Cerpen

Cahaya di Balik Tirai Ramadan

65
×

Cahaya di Balik Tirai Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di Desa Tlemang, Salma menemukan makna sejati Ramadan saat berbagi takjil. Pertemuannya dengan Arif, anak yatim penuh harapan, mengubah segalanya.

Cahaya di Balik Tirai Ramadan; Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Tlemang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa ini berada di lereng pegunungan dengan ketinggian antara 60 hingga 145 meter di atas permukaan laut. Keindahan alamnya yang asri berpadu dengan suasana pedesaan yang masih kental dengan kearifan lokal.

Selain itu, Tlemang dikelilingi perbukitan hijau, yang menawarkan pemandangan alam menenangkan serta udara yang sejuk. Keindahan alam ini menjadikan desa tersebut tempat yang cocok bagi siapa saja yang ingin merasakan ketenangan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Cerpan Nurkhan lainnya: Cinta dalam setiap Butir Nasi

Keberadaan pegunungan di sekitar desa tidak hanya memberikan pesona alami, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat dalam bidang pertanian dan kehutanan.

Sebagai bagian dari Kecamatan Ngimbang, desa ini memiliki kehidupan sosial yang erat, di mana masyarakatnya tetap memegang teguh tradisi dan nilai gotong-royong.

Keunikan budaya lokal serta keramahan warganya membuat Desa Tlemang memiliki daya tarik tersendiri, baik bagi penduduk asli maupun bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.

Ramadan yang Syahdu di Tlemang

Kehadiran bulan Ramadan di Tlemang terasa begitu syahdu. Udara pagi yang sejuk menyelimuti desa itu, membawa aroma basah setelah hujan semalam. Langit masih kelabu, tetapi cahaya matahari perlahan-lahan mulai menembus awan, menyinari atap-atap rumah yang sederhana.

Salma, seorang gadis berusia dua belas tahun, sudah terbangun sejak Subuh. Ia duduk di beranda rumahnya, memandang ke arah jalan setapak yang menuju ke masjid. Ayahnya, Pak Harun, sudah berangkat ke masjid untuk salat Subuh berjemaah. Salma ingin sekali ikut, tetapi ibunya, Bu Aminah, memintanya menunggu di rumah karena cuaca yang masih dingin.

Baca Juga:  Batas Persahabatan yang Tidak Terucap

“Salma, ayo siapkan sahur untuk besok,” panggil Bu Aminah dari dapur.

Salma mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah. Meski masih kecil, ia sudah terbiasa membantu ibunya. Ramadan selalu menjadi waktu istimewa baginya. Bukan hanya karena puasa, tetapi juga karena kebersamaan yang terasa lebih hangat di bulan ini.

Hari itu, Salma dan ibunya memiliki rencana istimewa. Mereka akan membagikan takjil gratis kepada warga desa yang melintas di depan rumah mereka. Bu Aminah sudah membuat kue-kue tradisional seperti klepon dan onde-onde, sementara Salma bertugas menghias meja kecil di depan rumah.

“Salma, kau tahu kenapa kita berbagi takjil?” tanya Bu Aminah sambil menyusun kue di atas piring.

“Untuk berbuat baik, Bu,” jawab Salma sambil tersenyum.

“Benar, tapi lebih dari itu. Ramadan mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan berbagi, kita belajar untuk lebih bersyukur.”

Salma mengangguk, meskipun ia belum sepenuhnya memahami makna di balik kata-kata ibunya. Namun, ia merasa bahagia bisa melakukan sesuatu yang berarti.

Sore itu, saat matahari mulai tenggelam, warga desa berdatangan. Anak-anak berlarian riang, ibu-ibu membawa keranjang belanja, sementara para bapak berjalan santai sepulang dari ladang. Salma dan ibunya berdiri di depan rumah, menyambut setiap orang dengan senyuman.

“Silakan, Bu, ambil takjilnya,” kata Salma kepada seorang wanita tua yang melintas.

