Kita duduk bersama, tetapi tidak benar-benar hadir. Tanpa disadari, layar kecil di genggaman perlahan merampas kehangatan dan kebersamaan yang dulu terasa begitu dekat.
Oleh Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura)
Tagar.co – Bayangkan sebuah sore yang santai di sebuah kedai kopi. Aroma panggangan roti menyeruak, dan alunan musik akustik mengisi udara dengan tenang. Di pojok ruangan, sekelompok sahabat duduk melingkar.
Namun, ada yang aneh. Tak ada suara tawa yang saling menyahut, tak ada cerita seru tentang pekerjaan, bahkan tak ada diskusi hangat mengenai rencana liburan.
Baca juga: Simfoni Tubuh: Mengurai Benang Kusut Obesitas, Kesuburan, dan Rahasia di Balik Puasa
Hening. Yang terdengar hanyalah bunyi klik-klik halus dan gesekan jari di atas kaca layar. Mata mereka tertuju ke bawah, ke sebuah benda persegi bercahaya di genggaman masing-masing.
Mereka berada di ruang yang sama, di meja yang sama, tetapi pikiran mereka sedang berkelana ke ribuan kilometer yang berbeda: satu sedang melihat gosip artis, satu di grup WhatsApp kantor, satu lagi asyik memantau harga barang di toko daring, dan sisanya mungkin sedang tersesat di algoritma media sosial.
Selamat datang di era “phubbing”.
Apa Itu Phubbing? (Bukan Jenis Makanan Baru)
Istilah phubbing mungkin terdengar seperti merek camilan kekinian, namun asalnya cukup serius. Ini adalah akronim dari phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan atau meremehkan). Secara sederhana, phubbing adalah tindakan mengabaikan orang yang ada di depan mata demi sibuk dengan ponsel sendiri.
Bagi kita yang hidup di era serba digital ini, kita tahu betul bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran data atau pesan teks. Komunikasi adalah tentang kehadiran, kontak mata, dan empati. Namun, phubbing perlahan-lahan merusak infrastruktur kemanusiaan tersebut dan membuat kita merasa sendirian di tengah keramaian.
Mengapa Kita Menjadi “Phubber”?
Mengapa kita melakukannya? Padahal kita tahu hal itu terkadang membuat orang lain tersinggung. Ternyata, ada sains di baliknya. Ponsel kita dirancang oleh para insinyur untuk menjadi mesin penghasil dopamin. Setiap kali ada notifikasi—baik itu balasan pesan atau sekadar tanda suka pada unggahan kita—otak menerima suntikan kecil rasa senang.
Kita juga sering terjebak dalam FOMO (fear of missing out). Kita takut tertinggal informasi, bahkan hanya satu menit saja. Padahal, jika dipikirkan kembali, apakah dunia akan berhenti berputar jika kita baru membalas pesan setelah obrolan dengan teman di depan kita selesai? Tentu tidak.
Phubbing di Tempat Kerja: Saat Rekan Merasa Tak Berharga
Mari kita jujur sejenak. Pernahkah Anda sedang berdiskusi serius dengan rekan kerja, lalu ponsel Anda bergetar dan Anda langsung memutus kontak mata untuk mengecek layar? Di mata rekan Anda, momen itu adalah pesan singkat yang berbunyi: “Isi ponsel saya lebih penting daripada apa yang sedang kamu bicarakan.”
Dalam dunia profesional, phubbing adalah pembunuh efektivitas. Ketika rekan kerja atau atasan sering curi-curi pandang ke ponsel saat rapat, suasana kerja menjadi kaku dan kurang apresiatif. Akibatnya, kerja sama tim melemah karena semua orang sibuk dengan “dunia saku”-nya masing-masing. Kita sedang menciptakan budaya kerja yang pandai mengetik, tetapi gagap dalam membangun kerja sama yang tulus.
