
Tiga sahabat, satu ingatan yang terhapus. Saat kode misterius muncul, mereka menyadari—mereka adalah bagian dari eksperimen. Siapa yang mengendalikan mereka? Dan bisakah mereka melarikan diri dari kebenaran?
Tiga Jejak Digital: Jejak yang Terhapus (Seri 6); Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Ruangan itu masih dipenuhi suara dengungan samar. Monitor tua yang menyala memancarkan cahaya redup, menampilkan kalimat yang tak henti-hentinya berkedip:
“Kalian tidak bisa melarikan diri dari sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kalian.”
Revan mundur beberapa langkah, matanya beralih dari layar ke foto yang dipegang Arga. “Kita benar-benar pernah ke sini?” suaranya terdengar ragu, seolah mencoba menyangkal kemungkinan itu.
Baca Seri 5: Tiga Jejak Digital: Labirin tanpa Pintu
Arga menatap foto itu lebih lama. “Aku nggak ingat. Tapi… perasaan ini, ada sesuatu yang terasa familier.”
Fikri menutup laptopnya dengan cepat. “Kalau memang kita pernah ke sini sebelumnya, ada sesuatu yang telah dihapus dari ingatan kita.”
Revan mengusap wajahnya, mencoba berpikir jernih. “Kalau begitu, pertanyaannya adalah… siapa yang menghapusnya?”
Lampu-lampu monitor tiba-tiba berkedip lebih cepat. Seperti merespons pertanyaan Revan, layar-layar itu mulai menampilkan potongan kode yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Di tengah deretan kode tersebut, muncul satu kata yang membuat mereka membeku:
“Eternia.”
Nama itu langsung mengingatkan mereka pada proyek terbesar mereka, game Chronicles of Eternia 2.0, yang baru saja gagal sebelum dirilis.
Arga membaca kode itu dengan cepat. “Ini kode dari sistem Eternia… tapi kenapa ada di sini?”
Fikri segera membuka laptopnya lagi dan mulai membandingkan kode tersebut dengan sistem yang mereka buat. “Sebagian besar ini memang milik kita, tapi ada bagian yang asing. Sepertinya ada sesuatu yang menyusup ke dalam kode asli kita.”
Baca Seri 4: Tiga Jejak Digital: Bayangan di Dunia Maya
Revan mendekati salah satu monitor dan melihat lebih dekat. “Tunggu, aku kenal format ini…” Ia mengetik beberapa perintah cepat di keyboard usang yang masih berfungsi. Layar berubah, menampilkan sebuah dokumen teks.
Kalimat pertama di dalam dokumen itu langsung membuat napas mereka tercekat.
“Eksperimen telah dimulai. Subjek: Arga, Revan, Fikri.”
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Arga akhirnya memecah keheningan. “Eksperimen?”
Fikri menggulirkan isi dokumen itu lebih jauh. Ada catatan lain, tapi isinya terpotong-potong, seolah-olah file itu rusak. Salah satu bagian yang masih bisa dibaca berbunyi:
“Data perilaku telah dikumpulkan. Tahap pertama: penghapusan memori parsial berhasil. Subjek tidak menunjukkan kesadaran terhadap keterlibatan mereka.”
Revan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. “Ini… ini tentang kita? Kita adalah bagian dari eksperimen?”
Arga mengepalkan tangan. “Siapa yang melakukan ini pada kita?”
Tiba-tiba, semua monitor kembali mati secara bersamaan. Ruangan itu menjadi gelap, hanya tersisa suara nafas mereka yang terdengar.
Lalu, sebuah suara muncul dari speaker yang terpasang di sudut ruangan.
“Kalian sudah terlalu jauh.”
Suara itu tidak terdengar asing.
Itu adalah suara mereka sendiri. (#) Bersambung!
Penyunting Mohammad Nurfatoni












