjaga integritas saat berpuasa, dan merayakan kemenangan tepat ketika matahari terbenam di ufuk masing-masing. (#)
Penyuntung Mohammad Nurfatoni













