Feature

Teladan, Kunci Bentuk Karakter Anak: Kisah Siang di Orientasi Pandu Tunas Athfal

31
×

Teladan, Kunci Bentuk Karakter Anak: Kisah Siang di Orientasi Pandu Tunas Athfal

Sebarkan artikel ini
Murni Novida Wardany membagikan kiat bentuk karakter anak di Orientasi Pandu Tunas Athfal. Keteladanan kunci utama, dari hal kecil hingga kegiatan perkemahan. Peran orang tua penting!
Murni Novida Wardany saat memberikan materi pada kegiatan Orientasi Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jawa Timur, pada Sabtu, 22 Februari 2025 (Tagar.co/Rahma Yulia)

Murni Novida Wardany membagikan kiat bentuk karakter anak di Orientasi Pandu Tunas Athfal. Keteladanan kunci utama, dari hal kecil hingga kegiatan perkemahan. Peran orang tua penting!

Tagar.co – Sabtu (22/2/2025) siang itu, di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jawa Timur, semangat para peserta Orientasi Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) tak luntur meski waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Murni Novida Wardany, dari Kwartir Wilayah (Kwarwil) Hizbul Wathan (HW) Jawa Timur, tampil membawakan materi keempat tentang program kegiatan peserta didik yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Ruangan itu dipenuhi oleh guru-guru yang antusias menyimak. Murni, dengan gaya bicaranya yang lugas dan penuh semangat, memulai dengan menggarisbawahi pentingnya keteladanan dalam membentuk karakter anak.

Ia merujuk pada pidato iftitah yang disampaikan sebelumnya oleh Koordinator Bidang (Korbid) Majelis Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan Menengah (Paud Dasmen) dan Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik, Ning Munasichah.

Baca Juga:  Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

“Membentuk karakter anak itu seperti yang dikatakan Ibu Ning Munasichah,” ujar Murni, “Apa yang mereka lihat, itulah yang akan mereka lakukan.”

Baca juga: Mengukir Karakter Anak: Peran Guru PAUD yang Tak Terlupakan

Ia lalu mencontohkan pengalaman sehari-hari. “Ketika kita menyuruh anak salat, kita juga harus salat. Kalau kita menyuruh anak mandi, tapi kita sendiri belum mandi, ya anak tidak akan mau beranjak dari HP-nya untuk mandi,” katanya, disambut tawa dan anggukan setuju dari peserta.

Murni menekankan bahwa prinsip keteladanan ini juga berlaku dalam kegiatan kepanduan HW. “Dalam kegiatan Pandu HW, anak-anak belajar, bermain, dan bergembira,” jelasnya. Ia juga mendorong agar setiap sekolah memiliki minimal satu pelatih HW. “Kalau bisa, setiap guru ikut pelatihan Jaya Melati Satu, agar sah menjadi pelatih,” tambahnya, menekankan pentingnya kompetensi dalam mendampingi anak-anak.

Peserta kegiatan Orientasi Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal saat diajak untuk mengikuti gerakan lagu pandu HW di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jawa Timur, pada Sabtu, 22 Februari 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Tips Kegiatan Berkemah

Lebih lanjut, Murni berbagi tips mengenai kegiatan perkemahan HW. Ia menekankan pentingnya pendampingan orang tua, terutama bagi anak-anak yang belum terbiasa jauh dari rumah. “Tapi, orang tua tidak boleh ngriwuki (mengganggu) kegiatan anak,” tegasnya. “Orang tua bisa diajak berkegiatan lain, misalnya parenting.”

Baca Juga:  Amplop Kosong di Hari Lebaran

Pendampingan ini, menurut Murni, bertujuan untuk mengantisipasi kondisi anak yang tidak bisa jauh dari orang tua, sementara kegiatan berkemah membutuhkan waktu lebih lama dari kegiatan sekolah biasa. “Meskipun berjauhan, tapi saat anak melihat ada orang tuanya, dia akan merasa nyaman dan bisa berkegiatan dengan tenang,” jelasnya.

Sebagai penutup, Murni mengajak peserta untuk merapikan hasduk (kacu/setangan leher) yang mereka kenakan. Ia melihat banyak peserta yang hanya menggulungnya asal, seperti syal. Gestur sederhana ini menjadi simbol pentingnya perhatian pada detail dan kerapian, yang juga merupakan bagian dari pembentukan karakter.

Orientasi siang itu bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan karakter dimulai dari hal-hal kecil, dari keteladanan, dan dari kehadiran orang dewasa yang peduli. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Muhammad Nurfatoni