Tragedi di Meja Makan: Saat Anak Menjadi Korban
Dampak paling menyayat hati dari phubbing justru terjadi di dalam rumah. Kita mungkin lelah setelah bekerja seharian. Namun, saat sampai di rumah, apakah kita benar-benar hadir untuk keluarga?
Penelitian tentang parental phubbing menunjukkan data yang mengkhawatirkan. Ketika orang tua sibuk dengan ponsel saat bersama anak, anak-anak merasa diabaikan secara emosional. Anak-anak yang sering di-phubbing oleh orang tuanya cenderung mengalami masalah perilaku, gangguan kecemasan, dan risiko depresi yang lebih tinggi saat remaja.
Ironisnya, kita sering mengeluh, “Anak zaman sekarang susah lepas dari gawai!” Padahal, mereka hanya meniru apa yang mereka lihat setiap hari di meja makan. Jika ayah dan ibu selalu memegang ponsel, anak akan menganggap ponsel sebagai benda paling berharga bagi orang tuanya. Larangan kita terhadap gawai menjadi tumpul karena kita gagal memberikan keteladanan.
Dampak Medis: Hati-hati dengan Hormon Stres
Sebagai masyarakat yang mulai sadar akan kesehatan mental, kita perlu memahami bahwa phubbing bukan hanya masalah etika, tetapi juga masalah fisiologis. Orang yang menjadi korban phubbing (disebut phubbee) dapat mengalami peningkatan hormon stres. Perasaan diabaikan memicu area otak yang sama dengan rasa sakit fisik.
Bagi kita sendiri sebagai pelaku, phubbing merusak kemampuan untuk fokus. Fokus menjadi terpecah oleh interupsi digital, sehingga pekerjaan tak kunjung selesai dan kualitas pemikiran menjadi dangkal karena terus-menerus terdistraksi.
Mari Berhenti Menjadi “Zombie Digital”
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Tidak perlu tindakan ekstrem seperti membuang ponsel ke laut. Kita hanya membutuhkan digital hygiene atau kebersihan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah pertama adalah menjadikan meja makan sebagai “zona suci”. Di tempat ini, ponsel disimpan di dalam tas agar kita dapat sepenuhnya menikmati cerita keseharian anak, candaan dengan pasangan, dan rasa makanan tanpa distraksi layar.
Dalam situasi rapat atau diskusi, kita dapat melatih etika dengan meletakkan ponsel menghadap ke bawah atau menyimpannya di saku. Jika memang harus menunggu kabar darurat, sampaikan sejak awal sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara.
Selain itu, manfaatkan fitur seperti Mode Fokus (Do Not Disturb) saat bersama keluarga atau bekerja secara mendalam. Dunia luar sebenarnya bisa menunggu selama 30 hingga 60 menit demi interaksi nyata yang jauh lebih berharga.
Pada akhirnya, kuncinya adalah kontak mata. Saat berbicara dengan seseorang, berikan perhatian penuh dengan mendengarkan dan menatap mata mereka secara tulus. Inilah elemen mendasar yang menjaga ikatan emosional kita sebagai manusia.
Menemukan Kembali Kedekatan
Hidup ini pada dasarnya adalah tentang hubungan antarmanusia. Kita adalah makhluk sosial yang butuh didengar dan dihargai. Jangan biarkan sebuah kotak kecil berukuran enam inci merampas kehangatan hubungan kita dengan orang-orang tercinta.
Mari kita tunjukkan kepada anak-anak bahwa pelukan dan tawa orang tua jauh lebih hangat daripada cahaya layar ponsel. Mari kita tunjukkan kepada sahabat dan rekan kerja bahwa kehadiran mereka jauh lebih berarti daripada sekadar linimasa media sosial.
Malam ini, saat Anda pulang ke rumah, cobalah satu hal: simpan ponsel begitu masuk pintu. Sapa keluarga, tanyakan kabar, dan dengarkan mereka tanpa interupsi notifikasi. Itulah kualitas hidup yang sebenarnya—yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh algoritma mana pun.
Penyunting Mohammad Nurfatoni