Baca Juga:  Sebotol Air di Lantai Delapan Belas

Wanita itu tersenyum lebar. “Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Salma merasa hatinya hangat. Melihat kebahagiaan sederhana orang-orang yang menerima takjil itu membuatnya semakin bersyukur. Bahkan, seorang anak kecil memeluknya karena terlalu gembira mendapatkan kue klepon.

Namun, ada satu hal yang membuat Salma penasaran. Sepanjang sore, ia melihat seorang anak laki-laki yang selalu berdiri jauh, memandangi meja takjil mereka. Anak itu tidak pernah mendekat, hanya diam di sana dengan mata penuh kerinduan.

“Bu, siapa itu?” tanya Salma pada ibunya.

Bu Aminah menghela napas. “Itu Arif, anak yatim yang tinggal di ujung desa. Ibunya sudah meninggal, dan ayahnya pergi ke kota mencari kerja. Sekarang dia tinggal dengan neneknya yang sudah tua.”

Salma merasa hatinya tersentuh. Ia mengambil sepiring kue dan berjalan mendekati Arif.

“Arif, ini untukmu,” katanya dengan suara lembut.

Arif terkejut. Matanya berkaca-kaca. “Aku boleh ambil?”

“Tentu saja,” jawab Salma sambil tersenyum.

Arif menerima piring itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Salma. Aku belum makan sejak pagi.”

Salma merasa dadanya sesak. Ia baru menyadari betapa beruntungnya ia memiliki keluarga yang lengkap dan makanan yang cukup. Ia kembali ke rumah dan menceritakan hal itu pada ibunya.

“Bu, bisakah kita membantu Arif dan neneknya?” tanya Salma.

Bu Aminah memeluk putrinya. “Tentu, Nak. Besok kita akan mengunjungi mereka.”

Cahaya di Balik Tirai Ramadan

Keesokan harinya, Salma dan ibunya pergi ke rumah Arif dengan membawa beberapa bahan makanan dan pakaian bekas yang masih layak. Rumah Arif kecil dan sederhana, tetapi terasa hangat oleh senyuman neneknya.

“Terima kasih, Bu Aminah. Terima kasih, Salma,” kata nenek Arif dengan suara bergetar.

Baca Juga:  Blueprint Pendidikan Muhammadiyah Digaungkan, Kolaborasi dan Integritas Jadi Kunci

Salma merasa hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan yang tak terkira. Ia memahami bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang berbagi dan merasakan penderitaan orang lain.

Sejak hari itu, Salma dan Arif menjadi sahabat. Mereka sering bermain bersama dan membantu nenek Arif mengerjakan pekerjaan rumah. Ramadan pun terasa lebih bermakna bagi Salma. Ia belajar bahwa cahaya kebaikan bisa menyinari siapa saja, bahkan di balik tirai kesulitan.

Suatu sore, Salma dan Arif duduk di bawah pohon mangga di belakang rumah Salma. Udara terasa sejuk, dan suara azan Magrib mulai berkumandang dari masjid.

“Arif, kau punya cita-cita?” tanya Salma sambil memandang langit yang mulai berwarna jingga.

Arif mengangguk. “Aku ingin jadi dokter, biar bisa mengobati orang-orang sakit, terutama nenekku.”

Salma tersenyum. “Aku yakin kau bisa, Arif. Aku akan selalu mendukungmu.”

Arif menatap Salma dengan mata berbinar. “Terima kasih, Salma. Kau sahabat terbaikku.”

Malam itu, setelah salat Tarawih, Salma duduk di beranda rumahnya. Ia memandang bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit.

“Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada Arif dan neneknya. Jadikanlah Ramadan ini sebagai awal yang baik untuk kehidupan mereka,” bisik Salma dalam hati.

Ia merasa hatinya dipenuhi oleh cahaya kebaikan yang tak terhingga. Salma tahu bahwa Ramadan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang berbagi kasih sayang kepada sesama.

Dan di tengah keheningan malam Ramadan, Salma berdoa agar cahaya itu terus menyala, tidak hanya di bulan ini, tetapi sepanjang hidupnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni