Feature

Lukisan yang Tak Selesai

48
×

Lukisan yang Tak Selesai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Di balik senyum seorang guru, tersembunyi tragedi yang mengguncang sekolah. Kekerasan merenggut nyawa, meninggalkan luka dan pertanyaan yang tak terjawab.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat, Sekretaris Korp Alumni PW IPM/IRM Jawa Tengah

Tagar.co – Langit pagi itu begitu cerah, secerah wajah Pak Danu saat melangkah ke kelas. Ia masih muda, penuh semangat, dan memiliki cinta yang besar pada seni. Bagi Pak Danu, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Setiap pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk menyapa beberapa siswa yang sudah datang, menanyakan kabar mereka, atau sekadar berbagi cerita ringan.

Di rumahnya, Sinta—istri tercintanya—baru saja selesai menyiapkan sarapan. Perutnya yang mulai membesar menandakan empat bulan kehadiran buah hati mereka. “Jangan terlalu lelah, Mas,” ucapnya lembut sambil membetulkan kerah baju suaminya. Pak Danu tersenyum, mengecup keningnya. “Doakan aku, ya,” katanya sebelum berangkat.

Baca juga cerpen Dwi Taufan Hidayat lainnya: Mimpi

Di kelas XI, ia mulai mengajar seperti biasa. Hari ini adalah pelajaran menggambar, sesuatu yang selalu ia nanti-nantikan. Namun, di sudut kelas, Reza, seorang siswa yang dikenal sering membuat ulah, malah tidur di bangkunya, tak peduli dengan pelajaran. Beberapa kali Pak Danu menegur, tapi tak digubris. Pak Danu menghela nafas, ia tahu Reza adalah siswa yang bermasalah di sekolah, sering bolos, dan kurang perhatian dari orang tuanya.

Baca Juga:  Niat yang Terlewat, Puasa Tetap Sah?

Namun, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia mendekati Reza dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apa yang menjadi penyebab Reza bersikap seperti itu. Hingga akhirnya, dengan senyum kecil, ia mencoret pipi Reza dengan cat air, berharap pemuda itu tersadar dan ikut serta dalam kegiatan.

Seketika, kelas yang tenang berubah mencekam. Wajah Reza memerah, amarahnya meledak. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan melayangkan pukulan ke kepala Pak Danu. Tak cukup sekali, ia terus menghantamkan tinjunya. Suara histeris teman-teman sekelas tak mampu menghentikannya. Barulah setelah beberapa siswa melerai, Reza mundur, nafasnya memburu. Reza tidak pernah menyangka bahwa gurunya akan melakukan hal itu, ia merasa dipermalukan di depan teman-temannya. Selama ini, tidak ada guru yang berani melawannya.

Pak Danu tertatih, mencoba tetap berdiri tegak. “Saya baik-baik saja,” katanya pelan, menenangkan siswa lain yang ketakutan. Ia tak ingin suasana semakin buruk. Dengan senyum yang masih tersisa, ia menyelesaikan pelajaran hingga bel pulang berbunyi. Pak Danu tidak ingin memperpanjang masalah ini, ia tahu Reza adalah anak yang sedang mencari perhatian. Ia berharap, Reza bisa belajar dari kejadian ini dan berubah menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

Namun, di rumah, sakit di kepalanya semakin menjadi. “Mas, ada apa? Kok pucat?” Sinta panik melihat suaminya yang kini memegang kepalanya, meringis kesakitan.

“Sakit, Sin…” hanya itu yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya lunglai.

Malam itu, di rumah sakit, dokter hanya bisa menggeleng. “Pendarahan hebat di otaknya… Kami sudah berusaha,” katanya lirih.

Dan pada pukul 21.40, Pak Danu pergi. Pergi untuk selamanya.

Kabar duka itu menyebar cepat. Para guru menangis, siswa menyesal, tapi tidak ada yang lebih hancur selain Sinta. Di hadapannya, sosok yang baru kemarin pagi ia antar pergi dengan doa, kini terbujur kaku. Ia menggenggam tangan suaminya, air matanya jatuh tak terbendung. Sinta tidak bisa menerima kenyataan ini, ia masih ingat dengan jelas wajah suaminya yang penuh cinta dan semangat. Ia tidak tahu bagaimana cara menjalani hidupnya tanpa Pak Danu.

“Bayi kita, Mas… Dia bahkan belum sempat mendengar suara ayahnya…” Sinta mengelus perutnya yang masih rata, ia mengandung seorang bayi yang sangat dinanti-nantikan oleh Pak Danu. Ia berjanji akan membesarkan anaknya dengan baik, dan menceritakan tentang ayahnya yang seorang guru yang luar biasa.

Baca Juga:  Sepatu Tipis Pak Guru Sartono

Baca juga cerpen Dwi Taufan Hidayat lainnya: Tanah Leluhur

Bertahun kemudian, di sebuah pemakaman kecil, seorang bocah berusia lima tahun menggenggam tangan ibunya. “Bu, ini siapa?” tanyanya polos, menatap nisan yang bertuliskan Danu Prasetya, Guru Seni yang Menginspirasi.

Sinta mengelus kepala putranya, menahan tangis yang kembali membuncah.

“Ini ayahmu, Nak. Pahlawan yang tak sempat kau temui… tapi yang akan selalu ada dalam setiap cerita yang Ibu kisahkan padamu…” Sinta tersenyum, ia tahu Pak Danu akan selalu hidup dalam hatinya dan hati putranya. Ia akan selalu mengenang Pak Danu sebagai guru yang penuh cinta, semangat, dan pengorbanan.

Dan di bawah langit senja yang redup, seorang ibu dan anaknya duduk diam di samping pusara. Angin berhembus pelan, membawa doa-doa yang mengiringi kepergian seorang guru yang telah mengajarkan bukan hanya seni, tetapi juga arti pengorbanan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni